Pariwisata

Targetkan 2,5 Juta Wisatawan 2026, Pemprov NTB Andalkan Event dan Atraksi

Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB menargetkan, angka kunjungan wisatawan pada tahun 2026 sebanyak 2,5 juta orang. Angka ini sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, Lalu Ahmad Nur Aulia menyampaikan, dalam mendongkrak angka kunjungan wisatawan, NTB akan mengoptimalkan pelaksanaan sejumlah event dan atraksi.

IKLAN

“Makanya tahun ini, setiap minggu harus ada atraksi masing-masing di setiap event. Ini bisa menjawab dan menghadirkan length of stay dari wisatawan yang lebih panjang,” jelas Aulia, Rabu, 1 April 2026.

Sebelumnya, NTB sudah meluncurkan Calender of Event (CoE) tahun 2026. Totalnya ada 69 event yang akan diselenggarakan pada tahun ini.

Selain meluncurkan CoE, Pemprov NTB sendiri telah menyusun konsep quality tourism. Di mana tidak hanya fokus pada kuantitas wisatawan, tetapi menargetkan kualitas.

“Sejala dengan quality tourism, CoE ini adalah bagian dari itu. Tidak hanya berbicara pada angka, tetapi pada kualitas,” katanya.

Dari 69 event tersebut, terdapat empat event yang masuk Kharisma Event Nusantara (KEN) tahun 2026. Ia berharap, sejumlah event ini mampu mendongkrak angka kunjungan wisatawan dan perputaran ekonomi di daerah.

“Dengan banyak event ini ada ikhtiar kita untuk bagaimana mengelola destinasi bagaimana untuk peningkatan kapasitas SDM, khususnya di bidang pariwisata. Tentunya kita mengharapkan pariwisata berkualitas yang memberikan dampak bagi daerah. Salah satunya angka kunjungan kita bisa terus menemukan kualitas,” harapnya.

Gaungkan Kolaborasi Lintas Sektor

Ia menegaskan, Kalender Event Pariwisata NTB tahun 2026 bukan sekadar deretan agenda milik pemerintah provinsi. Ia membawa visi besar tentang kolaborasi lintas sektor, di mana desa, komunitas, hingga kreator swasta menjadi motor utama penggerak atraksi di daerah.

Ia menekankan, kalender publik ini adalah milik bersama, mulai dari inisiatif komunitas, event organizer hingga pemerintah desa. Tugas provinsi, menurutnya, adalah mengayomi dan memastikan sinkronisasi promosi agar tidak ada atraksi menarik yang terlewatkan oleh pasar.

Dalam kacamatanya, keberhasilan sebuah acara tidak hanya diukur dari kemeriahan sesaat. Ia memperkenalkan istilah Event Level Dewa sebagai standar tertinggi pariwisata.

“Indikator event berkualitas itu jika sudah bisa menghadirkan repeater guest (pengunjung berulang). Itulah level dewa dari sebuah event,” tegasnya.

Salah satu contoh yang disoroti adalah MotoGP Mandalika. Aulia mengungkapkan, diskusi dengan pihak terkait kini pihaknya lakukan jauh lebih awal. Belajar dari pengalaman, wisatawan mancanegara tidak bisa “dibelokkan” secara mendadak.

“Paling lambat enam bulan sebelum acara, event harus sudah masuk dalam paket perjalanan mereka. Wisatawan itu punya planning (rencana, red). Kalau kita baru promosi satu atau dua bulan sebelum hari-H, kita akan kehilangan momentum,” tambahnya.

Di samping itu, Aulia juga menjawab persoalan penerbangan langsung. Pemprov NTB tengah menjajaki penerbahan langsung baik dari Australia dan negara-negara Timur Tengah. Hal ini demi meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke NTB.

“Masih menjadi agenda yang dibahas, Pak Gubernur masih menjajaki penerbangan langsung dari beberapa negara,” paparnya.

Dengan CoE, ia berharap asosiasi pariwisata dapat memanfaatkan momen tersebut untuk membuat paket wisata karena persoalan lama tinggal masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

“Salah satu faktor rendahnya length of stay karena minimnya event dan atraksi pariwisata, dengan CoE ini kita berharap para pelaku pariwisata dapat membuat paket tour agar wisatawan dapat lebih lama lagi tinggal karena menonton atraksi ini,” tutupnya. (*)

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button