BGN Atensi Dugaan Keracunan MBG di Bima, SPPG Ditutup Sementara
Mataram (NTBSatu) – Badan Gizi Nasional (BGN), langsung ambil sikap terhadap kasus dugaan keracunan akibat mengkonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Tadewa, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima.
Dugaan keracunan itu terjadi pada Sabtu, 4 April 2026. Korbannya sebanyak 27 orang. Terdiri dari puluhan balita (TK/PAUD), ibu hamil, dan tiga orang dewasa.
Koordinator Regional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) BGN NTB, Eko Prasetyo menyampaikan, sudah menerima laporan tersebut dan sudah disampaikan ke pimpinan.
“(Kasus ini) sudah kami laporkan ke pimpinan,” kata tyo Minggu, 5 April 2026.
Terhadap kasus ini, lanjut Tyo, BGN memberhentikan sementara operasional dapur tersebut. Pemberhentian sementara ini sampai hasil laboratorium tersebut keluar.
“Sementara off operasional sampai hasil lab keluar dan melaksanakan perbaikan-perbaikan,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemberhentian sementara operasional ini merupakan konsekuensi bagi seluruh dapur yang terindikasi melakukan pelanggaran. Namun, akan diberhentikan permanen jika melakukan kesalahan yang sama sebanyak tiga kali.
“(Meski terbukti keracunan karena MBG) opsi penutupan permanen belum memungkinkan, karena berdasarkan juknis, penutupan permanen jika terjadi kejadian yang sama sebanyak tiga kali,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah SPPG Wera, Haryono, menegaskan timnya belum bisa memastikan dugaan keracunan terhadap 27 warga Tadewa tersebut. Menyusul pihak laboratorium belum mengeluarkan hasil uji sampel makanan.
“Kami belum bisa memastikan apakah keracunan berasal dari MBG atau faktor lain,” kelitnya menjawab NTBSatu, Minggu, 5 April 2026.
Haryono menambahkan, tim SPPG langsung mengunjungi Puskesmas Wera untuk memeriksa pasien satu per satu sebagai bentuk tanggung jawab awal.
“Mitra MBG menyanggupi biaya pengobatan dan pemulihan pasien yang diduga keracunan,” jelasnya.
Lakukan Uji Laboratorium Sampel Makanan
Puskesmas Wera, sudah mengamankan sampel makanan untuk dilakukan uji laboratorium, untuk memastikan penyebab keracunan.
“Kami belum bisa memastikan apakah keracunan ini murni karena MBG atau faktor lain. Semua korban sudah mendapat perawatan, dan kami menunggu hasil uji epidemiologi,” kata Plt. Kepala Puskesmas Wera, Siti Rahmah.
Ia menceritakan kronologi kejadian. Awalnya, seorang anak datang ke Puskesmas pukul 15.00 Wita dengan keluhan muntah dan diare. Tak berhenti di situ, korban terus berdatangan dari pukul 17.00 hingga 22.00 Wita dengan keluhan yang sama.
“Sebelumnya, semua korban mengonsumsi omprengan dari MBG yang dikirim ke posyandu,” ujarnya kepada NTBSatu, Minggu, 5 April 2026.
Rahmah merinci isi omprengan yang diduga menyebabkan keracunan. Yaitu nasi, telur ceplok berbumbu, nugget, timun, kemangi, dan jeruk santang. Petugas memasak makanan pada pukul 02.00 Wita dan mengantarkannya ke posyandu sekitar pukul 08.00–09.00 Wita.
“Warga mengonsumsi makanan secara berbeda. Ada yang langsung makan di tempat dan ada yang membawa pulang ke rumah. Sehingga gejala muncul antara pukul 16.00–21.00 Wita,” tambahnya. (*)



