Saat Profesionalisme Bertemu Patriotisme: Studi Perilaku Bela Negara Beckham dan Messi di Piala Dunia 2026
Oleh: Dr. Najamuddin Amy
Piala Dunia 2026 menyajikan drama yang sempurna bagi David Beckham dan Messi. Sama-sama Pernah dan Menjadi Kapten Tim bagi Negaranya masing-masing. Beckham, di satu sisi, sebagai mantan kapten legendaris Inggris, ia harus menyaksikan negaranya tersingkir dari turnamen. Di sisi lain, sebagai pemilik Inter Miami, ia menyaksikan aset terbesarnya, Lionel Messi (Kapten Argentina), menjadi bintang kemenangan Argentina. Reaksi Beckham hancur sebagai patriot, namun tetap memberikan apresiasi profesional kepada Messi. Bukan sekadar ggosip selebritas. Ini adalah studi kasus tentang bagaimana profesionalisme dan nasionalisme dapat berjalan beriringan, sebuah fenomena yang kini menjadi perhatian serius dalam riset perilaku organisasi dan kajian kewarganegaraan.
Bela Negara: Lebih dari Sekadar Militer, Ini Soal Profesi Membanggakan Negara
Selama ini, banyak yang menganggap “bela negara” adalah domain militer semata. Padahal, ancaman terhadap kedaulatan bangsa saat ini bersifat multidimensi: ideologi, ekonomi, pangan, energi, sosial budaya, hingga disinformasi digital. Kementerian Pertahanan RI sendiri menegaskan bahwa setiap warga negara dapat mewujudkan bela negara melalui pengabdian sesuai profesinya masing-masing.
Dari Beckham kita belajar. Dia membuktikan ketika Inggris kalah, ia tidak “cabut” dari identitasnya sebagai patriot. Ia tetap hadir di tribun dengan setelan jas, menyaksikan dengan hati yang hancur. Sebuah bentuk loyalitas emosional yang oleh peneliti disebut sebagai emotional patriotism, di mana ikatan darah dan cinta tanah air tetap kokoh meski menghadapi kekalahan. Ini adalah bentuk bela negara yang tidak buta, tetapi sadar dan terukur. Dan betapa Messi dalam 3 pertandingan terakhir harus bangkit dan berjuang membangunkan kesadaran timnya. Bahwa negara membutuhkannya. Messi bangkit dan berjuang setiap timnya terpuruk dan tertinggal. Kecintaannya pada Negara Argentina terpancar dari wajah dan jatuh bangunnya di lapangan.
Profesionalisme dan Patriotisme bukan kisah fiksi namun lebih dari Temuan Riset Global
Penelitian internasional menunjukkan bahwa patriotisme memiliki efek positif yang kuat terhadap kinerja profesional. Sebuah studi terhadap 541 pegawai kesehatan publik di China menemukan bahwa patriotisme berperan sebagai mediator yang signifikan dalam menjaga kinerja karyawan, terutama di masa krisis. Dengan kata lain, cinta pada negara bukanlah penghalang profesionalisme namun justru menjadi bahan bakarnya.
Di Polandia, penelitian tentang pemain sepak bola naturalisasi mengungkap fenomena transactionality dan emotional patriotism : atlet dapat memiliki ikatan transaksional dengan tim nasional, namun tetap menunjukkan pengabdian emosional yang tulus. Beckham adalah kebalikannya : ikatan emosionalnya dengan Inggris tidak pernah transaksional, bahkan ketika karier klubnya membawanya ke seluruh dunia.
Organ Citizenship Behavior: Saat Karyawan Bekerja Melampaui Tugas
Dalam psikologi organisasi, ada istilah Organizational Citizenship Behavior (OCB) yaitu perilaku sukarela karyawan yang melampaui deskripsi tugas formal, demi kebaikan organisasi. Ada karyawan yang workholic memberikan semua kapasitas dan waktunya bahkan lebih banyak dalam pelayanan. Di layanan Publik pekerjaan sektor kesehatan, pendididikan, kebencanaan, keprotokolan dan kehumasan, pendapatan dan lainnya pun terkadang melampaui waktu dan rincian tugasnya. Dalam kasus Beckham, ia menerapkan versi nasional dari ini. Ketika ia membela istrinya Victoria di media sosial dari kritik netizen yang menganggapnya “kurang ekspresif”, ia tidak hanya membela keluarga, ia menjaga moral kolektif pendukung Inggris di tengah kekecewaan. Ini adalah bentuk civic duty yang otentik. Bahwa mereka telah banyak menunjukkan dedikasi profesi pada negara. Maka tidaklah heran jikalau Raja Inggris menganugerahkan Gelar Bangsawan Inggris Sir kepadanya.
Pelajaran untuk Kita: Heroik Kecil Itu Berat
Lalu apa hubungannya dengan kita, warga biasa?
Beckham mengajarkan bahwa patriotisme bukan tentang siapa yang paling keras meneriakkan yel-yel, tetapi tentang siapa yang tetap profesional di posisinya masing-masing, bahkan ketika hati hancur. Messi bahkan berkali-berkali membela negaranya. Bahkan saat masih berusia belia hingga kini di penghujung karir sepak bolanya. Terungkap kisah nyata Messi rela mengeluarkan uang pribadinya untuk klub nasional dan rekan setimnya. Keduanya hingga hari ini mewujudkan bela negara dalam peran profesionalitas yang memberi kesempatan dan kebahagiaan bagi orang lain.
Mari kita renungkan pada beberapa contoh profesi, misalnya : Guru dan dosen yang mengajar dengan sungguh-sungguh, mencurahkan hati, pikiran dan ilmunya, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Itu adalah bentuk bela negara. ASN yang bekerja transparan dan jujur bahkan melebihi waktu dan tugasnya, membantu menutup celah penyalahgunaan aset negara, tidak menerima gratifikasi apalagi korupsi adalah bentuk bela negara. Tenaga kesehatan yang bertahan di garda terdepan saat pandemi, bahkan para bidan di desa dan kampung membantu proses persalinan generasi baru adalah bentuk bela negara. Para netizen, konten kreator, Selebram, Youtuber dan Facebooker, yang mampu menahan diri dari menyebar hoax dan ujaran kebencian di medsos, selalu saring sebelum sharing, menebar kebaikan dengan bijak dan sehat bermedia sosial. Itu juga wujud bela negara di era digitalisasi.
Kita sering menuntut negara sempurna. Tugas negara sedang dijalankan sesuai dengan amanat UUD 1945. Terkadang kita selalu menuntut kepada negara, misalnya jalan yang mulus, harga murah, layanan cepat. Namun, untuk bentuk heroik kecil seperti datang tepat waktu, tidak membuang sampah sembarangan, ikut menjaga ketertiban umum, bekerja dengan integritas dan tidak korupsi, kita malah ogah, males, bahkan menghina dan menghujat bangsa sendiri. Saat negara mengajak kerja nyata kita seolah tidak mau perduli dan hendak pergi. Menonton piala dunia ini mengajarkan kita berapa cintanya para pendukung sepak bola pada negaranya. Sama seperti kita rasakan saat Garuda Timnas Indonesia bertanding. Saat lagu Kebangsaan Indonesia berkumandang maka kewarganegaraan kita terasa dan tertumpah. Sudah selayaknya itu berwujud nyata dalam kontribusi bela negara kita saat menjalankan profesi masing-masing.
Bukan Apa yang Negara Berikan, Tapi Apa yang Engkau Berikan
Beckham bisa saja marah pada Messi, atau pada Argentina, atau pada nasib. Tapi ia tidak lakukan jauh dengan kesadarannya yang kuat. Ia memilih untuk menghormati profesionalisme di atas kekecewaan pribadi, sembari tetap menjaga patriotisme di dalam hatinya. Ia paham betul mencintai negara tidak berarti membenci yang lain. Dan bekerja profesional tidak berarti mengkhianati identitas. Bahkan dalam profesinya sebagai Pengusaha dan Pemilik Klub Bola, ia tidak malu kembali ke alam dan hadir bertani dalam kesehariannya.
Pesan John F. Kennedy itu ternyata masih relevan “Tanyakanlah apa yang bisa kau berikan untuk negaramu, bukan apa yang negara berikan untukmu.” Di tengah krisis energi dan pangan melanda dunia, di tengah badai perang bergejolak. Kita diajak oleh negara untuk peduli dan bela negara namun banyak dari warga negara memilih berseberangan dengan negara atas alasan demokrasi, HAM dan berbagai kepentingan lainnya.
Pertanyaannya hari ini adalah Sudahkah profesimu hari ini menjadi wujud bela negara? Atau kau masih sibuk menuntut, tanpa pernah memberi?
Karena jikalau Beckham yang notabene punya hubungan emosional dan bisnis dengan Messi (musuh di lapangan) bisa tetap tegar membela negaranya, masa kita yang hanya diminta bekerja dengan baik, jujur dan tidak menyebar hoax dan ujaran kebencian, merasa terlalu berat melakukannya?.
Waktunya berhenti untuk banyak alasan dan tidak mau berkontribusi nyata. Saatnya bekerja nyata bukan sekedar bicara. Bukankah satu keteladanan lebih berarti dari sejuta kata-kata. Ayo, Bela negara, dengan caramu sendiri. (*)




