Inak Siti dan Asa di Giri Menang
Pagi di Giri Menang datang perlahan. Seperti memberi ruang bagi siapa pun untuk menarik napas lebih panjang. Angin berhembus lembut menyapu hamparan rumput di sekitar Kantor Bupati Lombok Barat, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam.
Jalan aspal selebar lima meter di sisi kantor itu kini tampak bersih, rapi, dan hidup. Kendaraan melintas, warga berjalan santai, pedagang membuka lapak.
Namun, di balik wajah barunya hari ini, kawasan ini menyimpan kisah panjang tentang sepi, tentang bertahan hidup, dan tentang asa yang nyaris padam.
Salah satu kisah itu milik Siti Masitah. Warga sekitar memanggilnya Inak (bahasa Sasak: Ibu) Siti. Seorang penjual kaki lima yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidupnya di kawasan Giri Menang.
“Ini memang kerjaan saya dari lama. Kalau tidak salah, sudah lebih dari lima tahun. Dulu waktu masih muda, saya jadi buruh tani saja,” tuturnya pelan kepada NTBSatu, Selasa, 20 Januari 2026.
Inak Siti mengingat betul masa-masa ketika hidupnya sepenuhnya bergantung pada tenaga kasar. Ia pernah ngerampek (bahasa Sasak untuk pekerjaan merontokkan bulir padi dari batangnya) di lahan yang kini telah berubah menjadi kawasan perkantoran dan ruang publik.
‘’Saya dulu ngerampek di sini. Ini dulunya sawah, milik Jero (Gelar Bangsawan dalam bahasa Sasak) ,” katanya, menunjuk ke arah sekeliling.
“Dari masih muda memang saya sudah tidak berada. Sekolah pun tidak. Jadi ya besar karena buruh.” ujarnya lagi.
Kehidupan keras itu perlahan ia tinggalkan ketika usia mulai merenggut tenaganya. Tubuhnya tak lagi sanggup bekerja di sawah seharian. Inak Siti pun banting setir menjadi pedagang kaki lima. Bukan karena pilihan, tetapi karena kebutuhan.
Namun, Siti menjelaskan, berdagang di kawasan ini dulu bukan perkara mudah.
“Lima tahun sebelumnya, di jalan depan ini debu banyak beterbangan. Jarang ada yang beli. Kotor, tidak terawat. Tidak enak sekali rasanya kita yang dagang,” ujarnya sambil menatap Jalan Soekarno-Hatta di depan Kantor Bupati Giri Menang.
Ia juga mengenang kawasan yang kini masyarakat kenal sebagai Taman Kota Giri Menang–Gerung. Tempat yang sekarang ramai oleh keluarga dan anak-anak itu dulunya nyaris tak tersentuh.
“Dulu malah monyet sudah ada di sini, saking lebatnya pohon dan tidak terawat. Tapi syukur alhamdulillah sekarang sudah tidak terlalu lebat. Pohonnya dipotong, dirapikan. Sekarang enak dipandang,” kenangnya.
Transformasi dan Kerja Nyata Berdasarkan Data ala Bupati LAZ
Kesepian yang Inak Siti rasakan bertahun-tahun lalu, rupanya juga pernah dirasakan oleh Lalu Ahmad Zaini (LAZ), Bupati Lombok Barat. Saat pertama kali berkeliling kawasan Giri Menang sebagai Bupati Lombok Barat, rasa sunyi itulah yang justru memantik keputusan besar.
“Waktu itu saya lihat tempat ini sepi, tidak tertata. Padahal ini pusat pemerintahan. Saya duduk, termenung. Masa iya begini terus? Ini harus diubah,” ujar LAZ.
Sejak itu, berbagai penataan mulai pemerintah daerah lakukan. Revitalisasi kawasan Gerung dan Giri Menang, penataan alun-alun Kantor Bupati, hingga penyiapan ruang bagi pedagang kaki lima menjadi bagian dari langkah konkret LAZ kala itu.
“Para pedagang kaki lima kita buatkan tempat yang lebih layak. Kita ramaikan. Kita hidupkan ruang publik ini supaya masyarakat merasa memiliki,” kata LAZ saat menerima kunjungan Tim Redaksi NTBSatu pada 15 Januari lalu.
Gaya kepemimpinan LAZ dikenal lugas dan langsung ke sasaran. Ia tidak gemar berlama-lama pada rapat yang berputar-putar tanpa hasil.
“Saya pribadi selalu fokus pada karya, tidak terlalu suka terlalu banyak rapat atau bicara. Saya selalu minta OPD itu konkret dan tegas: apa masalahnya, bagaimana solusinya, lalu dieksekusi,” tegasnya.
Rasa Terima Kasih Siti, Sang Pedagang Kaki Lima
Siti melanjutkan ceritanya, sejak Bupati LAZ naik, dia mulai bersyukur. Setidaknya, kata Siti, Bupati LAZ sering berkunjung dan menyapanya yang memang berjualan disini.
Bagi Inak Siti, perubahan itu terasa nyata, bukan sekadar slogan pembangunan. “Sekarang ramai. Pembeli ada. Lingkungannya bersih. Kami juga sering disapa,” katanya.
“Bupati yang sekarang ini memang sering turun langsung melihat kita yang kecil-kecil ini.” pujinya pada LAZ.
Rasa syukur itu ia sampaikan tanpa ragu. Bahkan, ketika bicara soal masa depan politik daerah. “Kalau misalnya beliau mencalonkan diri lagi, saya yakin banyak masyarakat yang bakal pilih dia. Tidak perlu pakai uang segala macam. Orang sudah lihat sendiri kerjanya,” ujar Inak Siti mantap.
Di lapak kecilnya, di antara deru kendaraan dan obrolan warga yang kini ramai, Inak Siti menjalani hari-harinya dengan rasa yang berbeda. Giri Menang tak lagi sekadar tempat bertahan hidup, tetapi ruang untuk berharap.
Ia mungkin hanya satu suara dari sekian banyak warga Lombok Barat. Namun dari ceritanya, tersirat satu hal penting, bahwa pembangunan yang paling berarti bukan hanya yang tampak megah, melainkan yang mampu mengubah sepi menjadi harapan. Dan dari harapan itu, ia memberi ruang bagi orang-orang kecil untuk terus mengais asa. (Zani)



