Sumbawa Barat Defisit 1.400 Ton Ikan, Pasokan Masih Bergantung Luar Daerah
Sumbawa Barat (NTBSatu) — Produksi perikanan lokal di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) belum mampu memenuhi total kebutuhan konsumsi masyarakat yang mencapai lebih dari 6.000 ton per tahun.
Meski nelayan dan pembudidaya lokal sudah mampu menyuplai sebagian besar kebutuhan tersebut, KSB masih mengalami defisit pasokan sekitar 1.400 ton setiap tahunnya.
Kepala Dinas Perikanan KSB, Agus Purnawan S.Pi., M.M., mengungkapkan produksi lokal terus mencatat selisih angka yang lumayan besar. Oleh karena itu, daerah harus mendatangkan pasokan dari luar untuk menutup kekurangan tersebut.
“Kita memiliki gap atau selisih kebutuhan ikan dengan produksi lokal itu ada 1.400 ton dalam satu tahun,” ujar kepada NTBSatu, Jumat, 24 Juli 2026.
Angka kebutuhan konsumsi masyarakat daerah ini sebenarnya mencapai lebih dari 6.000 ton per tahun. Namun, para nelayan serta pembudidaya lokal hanya sanggup menyetor sebagian kecil dari total kebutuhan itu.
Keterbatasan pasokan lokal memicu ketergantungan pasokan dari kawasan lain secara terus-menerus. Pedagang terpaksa mendatangkan pasokan ikan air tawar maupun ikan laut dari Lombok dan Sumbawa.
“Pasokan dari luar itu masuk ke sini untuk mengisi kekurangan, baik untuk jenis ikan air tawar maupun ikan laut,” lanjutnya.
Genjot Budidaya Darat Tekan Defisit
Pemerintah daerah kini mengarahkan alokasi APBD untuk memacu produksi perikanan budidaya di wilayah darat. Langkah ini menjadi strategi utama untuk menekan ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Salah satu fokus pengembangan wilayah menyasar kawasan Dasan Anyar melalui program budidaya nila salin. Petani tambak setempat akan menguji coba komoditas ini pada lahan seluas dua hektar.
“Tahun ini kita coba dua hektar nila salin di Dasan Anyar, kalau nanti berkembang dan bagus bisa kita perluas sampai sepuluh hektar,” jelasnya.
Pengelola program menargetkan perluasan kawasan tambak ini hingga mencapai sepuluh hektar jika uji coba berhasil. Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan kawasan Meraran sebagai pusat produksi perikanan tematik.
Upaya pengembangan potensi darat ini berjalan beriringan dengan program bantuan dari pemerintah pusat. Sinergi program ini membawa harapan besar bagi peningkatan produksi perikanan daerah pada masa mendatang.
“Kita harapkan program Sumbawa Barat Maju Luar Biasa ini bisa memperkecil gap kebutuhan ikan tersebut dan akhir tahun sudah kelihatan hasilnya,” pungkasnya. (*)




