Kota Mataram

Gerbang Sangkareang Jadi ‘Senjata’ Diplomasi Budaya Mataram, Tembus Melbourne dan Raih Abyakta

Mataram (NTBSatu) — Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, berhasil membuktikan membangun kota tidak melulu soal beton dan aspal.

Melalui visi “Gerbang Sangkareang”, ia berhasil membawa pulang Trofi Abyakta Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026. Sebuah pengakuan nasional atas kepemimpinan yang berbasis pada akar budaya.

Dalam presentasinya di hadapan dewan juri yang berasal dari tokoh-tokoh seperti Sudjiwo Tejo hingga Nungki Kusumastuti, Mohan memaparkan, Gerbang Sangkareang bukan sekadar bangunan statis atau pemanis jalan.

“Gerbang Sangkareang adalah ide kultural yang hidup. Ia menjadi katalisator bagi ekosistem kreatif menginspirasi lahirnya Batik Mentaraman, kriya, hingga desain ruang publik yang memiliki identitas,” ujar Mohan di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Sabtu, 10 Januari 2026.

IKLAN

Narasi “Gerbang Sangkareang” mendapat penilaian juri sebagai langkah diplomasi identitas yang cerdas. Buktinya, simbol ini tidak hanya berhenti di gerbang perbatasan kota, tetapi telah melanglang buana.

Motif Batik Mentaraman yang terinspirasi dari ikon ini bahkan telah tampil di ajang fashion internasional, Bellabaric di Melbourne, Australia.

“Ini bukan sekadar urusan estetika, melainkan upaya agar masyarakat Sasak memiliki daya tawar di kancah global,” tambah Mohan.

Dewan juri yang terdiri dari praktisi seni, budaya, dan pers pun menetapkan Wali Kota Mataram sebagai penerima penghargaan melalui proses seleksi sejak Oktober 2025.

Keputusan juri yang tertuang dalam Berita Acara Nomor: 534/PWI-P/LXXIX/I/2026 bersifat final. Mohan akan menerima Trofi Abyakta secara resmi pada puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Serang, Banten, 9 Februari mendatang.

Melawan Arus Globalisasi yang Seragam

Kepala Dinas Kominfo Kota Mataram, Ramadhani menjelaskan, keberhasilan ini merupakan momentum city branding yang krusial.

Di tengah tren kota-kota modern yang cenderung menjadi seragam (homogen), Mataram memilih jalur berbeda.

“Ini adalah arus balik dari globalisasi. Kita bergerak menjadi kota modern, tapi dengan karakter dan identitas yang sangat kuat. Inilah titik temu antara heritage dan modernity,” jelas Dhani.

Menurutnya, peran media dan penghargaan ini menjadi percepatan bagi Mataram untuk memperkenalkan diri sebagai kota dengan masa depan yang tetap menghargai masa lalu. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button