Wabup Sumbawa Ajak 99 Tokoh Tana Samawa Rumuskan Nilai Budaya untuk Generasi Masa Depan
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Wakil Bupati (Wabup) Sumbawa, Drs. Mohamad Ansori, mengajak para tokoh Tana Samawa merumuskan kembali nilai-nilai budaya yang relevan untuk menjawab tantangan zaman. Ajakan tersebut ia sampaikan saat menghadiri Silatul Fikri 99 Tokoh Tana Samawa di Pondok Pesantren Modern Internasional Dea Malela, Kecamatan Lenangguar, Jumat, 25 September 2026.
Menurut Ansori, masyarakat Sumbawa tidak cukup hanya mewarisi nilai-nilai budaya dari generasi terdahulu. Masyarakat juga perlu memastikan nilai tersebut tetap hidup dan mampu menjadi pedoman bagi generasi masa depan.
“Hari ini kita tidak sekadar duduk bersama. Kita berkumpul untuk berpikir bersama tentang siapa kita, nilai apa yang kita pegang, dan Sumbawa seperti apa yang ingin kita wariskan,” ujarnya.
Ansori mengatakan Silatul Fikri memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mempererat hubungan antartokoh. Forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dan pandangan tentang arah pembangunan Tana Samawa.
“Kalau silaturahmi mempertemukan hati, maka Silatul Fikri mempertemukan pikiran. Hari ini hati dan pikiran itu kita satukan dalam satu ruang,” katanya.
Nilai Budaya Harus Hidup dalam Kehidupan Sehari-hari
Ansori mengingatkan bahwa berbagai forum intelektual yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir telah melahirkan sejumlah rumusan penting, termasuk Maklumat Olat Utuk dan Piagam Olat Utuk. Kedua dokumen tersebut memuat nilai persaudaraan, kebersamaan, dan pegangan hidup masyarakat Tana Samawa.
Namun, menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi merumuskan nilai. Tantangan yang lebih besar adalah menghidupkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai nilai budaya tidak akan memiliki makna jika masyarakat hanya menyimpannya dalam dokumen tanpa menerapkannya dalam perilaku.
“Nilai yang hanya bagus ditulis dalam dokumen tetapi tidak tampak dalam perilaku belum menjadi budaya kita,” tegasnya.
Ansori kemudian menyoroti falsafah hidup masyarakat Sumbawa, seperti Taket Ko Nene Kangila Boat Lenge. Ia mengajak masyarakat menjadikan nilai tersebut sebagai landasan dalam bertindak, baik saat menjalankan tugas maupun dalam kehidupan sosial.
Menurutnya, nilai takut kepada Tuhan seharusnya mendorong seseorang untuk tetap jujur meski tidak ada yang mengawasi. Begitu pula rasa malu berbuat salah harus tetap hadir ketika seseorang memiliki kesempatan melakukan pelanggaran.
“Pertanyaannya, apakah nilai-nilai itu masih hidup ketika kepentingan mulai berbeda? Di situlah pentingnya Silatul Fikri,” ujarnya.
Pembangunan Tidak Hanya Soal Angka
Dalam kesempatan itu, Ansori juga memaparkan sejumlah capaian pembangunan Kabupaten Sumbawa. Pada 2025, ekonomi Sumbawa tumbuh 4,12 persen. Angka kemiskinan turun menjadi 11,79 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 73,27. Sementara tingkat pengangguran terbuka berada pada angka 2,60 persen.
Meski demikian, Ansori menegaskan pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan statistik semata.
Menurutnya, pemerintah daerah ingin melahirkan masyarakat yang maju secara ekonomi sekaligus kuat dalam karakter dan budaya.
“Kita ingin Sumbawa maju tanpa kehilangan jati diri. Kita ingin anak-anak kita menguasai teknologi dan mampu bersaing secara global, tetapi tetap tahu dari mana mereka berasal,” katanya.
Ansori menambahkan misi Sumbawa Unggul, Maju, dan Sejahtera tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur, investasi, pendidikan, maupun pelayanan publik. Pemerintah juga harus membangun manusia yang berkarakter, berdaya saing, dan memahami akar budayanya.
Dorong Lahirnya Rumusan Nilai Tau Samawa
Ansori berharap Silatul Fikri 99 Tokoh Tana Samawa tidak berhenti sebagai forum diskusi. Ia mendorong para tokoh yang hadir melahirkan rumusan nilai Tau Samawa yang sederhana, mudah dipahami, dan mampu menjadi pedoman bagi generasi mendatang.
Menurutnya, generasi muda membutuhkan panduan yang jelas tentang identitas dan karakter masyarakat Sumbawa di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
“Tidak semua yang lama harus ditinggalkan dan tidak semua yang baru harus diterima. Kita perlu menyaring, memilih, lalu menghidupkan kembali nilai yang masih relevan untuk menghadapi masa depan,” ujarnya.
Ia berharap hasil diskusi tersebut dapat menjadi warisan intelektual yang terus dibaca dan dipahami oleh generasi Sumbawa hingga puluhan tahun mendatang.
“Sebab tugas kita bukan hanya membangun Sumbawa untuk generasi sekarang. Tugas kita adalah memastikan generasi berikutnya tahu apa arti menjadi Tau Samawa,” katanya.
Di akhir sambutannya, Ansori menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Pondok Pesantren Dea Malela yang terus menghadirkan ruang intelektual bagi masyarakat Sumbawa. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga, mengkritisi, dan memperkuat nilai-nilai budaya yang masih relevan sebagai pegangan hidup masyarakat Tana Samawa.
“Kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi,” pungkasnya. (*)




