Ekonomi BisnisHEADLINE NEWS

Dua Wajah Ekonomi NTB 2025: Tambang Lesu, non-Tambang Bersinar

Mataram (NTBSatu) – Kinerja perekonomian Provinsi NTB pada Triwulan I 2025 menunjukkan dinamika antara sektor tambang dan sektor non-tambang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, secara agregat (dengan sektor tambang), ekonomi NTB mengalami kontraksi sebesar minus 1,47 persen secara tahunan (yearonyear/yoy). Serta, minus 2,32 persen secara triwulanan (quartertoquarter/qtq).

Namun di sisi lain, saat sektor tambang dikeluarkan dari perhitungan, NTB justru mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Ekonomi tumbuh sebesar 5,57 persen (yoy) dan 0,95 persen (qtq), mencerminkan geliat sektor produktif di luar industri ekstraktif.

Hal ini menunjukkan bahwasannya ekonomi masyarakat di sektor perdagangan, pertanian, jasa, dan UMKM masih bergerak positif dan menopang perekonomian daerah secara lebih inklusif.

IKLAN

“Data ini mencerminkan pentingnya diversifikasi ekonomi NTB. Agar tidak terlalu bergantung pada fluktuasi sektor tambang,” ujar Kepala BPS NTB, Wahyudin, Jumat, 1 Agustus 2025.

Secara nominal, total nilai produksi barang dan jasa (PDRB) NTB pada Triwulan I 2025 mencapai Rp43,95 triliun jika dihitung berdasarkan harga berlaku dan sebesar Rp26,11 triliun berdasarkan harga konstan.

Di sektor perdagangan, NTB menunjukkan performa impresif. Hingga Juni 2025, neraca perdagangan NTB mencatat surplus kumulatif sebesar 16,64 juta dolar AS.

Bahkan pada bulan Juni saja, surplus tercatat sebesar 56,41 juta dolar AS. Dengan nilai ekspor mencapai 90,16 juta dolar AS dan impor hanya 33,75 juta dolar AS.

Kinerja ekspor ini memperkuat peran sektor perdagangan sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah.

IKLAN

Inflasi Tetap Terkendali

Sementara itu, dari sisi harga, inflasi tetap terkendali. Pada bulan Juni 2025, inflasi tercatat sebesar 2,51 persen secara tahunan dan 0,60 persen secara bulanan.

Stabilitas harga ini mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan yang relatif seimbang, serta daya beli masyarakat yang masih terjaga dengan baik. Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong penguatan sektor pertanian dan kelautan.

Indikator Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat sebesar 124,13 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) sebesar 107,19 pada Juni 2025. Hal ini menandakan peningkatan daya beli dan kondisi usaha yang cukup menguntungkan bagi petani dan nelayan di NTB.

“Angka NTP dan NTN yang positif menunjukkan bahwa sektor pertanian dan kelautan tetap menjadi tumpuan penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi daerah, terutama di luar sektor tambang,” tambah Wahyudin.

Melihat perbedaan mencolok antara pertumbuhan ekonomi inklusif di sektor non-tambang dan kontraksi di sektor tambang, BPS NTB menekankan pentingnya strategi pembangunan yang mendorong pemerataan dan keberlanjutan.

“Ini menjadi sinyal bagi pembuat kebijakan untuk terus memperkuat sektor-sektor riil yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat NTB,” tukasnya. (*)

Berita Terkait

Back to top button