NTBOlahraga

Pengamat Khawatir Kericuhan Porprov Ganggu Citra NTB Jelang PON 2028

Mataram (NTBSatu) – Kericuhan yang mewarnai sejumlah pertandingan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII NTB 2026 mulai memunculkan kekhawatiran baru.

Bukan hanya mencederai sportivitas, insiden tersebut bisa berpotensi mengganggu citra NTB sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

Pengamat olahraga sekaligus mantan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB, Muhammad Nur Said Kasdiono, mengingatkan seluruh elemen olahraga agar tidak membiarkan insiden di Porprov menjadi sorotan negatif publik.

IKLAN

Menurutnya, NTB dan NTT telah resmi menjadi tuan rumah PON 2028. Karena itu, setiap dinamika yang terjadi selama Porprov akan menjadi perhatian masyarakat luas.

“Jangan sampai banyaknya dinamika yang viral selama Porprov menimbulkan keraguan terhadap kita sebagai tuan rumah PON,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 20 Juli 2026.

Kasdiono menegaskan, olahraga sejatinya mengajarkan sportivitas. Menurutnya, nilai itu harus diwujudkan dalam setiap pertandingan, bukan sekadar menjadi slogan atau disampaikan saat seremoni pembukaan.

“Sportivitas harus kita wujudkan dalam tindakan saat pertandingan berlangsung,” kata mantan anggota DPRD NTB periode 2014-2019 tersebut.

Ia menjelaskan, semangat sportivitas selama ini sering menggaung melalui janji atlet dan janji wasit sebelum pertandingan mulai. Menurutnya, tanggung jawab menjaga sportivitas tidak berhenti pada atlet dan perangkat pertandingan.

Ia menilai, suporter juga memiliki kewajiban menjaga ketertiban agar pertandingan berlangsung aman dan bermartabat. “Sportivitas bukan hanya untuk atlet dan wasit, tetapi juga untuk para pendukung,” tegasnya.

Kasdiono berharap, seluruh pihak menjadikan insiden kericuhan sebagai pelajaran bersama. Ia meminta semua elemen olahraga menjaga nama baik NTB menjelang penyelenggaraan PON 2028.

KONI NTB Sesalkan Kericuhan

Sebelumnya, final bola voli putra Porprov XII NTB 2026 antara Lombok Barat dan Dompu berakhir ricuh. Keributan terjadi karena ketidakpuasan salah satu pihak setelah pertandingan usai. Insiden tersebut berkembang menjadi aksi saling dorong hingga lemparan kursi yang menyebabkan korban.

Ketua KONI NTB, Mori Hanafi, juga mengecam tindakan tersebut. Ia menegaskan, rivalitas antarsuporter masih dapat mereka pahami selama tidak berubah menjadi kekerasan.

“Kalau sudah ada pemukulan atau lempar bangku hingga mengenai orang, itu tidak bisa kita benarkan,” ujarnya.

KONI NTB juga meminta panitia cabang olahraga lebih peka membaca potensi konflik sejak awal pertandingan. Selain itu, seluruh kontingen dan suporter mereka minta untuk kedepankan mekanisme penyelesaian sengketa sesuai aturan, bukan melalui tindakan anarkis. (*)

Artikel Terkait