Lebaran di Tiga Kecamatan di Bima Diwarnai Banjir, Infrastruktur Lumpuh
Lombok Tengah (NTBSatu) – Suasana sukacita Idulfitri 1447 Hijriah di Kabupaten Bima, NTB, menjadi keprihatinan, hujan lebat yang terjadi pada Sabtu, 21 Maret 2026, memicu banjir bandang di 3 kecamatan, dan melumpuhkan aktivitas silaturahmi warga.
Meski genangan air sudah surut pada malam harinya, sisa sedimen dan kerusakan infrastruktur vital, masih membayangi momen lebaran di wilayah terdampak.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, Sadimin melaporkan, banjir mulai terjadi pada pukul 15.00 Wita di Kecamatan Soromandi, Woha, dan Wera, saat warga masih berkunjung ke rumah kerabat.
Sadimin juga mengimbau masyarakat tetap waspada, dengan dampak cuaca ekstrem yang berpotensi kembali terjadi.
“Di tengah suasana Lebaran ini, kami meminta masyarakat tetap waspada terhadap dampak cuaca ekstrem, termasuk potensi banjir susulan, angin puting beliung, dan tanah longsor,” kata Sadimin dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 22 Maret 2026.
Kerusakan Infrastruktur dan Fasilitas Vital
Banjir yang melanda tidak hanya menggenangi rumah warga. Tetapi juga berdampak pada fasilitas penunjang ekonomi dan akses transportasi yang sangat krusial di hari raya.
Di Desa Dai, Kecamatan Soromandi, menjadi lokasi terparah. Rusaknya bronjong penahan sungai pada jembatan limpas, menyebabkan sedimen menumpuk di sepanjang jalan.
Akibatnya, akses transportasi dari Jalan Lintas Sai-Sampungu, yang biasa menjadi jalur utama pemudik lokal, kini mengalami kelumpuhan.
Di Desa Talabiu, Kecamatan Woha, kerusakan terjadi pada infrastruktur pertanian, berupa sayap-sayang Bendungan La Nonu, mengalami kerusakan cukup parah.
Terakhir di Desa Bala, Kecamatan Wera, tercatat 15 jiwa terdampak. Empat orang di antaranya harus merayakan lebaran di tempat pengungsian sementara.
Penanganan Darurat
BPBD sudah melakukan koordinasi lintas sektor, dengan melibatkan TNI, Polri, dan aparatur desa, untuk melakukan kaji cepat dampak dari banjir.
Saat ini, yang menjadi fokus utama adalah pengerahan alat berat, serta penyaluran bantuan logistik bagi warga yang tidak bisa merayakan lebaran di rumah.
“Kebutuhan mendesak saat ini meliputi bantuan logistik, peralatan, serta excavator untuk penggalian sedimen pada jembatan limpas di Desa Sai,” tambahnya.
Kehadiran alat berat dinilai sangat krusial, agar fungsi infrastruktur transportasi bisa segera pulih sepenuhnya, sebelum potensi hujan susulan kembali turun.
Menghadapi masalah ini, BPBD mengimbau masyarakat agar tetap siaga, mengingat potensi curah hujan tinggi di atas 100 mm, masih bisa terjadi di Pulau Lombok dan Sumbawa. (Inda)



