KesehatanLombok Timur

Dinkes Lombok Timur Temukan 982 Kasus TBC, Tracing Digencarkan di 196 Desa

Lombok Timur (NTBSatu) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Lombok Timur menemukan 982 kasus tuberkulosis (TBC) hingga Juni 2026. Jumlah itu baru mencapai sekitar 29 persen dari target penemuan kasus tahun ini yang mencapai 3.373 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan Lombok Timur, Syahid Romdlan mengatakan, capaian tersebut masih berada di bawah target semester pertama.

“Sampai dengan bulan Juni 2026 angka penemuan kasus kita berada di 982 kasus. Target kita tahun ini sekitar 3.373 kasus, sehingga memang belum mencapai 50 persen,” ujarnya, Jumat, 17 Juli 2026.

IKLAN

Menurut Syahid, pihaknya terus mempercepat penemuan kasus, melalui program tracing TBC yang mulai berjalan pekan ini. Langkah tersebut menyasar warga yang memiliki kontak erat maupun tinggal serumah dengan pasien TBC, serta masyarakat yang mengalami gejala penyakit tersebut.

“Kami kumpulkan sekitar 100 orang di setiap desa, terdiri dari kontak erat, kontak serumah penderita TB, dan masyarakat yang bergejala. Selanjutnya kami lakukan pemeriksaan menggunakan rontgen X-ray portable,” katanya.

Apabila hasil pemeriksaan mengarah pada TBC, petugas akan melanjutkan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium sebelum memberikan pengobatan kepada pasien.

Target 196 Desa

Dinas Kesehatan Lombok Timur mengawali tracing TBC di Desa Aikmel pada Rabu, 15 Juli, lalu melanjutkannya di Desa Aikmel Barat sehari kemudian. Hingga akhir Desember 2026, Dinas Kesehatan menargetkan tracing menjangkau seluruh 196 desa di Lombok Timur.

Syahid menegaskan seluruh pasien yang telah terdiagnosis TBC langsung mendapatkan pengobatan.

“Target kami setiap penderita TB wajib mendapatkan pengobatan. Dari 982 kasus yang ditemukan, semuanya sudah memulai pengobatan,” jelasnya.

Ia menjelaskan pengobatan TBC berlangsung selama enam bulan. Selama masa terapi, petugas puskesmas terus memantau kondisi pasien dan melakukan evaluasi setelah dua bulan pertama untuk mengukur perkembangan pengobatan.

Menurut Syahid, tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Lombok Timur tergolong tinggi selama pasien disiplin menjalani terapi.

“Pengalaman kami di Kabupaten Lombok Timur, tingkat keberhasilan pengobatan cukup tinggi. Yang penting pasien kooperatif, rutin, dan rajin minum obat,” katanya.

Syahid menjelaskan, TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar melalui percikan dahak saat penderita batuk. Karena itu, pihaknya terus mengedukasi masyarakat agar menerapkan etika batuk, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), rajin membuka ventilasi rumah, serta mencuci tangan sesuai standar untuk menekan penularan.

“Kalau penderita tidak berobat, penularannya akan semakin luas. Karena itu kami terus mengedukasi masyarakat dan memastikan pasien menjalani pengobatan sampai tuntas,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait