Ekonomi BisnisLombok Timur

Tak Hanya Fokus ke Pesantren, BUMPes Harmoni Thohir Yasin Gerakkan Ekonomi Warga

Lombok Timur (NTBSatu) – Badan Usaha Milik Pesantren (BUMPes) Harmoni Thohir Yasin tidak hanya mengelola kebutuhan internal pesantren. Unit usaha yang mereka jalankan juga menyerap produk masyarakat sekitar dan membuka ruang kerja bagi warga.

Direktur BUMPes Thohir Yasin, Syahrullah mengatakan, pesantren mengembangkan sejumlah unit usaha. Mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, perdagangan hingga jasa.

Menurutnya, aktivitas usaha tersebut memberi dampak langsung kepada masyarakat. Sebagian warga bekerja sebagai tenaga kerja. Sebagian lainnya masuk sebagai mitra usaha.

IKLAN

“Alhamdulillah, dengan adanya beberapa unit yang kita kelola sampai hari ini, termasuk unit perikanan, perkebunan dan pertanian, itu sangat berdampak bagi masyarakat,” kata Syahrullah. Senin, 5 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, pola kemitraan berjalan terutama pada sektor pertanian dan perikanan. Pesantren menyiapkan bibit dan pakan untuk warga yang memiliki kolam. Sementara hasil pertanian warga juga masuk dalam rantai usaha pesantren.

Salah satunya komoditas gabah. Pesantren membeli gabah dari petani sekitar. Setelah mengolahnya menjadi beras, pesantren kembali menjualnya kepada masyarakat.

IKLAN

“Kalau masyarakat punya sawah, nanti ada gabah yang diserap pondok. Pondok beli gabah ke masyarakat. Setelah jadi beras, berasnya juga dibeli masyarakat,” ujarnya.

Hasilkan Rp150 juta per bulan

Syahrullah menyebut Bumpes Thohir Yasin mampu menjual sekitar 20 ton beras setiap bulan. Nilai penjualannya mencapai sekitar Rp150 juta per bulan.

Sementara unit perikanan menghasilkan sekitar 3 hingga 5 kuintal ikan per bulan. Omzetnya berada di kisaran Rp50 juta setiap bulan.

Aktivitas tersebut sekaligus memperkuat perputaran ekonomi di sekitar pesantren. Masyarakat memasok bahan baku, sementara pesantren menjadi salah satu pasar bagi hasil pertanian mereka.

Syahrullah mengatakan, keuntungan usaha pesantren juga kembali untuk kebutuhan pendidikan. Saat ini sekitar 200 anak menerima beasiswa dari hasil usaha tersebut.

“Sebagian juga untuk yang di pondok, hasil dari SHU itu untuk pembiayaan anak-anak yang beasiswa. Kurang lebih 200 anak yang dibiayai dari hasil beasiswa kami,” katanya.

Selain beasiswa, hasil usaha juga menopang operasional dan pembangunan pesantren. Bumpes Thohir Yasin kini mengembangkan 16 unit usaha.

Pengembangan besar mulai berjalan sejak 2021. Sebelumnya, pesantren hanya mengandalkan sektor pertanian dan peternakan.

Rencanakan Hilirisasi

Kini usaha tersebut merambah perdagangan, jasa, laundry, perikanan, peternakan, hingga pengolahan makanan.

“Untuk ke depan, kita sudah mulai membangun hilirisasi. Artinya, dari bahan baku itu kita kelola sampai dengan hilirnya,” kata Syahrullah.

Salah satunya melalui unit Harmoni Rasa yang memproduksi roti dan makanan olahan. Pesantren juga mengolah daging ayam menjadi nugget dan pentol.

Untuk kebutuhan bahan baku, pesantren masih membeli sejumlah produk pabrikan dari luar. Tepung, minyak dan telur menjadi beberapa bahan yang belum mampu mereka produksi sendiri.

Namun, pesantren mulai memenuhi kebutuhan bahan baku lokal secara mandiri. Sayuran, cabai dan daun bawang mereka produksi dari sektor pertanian sendiri.

“Kita akan usahakan menjadi skala besar pada 2027. Sehingga usaha hilirisasi ini menjadi satu unit yang saling berkaitan. Semua kebutuhan di pondok bisa kita siapkan sendiri,” jelas Syahrullah.

Konsep tersebut juga terlihat dari pengelolaan limbah. Sekam hasil penggilingan beras mereka manfaatkan sebagai alas kandang ayam.

Setelah panen, sekam bercampur kotoran ayam mereka fermentasi untuk menjadi pupuk. Pupuk tersebut kemudian masuk kembali ke lahan pertanian dan perkebunan.

Di sektor peternakan, pesantren mengembangkan ayam broiler. Kapasitas kandang mencapai sekitar 600 ekor dalam satu periode. Sebelumnya, pesantren pernah mengisi hingga 1.000 ekor.

“Kalau ayam broiler sudah besar, itu masuk ke RPU. RPU nanti masuk ke MBG. Kita jadi mitra,” kata Syahrullah.

Libatkan Masyarakat Sekitar

Pesantren juga mulai memproduksi makanan olahan sendiri. Salah satunya pentol. Bahkan, Bumpes Thohir Yasin pernah menerima pesanan sekitar 15 ribu biji pentol untuk kebutuhan MBG di wilayah Sakra.

Di sisi lain, unit laundry membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Pesantren melibatkan sekitar 30 warga, terutama ibu-ibu, sebagai tenaga laundry.

Pesantren menyediakan mesin cuci, setrika hingga sabun. Warga kemudian mengerjakan cucian dengan sistem bagi hasil.

Tarif laundry pakaian bebas berada di kisaran Rp4.000 per kilogram. Tarif tersebut lebih rendah dibandingkan harga laundry di luar pesantren yang berada di kisaran Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram.

“Yang kerja laundry itu masyarakat. Ada 30 tenaga laundry kita. Kita kasih mesin, kita kasih setrika, bahkan sabunnya juga kita kasih,” ungkap Syahrullah.

Pesantren juga mengembangkan sistem pembayaran digital melalui kartu santri. Sistem tersebut memungkinkan wali santri memantau belanja anak, saldo, absensi, hafalan hingga kegiatan mereka di pondok.

Syahrullah mengatakan, seluruh pengembangan usaha itu mengarah pada satu tujuan. Pesantren ingin memenuhi kebutuhan internal sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat sekitar.

“Pesantren ini harus menjadi pesantren yang tidak selalu bergantung kepada pihak luar,” tegasnya. (*)

Artikel Terkait