Sulit Ditandingi, Pengamat Sebut Iqbal Kandidat Terkuat Pimpin Gerindra NTB
Mataram (NTBSatu) – Isu perebutan kursi Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Gerindra Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali menghangat dalam beberapa pekan terakhir. Nama Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, disebut-sebut sebagai kandidat kuat yang berpotensi menggantikan petahana, Lalu Pathul Bahri.
Meski sempat mereda, isu ini kembali mencuat sekitar pertengahan Maret 2026. Namun, elite partai seperti Ketua OKK dan bendahara umum sebelumnya telah membantah adanya pergantian dalam waktu dekat. Di tengah dinamika tersebut, pengamat politik melihat peluang Iqbal cukup besar. Kandidat lain tetap sulit menyainginya.
Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Prof. Dr. Kadri, menilai bahwa struktur Partai Gerindra yang bersifat komando membuat peta persaingan sangat bergantung pada keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
“Di Gerindra itu tidak seperti partai lain yang melalui Musda. Semua keputusan ada di DPP. Jadi tidak ada yang bisa merasa paling kuat, karena sewaktu-waktu DPP bisa menggantikan posisi tersebut,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 25 Maret 2026.
Menurutnya, dalam konteks tersebut, faktor kedekatan dengan elite pusat menjadi kunci utama. Ia menilai Iqbal memiliki keunggulan signifikan daripada kandidat lain.
“Kalau kita lihat dari kedekatan dengan DPP dan posisi politiknya saat ini, Pak Iqbal itu relatif lebih unggul. Itu yang membuat peluangnya sangat besar,” jelas Dosen sekaligus guru besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram tersebut.
Selain Iqbal dan Pathul, beberapa nama lain turut mencuat sebagai kandidat alternatif atau “kuda hitam”, yakni Haerul Warisin atau H. Iron. Saat ini menjabat Bupati Lombok Timur, serta Amar Nurmansyah yang menjabat Bupati Sumbawa Barat. Keduanya memiliki basis massa yang kuat di wilayah masing-masing.
Namun demikian, Prof. Kadri melihat pengalaman politik dan jangkauan pengaruh keduanya masih belum cukup untuk menyaingi dominasi figur seperti Iqbal.
“Mereka punya kekuatan di daerah, tapi untuk level provinsi dan akses ke pusat, tentu masih berbeda. Pak Iqbal lebih komprehensif dari sisi itu,” katanya.
Soroti Potensi Konflik Internal
Ia juga menyoroti potensi konflik internal jika perebutan kursi ini tidak dikelola dengan baik. Terlebih jika persaingan terjadi di antara figur-figur kuat tanpa adanya figur penengah yang diterima semua pihak.
“Kalau tidak ada figur yang bisa menjadi titik temu, konflik itu bisa saja terjadi. Tapi kalau Pak Iqbal masuk, justru bisa jadi solusi karena posisinya lebih diterima secara luas,” tambahnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa siapa pun yang nantinya memimpin Gerindra NTB harus memiliki kapasitas untuk memenangkan partai di kontestasi politik mendatang.
“Yang terpenting bukan hanya siapa yang jadi ketua, tapi bagaimana dia bisa membawa Gerindra menang dan memperkuat basis politiknya,” tegasnya.
Dengan dinamika yang terus berkembang, ia memprediksi perebutan kursi Ketua DPD Gerindra NTB masih akan menjadi perhatian publik. Namun untuk saat ini, ia menilai nama Lalu Muhamad Iqbal masih berada di posisi terdepan dalam bursa kepemimpinan partai berlambang garuda tersebut. (Zani)



