Kunjungan Wisatawan ke NTB Terganggu Dampak Konflik Timur Tengah
Mataram (NTBSatu) – Konflik Timur Tengah yang belum usai, memberikan dampak kepada sektor pariwisata di NTB. Misalnya, kunjungan wisatawan tertahan atau melakukan penundaan kedatangan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, Lalu Ahmad Nur Aulia menyampaikan, data dari beberapa travel agent, ada sejumlah wisatawan yang suspend atau menunda keberangkatannya imbas dinamika geopolitik di Timur Tengah. Terutama, yang melalui transit jalur Timur Tengah.
“Ya kami dapat informasi dari beberapa travel agent sehubungan dengan dinamika geopolitik ini ada beberapa yang suspend, khususnya yang melalui transit jalur Timur Tengah itu,” kata Aulia, Rabu, 29 April 2026.
Ditanya jumlah wisatawan yang membatalkan penerbangannya ke NTB, Aulia mengaku belum mendapat laporan resminya. Namun ia tak menampik, adanya fenomena penundaan penerbangan ini.
“Tetapi mengenai jumlahnya saya tidak begitu hafal, karena memang itu di masing-masing travel agent. Seperti itu fenomena yang terjadi,” jelasnya.
Fenomena ini, lanjut Aulia, belum memberikan dampak kepada pelaku-pelaku pariwisata. Termasuk, yang berkegiatan di sekitar tempat wisata.
“Belum terlihat dampaknya sejauh ini. Masih belum berdampak kalau untuk saat ini. Ini musimnya lagi low season juga sekarang,” ungkapnya.
Harga Tiket Pesawat Naik
Konflik Timur Tengah juga menyebabkan kenaikan harga avtur. Imbasnya, terjadi kenaikan harga tiket pesawat dari dan menuju Lombok.
Kenaikan harga tiket pesawat, kata Aulia, belum memberikan dampak signifikan terhadap kunjungan wisatawan ke NTB. Termasuk, pada okupansi hotel. “Mudah-mudahan tiket bisa lebih bersahabat bagi para wisatawan,” ujarnya.
Menghadapi kemungkinan situasi berkepanjangan, ia mengaku terus memantau perkembangan. Terutama, menjelang memasuki musim kunjungan tinggi atau high season yang dinilai akan menjadi indikator nyata kondisi sektor pariwisata.
Untuk sektor perhotelan, lanjutnya, hingga saat ini belum ada laporan dampak signifikan. Kondisi saat ini masih berada pada low season. “Sehingga dampak terhadap okupansi hotel diperkirakan baru akan lebih terlihat saat memasuki high season,” katanya.
Terhadap situasi ini, Pemprov NTB tetap optimistis target kunjungan 2,5 juta wisatawan pada 2026 dapat tercapai. “Tidak ada perubahan, target tetap segitu,” ujarnya. (*)



