Kota Mataram

Karang Taliwang Mataram Disiapkan Jadi Museum Kampung

Mataram (NTBSatu) – Program museum berbasis kampung mulai dikembangkan di Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan Karang Taliwang, Kota Mataram sebagai salah satu lokasi. Konsep ini menghadirkan museum tidak lagi sebagai ruang tertutup, melainkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang menyatu dengan aktivitas sehari-hari.

Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam mengatakan, program tersebut berangkat dari pemahaman setiap elemen di sekitar masyarakat memiliki nilai budaya yang dapat diwariskan sebagai identitas. “Semua yang ada di sekitar kita itu memiliki nilai. Adat istiadat menjadi bagian dari identitas yang harus dijaga,” ujarnya saat ditemui di ruangannya, Jumat, 24 April 2026.

Ia menjelaskan, pengembangan museum kampung berdasarkan pada tiga pilar utama. Yakni, kebudayaan sebagai identitas, museum sebagai ruang pertemuan lintas generasi, serta museum sebagai penggerak ekonomi berbasis kebudayaan.

Sejauh ini, NTB telah memiliki sembilan museum desa yang pengembangannya secara bertahap melalui program “Kotaku Museumku, Kampungku Museumku”. Pemilihan Karang Taliwang sebagai lokasi pengembangan di Kota Mataram karena memiliki nilai sejarah yang panjang, perkiraannya telah ada sejak 1640-an.

Selain itu, kawasan ini memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat, terutama melalui kuliner khas ayam Taliwang yang telah menjadi identitas daerah setempat. Tak hanya itu, keberagaman masyarakat yang hidup berdampingan secara harmonis juga menjadi alasan utama.

Interaksi budaya yang terjaga menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan budaya masyarakat. Ke depan, harapannya program ini dapat mendukung visi menjadikan Kota Mataram sebagai destinasi heritage city dengan menghadirkan pengalaman wisata berbasis sejarah dan budaya yang lebih kuat.

Peluang Ekonomi Masyarakat

Sementara itu, Ketua Tim Ad Hoc Museum Kampung Karang Taliwang, Syafari Habibi mengatakan, program ini tidak hanya berfokus pada pelestarian budaya. Tetapi juga, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Menurutnya, museum kampung menjadi ruang edukasi yang dapat membentuk karakter generasi muda sekaligus memperkuat kohesi sosial. Di sisi lain, keberadaannya juga mendorong pertumbuhan UMKM dan membuka lapangan kerja baru bagi warga.

“Hal ini memberikan peluang dan membuka lapangan kerja dalam hal UMKM,” jelasnya.

Saat ini, pengembangan masih berada pada tahap awal dengan fokus pada penataan kawasan serta pengumpulan artefak dari masyarakat sekitar. Termasuk, di area sekitar masjid tua yang telah berdiri sejak 1730.

Meski masih dalam tahap pengembangan, ia menyebut, respons masyarakat sangat antusias. Proyeksi ke depan, kawasan dapat menjadi daya tarik baru dengan aktivitas kuliner dan ruang berkumpul yang telah ramai wisatawan kunjungi.

Harapannya, program museum kampung tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan yang terus berkembang di tengah masyarakat. (Caca)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button