Opini

Membangun Manusia, Menguatkan Budaya Kerja, Menyongsong NTB Makmur Mendunia

Oleh: Muhamad Ihwan – Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat

Di sepanjang sejarah, tidak ada peradaban besar yang lahir hanya karena kekayaan alamnya. Bangsa-bangsa yang mampu bertahan dan memimpin perubahan adalah bangsa yang berhasil membangun manusia, memperkuat institusinya, serta menjadikan kebudayaan sebagai fondasi kehidupan bersama. Alam menyediakan potensi, tetapi manusialah yang menentukan apakah potensi itu akan menjadi kemakmuran atau sekadar menjadi cerita tentang kesempatan yang terlewatkan.

Di tengah perubahan dunia yang berlangsung begitu cepat, pelajaran itu menjadi semakin relevan bagi Nusa Tenggara Barat. Revolusi digital, kecerdasan artifisial, ekonomi hijau, dan pergeseran rantai pasok global sedang mengubah cara manusia bekerja dan cara daerah bersaing. Keunggulan tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya alam terbesar, tetapi oleh siapa yang memiliki sumber daya manusia yang paling adaptif, kreatif, berintegritas, dan mampu belajar sepanjang hayat.

IKLAN

Dalam konteks itulah visi NTB Makmur Mendunia memperoleh makna yang jauh lebih dalam. Visi tersebut bukan semata-mata berbicara tentang meningkatnya investasi, tumbuhnya industri, atau bertambahnya infrastruktur. Lebih dari itu, visi tersebut merupakan ikhtiar membangun sebuah peradaban baru di Nusa Tenggara Barat, peradaban yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan, kebudayaan sebagai roh kehidupan, dan tata kelola pemerintahan sebagai penggerak perubahan.

Karena itu, reformasi birokrasi perlu dipahami bukan sekadar sebagai penataan organisasi pemerintahan. Reformasi birokrasi adalah upaya membangun kepercayaan. Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, kepercayaan dunia usaha untuk berinvestasi, dan kepercayaan generasi muda bahwa masa depan dapat dibangun di tanah kelahirannya sendiri.

Tidak ada investasi yang tumbuh di atas ketidakpastian. Tidak ada industri yang berkembang tanpa tata kelola yang baik. Dan tidak ada lapangan kerja yang berkelanjutan tanpa ekosistem pemerintahan yang profesional, cepat, transparan, dan akuntabel. Dengan demikian, pembenahan birokrasi bukanlah tujuan akhir, melainkan fondasi agar seluruh sektor pembangunan dapat bergerak lebih cepat dan lebih berkualitas.

IKLAN

Namun fondasi yang kokoh saja belum cukup. Rumah yang megah tetap membutuhkan penghuni yang mampu merawat dan mengembangkannya. Demikian pula pembangunan daerah. Infrastruktur, kawasan industri, investasi, maupun teknologi baru hanya akan memberikan manfaat optimal apabila masyarakatnya telah siap menjadi pelaku utama.

Di sinilah Nusa Tenggara Barat sedang memasuki momentum yang sangat menentukan.

Jumlah penduduk usia produktif terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa angkatan kerja NTB telah mencapai lebih dari tiga juta orang, dengan tren pekerja formal yang terus membaik. Bonus demografi ini merupakan jendela sejarah yang tidak datang dua kali. Ia dapat menjadi lompatan besar menuju kemakmuran, tetapi juga dapat berubah menjadi tantangan apabila kualitas sumber daya manusianya tidak berkembang secepat perubahan ekonomi.

Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya menghadirkan peluang. Pembangunan juga harus memastikan bahwa masyarakat NTB memiliki kemampuan untuk mengisi peluang tersebut.

Di sinilah saya memandang bahwa pembangunan ekonomi sesungguhnya adalah juga pembangunan kebudayaan.

Mengapa demikian?

Karena dunia kerja masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki ijazah atau sertifikat. Dunia membutuhkan manusia yang mampu bekerja sama, menghargai waktu, memiliki integritas, cepat belajar, terbuka terhadap perubahan, kreatif, mampu berkomunikasi, serta sanggup memecahkan persoalan. Seluruh kualitas itu tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh melalui proses panjang yang disebut kebudayaan.

Budaya kerja pada hakikatnya adalah kebudayaan.

Etos berkarya adalah kebudayaan.

Integritas adalah kebudayaan.

Kemampuan berkolaborasi adalah kebudayaan.

Semangat belajar sepanjang hayat juga merupakan kebudayaan.

Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang pemajuan kebudayaan, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang pembangunan manusia. Kita sedang membangun karakter yang kelak menentukan daya saing daerah.

Nusa Tenggara Barat beruntung memiliki warisan nilai yang luar biasa.

Masyarakat Sasak mengenal falsafah Patut Patuh Patju, yang mengajarkan kepantasan dalam bersikap, kepatuhan pada nilai-nilai kebaikan, serta semangat untuk terus maju melalui kerja keras dan ikhtiar. Dalam bahasa pembangunan modern, nilai tersebut dapat diterjemahkan sebagai profesionalisme, disiplin, kepatuhan terhadap standar, dan keberanian untuk terus meningkatkan kualitas diri.

Masyarakat Samawa mewariskan falsafah Sabalong Samalewa, sebuah pandangan hidup yang menempatkan keseimbangan, kebersamaan, dan kemanfaatan sebagai dasar kehidupan. Nilai ini mengajarkan bahwa kemajuan tidak boleh meninggalkan harmoni antara manusia, alam, dan kehidupan sosial. Ketika dunia kini berbicara tentang pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau, masyarakat Samawa sesungguhnya telah lama memiliki kearifan yang sejalan dengan arah perkembangan dunia.

Sementara itu, masyarakat Mbojo memegang teguh falsafah Maja Labo Dahu, rasa malu untuk berbuat salah dan keberanian menjunjung kebenaran, yang dipadukan dengan Nggahi Rawi Pahu, keselarasan antara ucapan dan tindakan. Nilai-nilai tersebut membentuk integritas, tanggung jawab, dan konsistensi karakter yang menjadi fondasi bagi kepemimpinan, dunia usaha, maupun pelayanan publik.

Keempat falsafah itu lahir dari ruang budaya yang berbeda, tetapi bertemu pada tujuan yang sama: membentuk manusia yang berkarakter, dapat dipercaya, menghormati sesama, bekerja keras, dan selalu berusaha memberikan manfaat bagi lingkungannya.

Inilah modal sosial terbesar yang dimiliki NTB.

Jika nilai-nilai tersebut mampu diterjemahkan menjadi budaya kerja modern, maka masyarakat NTB tidak hanya memiliki identitas budaya yang kuat, tetapi juga memiliki keunggulan kompetitif yang akan sulit ditiru oleh daerah lain.

Di era ketika teknologi dapat dibeli, mesin dapat didatangkan, dan modal dapat berpindah dengan cepat, justru karakter manusialah yang menjadi pembeda utama. Di sinilah kebudayaan tidak lagi berdiri di pinggir pembangunan, tetapi berada di jantungnya. (*)

Artikel Terkait