Bidik Pasar PT Amman Mineral, Sumbawa Barat Pacu Klaster Peternakan
Sumbawa Barat (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa Barat mempercepat pengembangan klaster peternakan guna memenuhi kebutuhan daging lokal bagi pasar PT Amman Mineral. Program ini menerapkan sistem penggemukan dan pembibitan sapi berbasis kelompok masyarakat atau plasma.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa Barat, Jamilatun, S.Pt., M.M.Inov., memberikan dukungan penuh bagi suksesnya program awal. Bahkan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) membiayai seluruh fasilitas penting peternak secara mandiri.
“Tahun ini pengerjaan kandang-kandang sudah mulai berjalan. Penanaman Hijauan Makanan Ternak (HMT) sebagai sumber pakan juga sudah terlaksana oleh kelompok penerima manfaat,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 8 Juli 2026.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah daerah merangkul 17 kelompok tani ternak yang tersebar pada berbagai wilayah strategis. Dari jumlah itu, sembilan kelompok mengelola usaha penggemukan dan delapan kelompok fokus pada sektor pembibitan.
Selanjutnya, Dinas Pertanian menerapkan pola pendampingan yang berbeda sesuai tujuan utama dari masing-masing kelompok. Langkah taktis ini bertujuan mengoptimalkan produktivitas ternak secara berkala dan berkelanjutan.
Sebagai contoh, kelompok penggemukan memelihara sapi jantan sampai mencapai berat target hingga 200 kilogram. Sementara itu, kelompok pembibitan memelihara sapi betina siap bunting beserta pejantan unggul untuk memproduksi anakan berkualitas.
“Skema pembibitan menghasilkan anakan yang nantinya akan dibeli kembali oleh Perusahaan Daerah (Perusda),” ujarnya.
Selain itu, program unggulan ini mengintegrasikan proses budidaya secara menyeluruh dari hulu sampai hilir. Sebab, peternak menyerahkan sapi plasma seberat 200 kilogram kepada mitra kerja untuk proses pembesaran lanjutan.
Kemudian, mitra kerja menggemukkan sapi tersebut hingga menyentuh bobot optimal sekitar 300 kilogram. Berikutnya, proses akhir mengalir menuju hilirisasi daging berkualitas untuk konsumsi masyarakat secara luas.
“Setelah mencapai berat 300 kilogram, hilirisasinya dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) Ruminansia Petrok untuk dipotong, dan prioritas dagingnya memenuhi kebutuhan pasar lokal PT Amman Mineral,” tambahnya.
Peternak Dibina hingga Mandiri
Di sisi lain, kelompok ternak mengadopsi sistem swakelola untuk membangun kandang kelompok dan gudang pakan secara mandiri. Model partisipatif ini memperkuat rasa memiliki peternak, seperti pada Kelompok Batu Dulang saat ini.
Dinas Pertanian menugaskan tiga fasilitator ahli pada setiap kecamatan untuk memantau kesehatan dan pakan. Alhasil, kolaborasi intensif bersama penyuluh lapangan mengawal ketat perkembangan bobot harian sapi secara rutin.
“Fasilitator bersama penyuluh lapangan dan koordinator kecamatan akan mendampingi peternak setiap hari. Bahkan penimbangan berat badan sapi terus dipantau untuk melihat progres perkembangannya,” pungkasnya.
Pendampingan harian yang ketat membentuk karakter peternak yang mandiri serta berdaya saing tinggi. Dengan demikian, siklus perdana yang sukses akan menghasilkan modal mandiri untuk pengembangan usaha peternak secara berkelanjutan. (*)




