Lombok TimurPendidikan

“Tembolak Beak” Warnai Peresmian Ruang Kelas SDN 4 Lendang Nangka

Lombok Timur (NTBSatu) – Barisan wali murid dengan pakaian bernuansa senada tampak rapi di halaman SD Negeri 4 Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur. Balutan busana putih, dodot, dan sarung khas Lombok berpadu dengan tudung saji merah atau tembolak beak yang menutup dulang berisi aneka hidangan.

Pemandangan itu menjadi bagian dari peresmian ruang kelas baru melalui program Classroom of Hope dari Happy Hearts Indonesia, Senin, 14 September 2026 Namun, bagi masyarakat setempat, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk menghadirkan kembali tradisi lama yang mulai jarang terlihat.

Satu per satu wali murid membawa dulang berisi nasi, sate, daging, ayam, dan beragam sajian lainnya. Mereka berjalan dan berdiri dalam barisan dengan penuh antusias, menghadirkan suasana peresmian yang kental dengan nuansa budaya Lombok.

IKLAN

Lebih dari 150 dulang terkumpul dalam kegiatan tersebut. Wali murid, masyarakat sekitar, hingga alumni ikut berpartisipasi secara sukarela.

Ketua pelaksana peresmian, Ahmad Husni, mengatakan gagasan menghadirkan tembolak beak bermula dari keinginannya menghidupkan kembali tradisi yang mulai jarang digunakan masyarakat.

“Awalnya saya pernah melihat kegiatan seperti ini di desa lain. Saya berpikir, kenapa tidak kita lakukan juga di sini? Selain unik, saya ingin anak-anak mengenal kembali budaya lama kita supaya tidak hilang,” ujarnya, Selasa, 15 September 2026.

IKLAN

Tradisi Lama di Tengah Peresmian

Ahmad menuturkan, masyarakat Lendang Nangka dahulu cukup akrab dengan tembolak beak, terutama saat menggelar perayaan hari besar Islam. Namun, kebiasaan itu perlahan berkurang seiring penggunaan wadah makanan modern, seperti kemasan plastik dan tin wall.

Kondisi tersebut membuat Ahmad ingin menjadikan peresmian ruang kelas baru sebagai momentum untuk memperkenalkan kembali tradisi tersebut. Ia kemudian menyampaikan gagasannya kepada kepala sekolah, para guru, komite, dan wali murid.

Awalnya, pihak sekolah sempat khawatir tidak banyak warga yang bersedia mengikuti kegiatan itu. Namun, setelah pihak sekolah berkomunikasi dengan masyarakat, respons yang muncul justru sangat positif.

“Setelah kami sampaikan tujuannya, masyarakat ternyata antusias. Bahkan mereka sendiri yang menantang. Ada yang bilang, kalau perlu dulangnya saja mereka yang siapkan,” ujarnya.

Masyarakat tidak hanya membawa hidangan, tetapi juga berusaha mencari tembolak beak yang masih tersimpan di rumah-rumah. Sebagian warga bahkan harus mencari dan meminjam perlengkapan tersebut karena tidak semua keluarga masih memilikinya.

Bagi Ahmad, upaya itu menunjukkan bahwa tradisi lama masih memiliki tempat di tengah masyarakat.

“Saya sangat takjub, bahkan kadang terharu melihat wali murid antusias mencari tembolak beak lama yang sudah jarang digunakan,” kata Ahmad.

Dulang dan Semangat Gotong Royong

Hidangan yang terkumpul dalam setiap dulang cukup beragam. Pihak sekolah tidak menentukan jenis makanan yang harus dibawa sehingga setiap keluarga bebas menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Sebagian dulang berisi nasi lengkap dengan sate, daging, ayam, serta berbagai sajian lain yang lazim hadir dalam tradisi masyarakat Lombok.

“Isinya bervariasi, ada nasi, sate, daging, ayam, dan sebagainya. Kami tidak memaksa, tergantung kemampuan masing-masing,” ujarnya.

Jumlah hidangan yang terkumpul bahkan melebihi perkiraan panitia. Beberapa dulang berukuran besar terasa terlalu berat sehingga warga harus membawanya secara berdua.

Ahmad menegaskan, pihak sekolah tidak memaksa siapa pun untuk ikut. Masyarakat berpartisipasi karena merasa memiliki hubungan dengan sekolah dan ingin menyambut para donatur yang telah membantu pembangunan ruang kelas.

“Ini bukan karena paksaan. Masyarakat sendiri yang mau. Kami hanya menyiapkan tempat dan mengoordinasikan kegiatan,” tegasnya.

Antusiasme itu terlihat dari keterlibatan berbagai kalangan. Wali murid, masyarakat sekitar, dan alumni bahu-membahu menyiapkan hidangan serta perlengkapan yang mereka perlukan.

Sambut Donatur dengan Budaya

Selain membawa tembolak beak, para wali murid mengenakan pakaian putih dengan dodot serta sarung khas Lombok. Barisan mereka yang rapi membuat suasana peresmian terasa semakin istimewa.

Pilihan busana tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menghadirkan suasana tradisional dalam kegiatan. Para siswa juga ikut mengenakan perlengkapan yang telah disiapkan untuk mendukung rangkaian acara.

“Persiapannya lumayan lama, sekitar satu bulan lebih. Kami juga menampilkan hasil karya belajar, ekstrakurikuler, dan kegiatan lainnya,” ujarnya.

Dua donatur asal Australia yang hadir dalam peresmian menyambut baik rangkaian acara tersebut. Menurut Ahmad, para donatur merasa senang karena masyarakat memberikan sambutan dengan cara yang khas.

“Mereka sangat gembira dan senang. Mereka mengaku tidak menyangka mendapat sambutan seperti ini. Mudah-mudahan budaya kita juga bisa mereka kenalkan di luar negeri dalam hal-hal yang positif,” katanya.

Bagi Ahmad, peresmian ruang kelas baru bukan hanya tentang hadirnya bangunan untuk menunjang kegiatan belajar. Momen itu juga mempertemukan sekolah, masyarakat, dan donatur melalui tradisi yang hampir terlupakan.

Ia berharap antusiasme warga tidak berhenti pada kegiatan kali ini. Jika masyarakat tetap mendukung, Ahmad ingin tradisi tembolak beak kembali hadir dalam kegiatan sekolah dan perayaan lainnya setiap tahun. (*)

Artikel Terkait