NTB Incar Pasar Eropa-Amerika Lewat Event Bali Beyond Travel Fair
Mataram (NTBSatu) – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, telah merilis Kalender Event Pariwisata NTB tahun 2026. Terdiri dari 69 event. Satu di antaranya, event Bali Beyond Travel Fair.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Provinsi NTB, Ahmad Nur Aulia menyampaikan, event Bali Beyond Travel Fair akan berlangsung pada Mei hingga Juni 2026.
“NTB bersiap mengambil panggung di Bali Beyond Travel Fair (BBTF), salah satu bursa perjalanan terbesar di Indonesia. NTB akan hadir bersama Bali dan NTT untuk mengincar pasar premium dari Amerika dan Eropa,” kata Aulia, Senin, 30 Maret 2026.
Meski situasi geopolitik global sempat memberikan ketidakpastian terhadap jadwal penerbangan, Aulia tetap optimis dengan menyiapkan skema Familiarization Trip (Famtrip) bertajuk “Lombok Sumbawa” bagi para pembeli (buyers) internasional.
“Ini ikhtiar kita agar nantinya kita bisa menghadirkan Lombok Sumbawa Travel Fair yang terintegrasi. Satu wadah, tetapi besar dan booming,” jelasnya.
Gaungkan Elaborasi Lintas Sektor
Di samping itu, ia secara umum menegaskan, Kalender Event Pariwisata NTB tahun 2026 bukan sekadar deretan agenda milik pemerintah provinsi.
Ia membawa visi besar tentang elaborasi lintas sektor, di mana desa, komunitas hingga kreator swasta menjadi motor utama penggerak atraksi di daerah.
Aulia menyoroti fenomena di mana banyak desa kini memiliki kalender event mandiri, seperti tradisi Presean. Namun, ia menyayangkan potensi besar tersebut seringkali tidak tersampaikan ke telinga agen perjalanan (travel agent) atau wisatawan akibat minimnya eksposur di media sosial.
“Tujuannya sama, goal-nya sama, yaitu bagaimana kita bisa saling memuat. Kita ingin setiap minggu destinasi utama kita punya atraksi masing-masing. Ini jawaban untuk meningkatkan length of stay (durasi menginap) wisatawan agar lebih panjang di NTB,” ujar Aulia.
Ia menekankan, kalender publik ini adalah milik bersama, mulai dari inisiatif komunitas, event organizer, hingga pemerintah desa. Tugas provinsi, menurutnya, adalah mengayomi dan memastikan sinkronisasi promosi agar tidak ada atraksi menarik yang terlewatkan oleh pasar.
Dalam kacamatanya, keberhasilan sebuah acara tidak hanya diukur dari kemeriahan sesaat. Ia memperkenalkan istilah Event Level Dewa sebagai standar tertinggi pariwisata.
“Indikator event berkualitas itu jika sudah bisa menghadirkan repeater guest (pengunjung berulang). Itulah level dewa dari sebuah event,” tegasnya.
Salah satu contoh yang disoroti adalah MotoGP Mandalika. Aulia mengungkapkan, diskusi dengan pihak terkait kini dilakukan jauh lebih awal. Belajar dari pengalaman, wisatawan mancanegara tidak bisa “dibelokkan” secara mendadak.
“Paling lambat enam bulan sebelum acara, event harus sudah masuk dalam paket perjalanan mereka. Wisatawan itu punya planning. Kalau kita baru promosi satu atau dua bulan sebelum hari-H, kita akan kehilangan momentum,” tambahnya.
Mendorong Kemandirian dan Ekosistem Bisnis
Terkait dukungan anggaran, Aulia memilih pendekatan yang lebih strategis daripada sekadar memberikan bantuan dana langsung. Ia menekankan, pentingnya membangun ekosistem bisnis agar sebuah event bisa berdiri tegak secara mandiri.
Ia memberikan bocoran mengenai pola kemitraan yang sedang dikembangkan, yakni pemberian insentif non-tunai bagi penyelenggara yang berprestasi.
“Harapannya event itu mandiri. Saya sering berdiskusi dengan kolega di daerah lain, pola kita harus bergeser. Kita bantu lewat insentif, seperti kemudahan pajak atau retribusi, sehingga pihak swasta bisa lebih leading di depan,” tutupnya. (*)



