Mahasiswa KKN Unram Hidupkan Kesadaran PHBS dan Cegah DBD di Desa Gili Indah

Mataram (NTBSatu) – Aula Kantor Desa Gili Indah, Jumat pagi, 8 Agustus 2025, tampak lebih ramai dari biasanya. Puluhan warga dari berbagai dusun di desa wisata ini berkumpul sejak pagi. Mereka mengikuti kegiatan sosialisasi kesehatan, yakni Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pencegahan penyakit Demam Berdarah (DBD).
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kelompok KKN PMD Universitas Mataram (Unram) Tahun 2025, sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat di wilayah kepulauan tersebut.
Tak hanya penyuluhan, rangkaian acara juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan gratis. Mencakup pengecekan tekanan darah, pemeriksaan gula darah, dan pengambilan sampel darah untuk deteksi dini DBD. Sasaran utama kegiatan adalah lansia, ibu rumah tangga, dan bapak-bapak, yang selama ini jarang memiliki akses terhadap layanan kesehatan rutin.
Desa Gili Indah yang dikenal sebagai destinasi wisata internasional, kerap menjadi sorotan karena keindahan alamnya. Namun, di balik pesona pantai dan keramahtamahan warganya, masih terdapat tantangan kesehatan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah kesadaran terhadap pola hidup bersih dan upaya pencegahan penyakit menular seperti DBD, yang kerap meningkat saat musim hujan.
Dalam pemaparannya, tim KKN Unram menjelaskan, PHBS adalah perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran pribadi maupun kolektif. Tujuannya mencegah penyakit dan meningkatkan kualitas hidup.
Warga diajak memahami bahwa kebersihan lingkungan, kebiasaan mencuci tangan dengan benar, konsumsi air bersih, hingga menjaga sanitasi rumah merupakan langkah sederhana namun berdampak besar dalam mencegah penyakit.
Sosialisasi yang berlangsung selama lebih dari dua jam itu tidak hanya berisi penyuluhan kesehatan. Tetapi juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan gratis untuk warga.
Mahasiswa KKN Unram berkolaborasi dengan tim kesehatan Puskesmas Nipah dan mantri desa sebagai narasumber penyuluhan, menyampaikan materi seputar PHBS, pencegahan DBD, dan pentingnya sanitasi lingkungan.
Materi disampaikan dengan bahasa sederhana, contoh-contoh nyata, serta interaksi langsung agar mudah dipahami oleh semua kalangan.
Materi Sosialisasi
Topik pertama membahas pencegahan DBD, mencakup pengenalan ciri-ciri nyamuk penyebab, gejala awal penyakit, hingga langkah 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang, dan langkah tambahan Pencegahan).
Pemateri juga menampilkan contoh jentik nyamuk melalui foto yang diproyeksikan, sehingga warga dapat mengenalinya di rumah masing-masing.
Materi kedua berfokus pada konsep PHBS. Mulai dari kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, pengelolaan air bersih, pemilahan sampah rumah tangga, hingga menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitar. Warga diajak untuk berbagi pengalaman sehari-hari, sehingga diskusi terasa hidup dan dekat dengan realitas mereka.
Interaksi yang terjalin cukup hangat. Warga tidak hanya mendengarkan, tetapi aktif bertanya tentang kasus-kasus yang pernah mereka temui. Baik di lingkungan sekitar maupun pengalaman pribadi.
Usai penyuluhan, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan gratis yang difasilitasi oleh tim KKN dibantu tenaga medis dari Klinik Royal Medika, yang dipimpin oleh seorang dokter lulusan Universitas Brawijaya (UB) dan puskesmas setempat.
Sebanyak 45 peserta tercatat mengikuti pemeriksaan, dengan mayoritas peserta adalah warga lanjut usia.
Pemeriksaan meliputi pengecekan tekanan darah untuk mendeteksi risiko hipertensi, pemeriksaan gula darah untuk mengidentifikasi potensi diabetes, dan pengambilan sampel darah sebagai langkah awal skrining DBD serta konsultasi kesehatan ringan.
Apresiasi Warga dan Pemerintah Desa

Warga tampak antusias dan sabar menunggu giliran. Sejumlah warga mengaku baru pertama kali memeriksakan kondisi kesehatannya secara lengkap.
“Biasanya kalau ke Puskesmas itu jauh dan harus antre lama. Kalo ke klinik kami harus bayar. Hari ini saya senang sekali bisa tahu tensi dan gula darah saya. Juga dapat informasi bagaimana mencegah DBD,” ungkap Nurhaini, salah satu peserta.
Hasil pemeriksaan tidak hanya memberikan gambaran kondisi kesehatan warga, tetapi juga membantu mengidentifikasi keluhan yang selama ini terabaikan.
Beberapa warga menyadari memiliki tekanan darah tinggi atau kadar gula di atas normal, sehingga mendapatkan saran untuk melakukan pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan terdekat.
Selama kegiatan, antusiasme warga terlihat jelas. Mereka aktif berdialog, berbagi cerita, dan bahkan mencatat poin-poin penting yang disampaikan pemateri.
Momen ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki minat tinggi terhadap pengetahuan kesehatan, asalkan disampaikan dengan cara yang komunikatif dan mudah dipahami.
Kepala Dusun Desa Gili Indah, yang turut hadir, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa KKN.
“Kami sangat terbantu dengan adanya kegiatan seperti ini. Warga mendapat pengetahuan baru dan juga kesempatan memeriksakan kesehatan. Harapannya, program seperti ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi berlanjut dan diperluas cakupannya,” katanya.
Wujud Kolaborasi Kampus dan Masyarakat
Program ini juga menjadi contoh konkret kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Mahasiswa KKN PMD Unram tidak hanya menjalankan tugas akademik, tetapi juga membawa dampak sosial yang nyata.
Kegiatan ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam memberdayakan masyarakat. Terutama di bidang kesehatan.
Melalui pendekatan inklusi dan partisipatif, mahasiswa dapat memahami kebutuhan nyata warga dan menyesuaikan metode penyampaian materi agar lebih efektif. Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan pemerintah desa, tenaga kesehatan setempat, serta partisipasi aktif warga.
Kegiatan Sosialisasi PHBS dan Pencegahan DBD yang dibarengi pemeriksaan kesehatan gratis di Desa Gili Indah ini, menjadi bukti bahwa edukasi kesehatan yang dikemas dengan baik dapat menarik perhatian dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dengan menggabungkan informasi yang relevan, layanan kesehatan langsung, dan pendekatan yang humanis, mahasiswa KKN PMD Unram di Desa Gili Indah telah memberikan kontribusi penting. Khususnya dalam meningkatkan kesadaran kesehatan warga.
Semangat kebersamaan yang tercipta pada Jumat pagi itu menjadi modal berharga bagi terciptanya masyarakat yang lebih sehat, bersih, dan tangguh menghadapi tantangan penyakit menular di masa depan. (*)