Stok Minyak Goreng Premium Masih Kosong di Alfamart KSB, Jalur Distribusi Pusat Jadi Kendala
Sumbawa Barat (NTBSatu) – Meski stok minyak goreng premium di sejumlah grosir lokal Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mulai pulih, pemandangan berbeda justru terlihat di sektor ritel modern. Hingga saat ini, rak-rak minyak goreng di gerai Alfamart terpantau masih kosong. Hal tersebut memicu keluhan bagi warga yang terbiasa berbelanja di ritel nasional tersebut.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Koperindag) KSB, Suryaman menjelaskan, kekosongan di ritel modern terjadi karena perbedaan jalur distribusi dengan grosir lokal. Jika grosir lokal mengambil stok dari agen di Sumbawa. Sementara itu, ritel modern sepenuhnya bergantung pada jadwal pengiriman mandiri dari pusat yang berada di luar pulau.
Hal ini dipertegas oleh salah satu pegawai Alfamart di Taliwang, Dina yang mengakui, adanya hambatan pengiriman dari gudang utama. “Iya stok minyak di semua toko masih kosong. Terakhir masuk empat hari yang lalu, karena distribusinya langsung dari Lombok,” ujarnya kepada NTBSatu, Sabtu, 11 April 2026.
Suryaman menambahkan, pemerintah daerah memiliki keterbatasan dalam memantau stok di ritel modern karena mereka menggunakan sistem Distribution Center (DC) yang terpusat. Kondisi ini membuat pemulihan stok di Alfamart tidak bisa secepat grosir lokal, yang koordinasinya lebih langsung di tingkat regional.
Di sisi lain, titik terang mulai terlihat di grosir besar seperti UD Delta dan UD Marhaba, di mana stok minyak premium sudah mulai mendarat meski jumlahnya masih terbatas. Masuknya pasokan ini merupakan hasil koordinasi intensif pemerintah daerah, untuk memutus kendala logistik yang sempat terjadi di distributor utama Sumbawa.
“Info dari beberapa grosir memang pasokan dari agen yang belum masuk kemarin. Namun, kami upayakan pasokan tersebut kini didistribusikan kembali secara bertahap agar kebutuhan warga segera terpenuhi,” ungkap Suryaman.
Kualitas dan Kesehatan Jadi Pertimbangan
Normalnya pasokan minyak premium sangat masyarakat KSB nantikan, mengingat kuatnya preferensi terhadap produk nonsubsidi. Alasan kualitas dan kesehatan menjadi pertimbangan utama mengapa para ibu rumah tangga di KSB enggan beralih sepenuhnya ke minyak goreng subsidi, seperti MinyaKita.
Warga mengeluhkan minyak subsidi cenderung cepat menghitam dan mengkhawatirkan memicu gangguan kesehatan seperti sakit tenggorokan. “Banyak ibu-ibu mengeluh kualitas minyak subsidi, sehingga mereka tetap memburu merk premium seperti Bimoli yang dinilai lebih awet,” tambah Suryaman.
Guna memastikan distribusi di grosir yang mulai terisi berjalan tertib, Dinas Koperindag KSB tetap memberlakukan pengawasan ketat bersama Tim Saber. Petugas di lapangan memastikan tidak ada aksi borong, dengan memberlakukan pembatasan pembelian maksimal dua liter per orang bagi setiap konsumen.
Dengan mulai stabilnya pasokan di grosir utama, pemerintah optimis ketersediaan minyak premium akan segera merata hingga ke kios-kios kecil. Dinas Koperindag KSB berkomitmen untuk terus mengawal kelancaran distribusi, sekaligus memantau kapan jalur distribusi ritel modern kembali normal. (Andini)



