BREAKING NEWSKabupaten Bima

Dua Hari, Sebagian Kecamatan di Bima Diterjang Banjir

Mataram (NTBSatu) – Hujan lebat selama dua hari berturut-turut yang mengguyur wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), memicu banjir luapan di tiga kecamatan, pada Kamis hingga Jumat, 12-13 Maret 2026.

Banjir yang disebabkan luapan debit air gunung dan ketidaksanggupan drainase menampung air hujan, langsung berdampak pada lebih dari 2.700 jiwa.

IKLAN

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Sadimin mengungkapkan, penyebab terjadinya banjir selama dua hari berturut-turut.

IKLAN

“Hujan lebat ini menyebabkan derasnya air dari gunung, sehingga drainase tidak mampu menahan debit air,” katanya kepada NTBSatu, Sabtu, 14 Maret 2026.

IKLAN

Kronologi dan Sebaran Dampak

Berdasarkan laporan dari BPBD, bencana pertama terjadi pada Kamis petang, sekitar pukul 18.30 Wita yang menyasar Kecamatan Palibelo dan Wera.

Di Kecamatan Palibelo, wilayah yang terdampak cukup parah adalah Desa Nata. Sebanyak 140 unit rumah dan 495 Kepala Keluarga (KK) terendam air setinggi 20 hingga 60 sentimeter.

Sedangkan di wilayah Kecamatan Wera, akses jalan lintas Wera-Bima sempat mengalami kelumpuhan akibat material lumpur yang terbawa arus air hingga sejauh 85 meter di Desa Tawali. Di Desa Bala, banjir yang melanda mengakibatkan 25 unit rumah warga dan satu unit fasilitas ibadah, yakni Masjid Al-Ikhlas terendam.

Selain di wilayah Barat, banjir susulan juga turut melanda Kecamatan Lambu pada Jumat sore. Bencana ini akibat luapan Sungai Lambu yang tidak bisa menampung debit air kiriman.

Akibatnya, empat desa yakni, Desa Rato, Desa Simpasai, Desa Sumi, dan Desa Soro. Dampak tertinggi dirasakan oleh Desa Sumi dan Desa Soro dengan masing-masing 394 dan 286 rumah tergenang air setinggi 60 sentimeter.

Banjir yang terjadi selama dua hari setidaknya merendam 863 unit rumah di berbagai desa. Selain pemukiman, beberapa sektor infrastruktur dan pertanian juga turut terdampak.

Di Desa Simpasai, setidaknya seluas tiga hektare lahan pertanian tergenang air. Sementara itu, akses jalan provinsi dan jalan desa sepanjang 335 meter tertutup material lumpur yang menghambat mobilitas warga.

Upaya Penanganan dan Kewaspadaan

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Bima bersama unsur TNI, Babinsa, dan aparatur desa, sudah melakukan penanganan darurat dan kaji cepat.

Saat ini, BPBD melaporkan jika air sudah surut dan warga sedang melakukan pembersihan secara mandiri. Namun, warga masih membutuhkan bantuan logistik, peralatan, dan bantuan tanggap darurat.

“Tim terus melakukan pengamatan dan koordinasi dengan pihak kecamatan. Serta, desa untuk mendata kerusakan lahan pertanian yang hingga kini masih dalam proses verifikasi,” lanjutnya.

Berdasarkan data dari BMKG, wilayah NTB saat ini memasuki puncak musim hujan. Pada dasarian II Maret 2026, potensi hujan diatas 50 milimeter per dasarian sebesar 60 hingga 90 persen di sebagian wilayah NTB.

Lebih lanjut, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi terjadinya bencana hidrometeorologi lanjutan, seperti banjir, longsor, angin puting beliung, hingga kebakaran hutan. (Inda)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button