Pemerintahan

Memberi Ruang Tumbuh Bersama Penyandang Disabilitas untuk Penanggulangan Bencana yang Inklusif

Mataram (NTBSatu) – Andri seperti merapal doa. Ia membaca teks sambil membaca di dalam hati. Beberapa saat kemudian, pemuda berbadan tegap itu menghadap ke arah teman-temannya. Tangannya bergerak ke sana kemari. Teman-temannya memerhatikan dengan seksama, walaupun tidak mengerti apa yang Andri sampaikan.

Beberapa saat kemudian, Ema, menerjemahkan gerakan-gerakan tangan Andri itu. Ketika ada yang bertanya, Ema menerjemahkan bahasa lisan mereka menjadi gerakan-gerakan tangan atau bahasa isyarat agar dimengerti oleh Andri.

Andri adalah penyandang disabilitas tuli. Ia tidak bisa mendengar dan berbicara sama sekali, namun Andri bisa membaca. Presentasi pada hari itu menjadi pengalaman berharga bagi Andri dan peserta lainnya. Ia terlibat dalam proses diskusi kelompok dan anggota kelompoknya memberikan kepercayaan kepadanya untuk presentasi.

Di sisi lain, Topan merupakan seorang penyandang disabilitas netra. Ia tidak bisa melihat, tapi bisa mendengar. Pada salah satu sesi, fasilitator menampilkan sebuah gambar dan beberapa teks. Peserta diminta untuk menginterpretasikan gambar itu. Beberapa peserta angka tangan, termasuk Topan.

“Kalau saya lihat, jawabannya gambar nomor tiga tapi sebenarnya saya tidak bisa melihat,’’ kata Topan.

IKLAN

Suasana menjadi cair. Topan dan peserta lain pun tertawa.  Dalam beberapa kegiatan Topan memang sering membuat candaan dan memecah suasana, terkadang dari keterbatasan yang dia miliki.

“Pelatihan ini seru, semua kita yang disabilitas mendapatkan pengalaman menjadi fasilitator juga,’’ katanya.

Kegiatan yang Andri dan Topan ikuti merupakan kegiatan untuk Unit Layanan Disabilitas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (ULD BPBD) NTB, yakni Bimbingan Teknis Pengarusutamaan Penanggulangan Bencana Inklusif dan Teknik Fasilitasi, pada tanggal 16-18 Juli 2025 lalu.

Dukungan Program Kemitraan Australia-Indonesia

Pembekalan ini didukung oleh Program SIAP SIAGA, program kemitraan Australia – Indonesia untuk Manajemen Penanggulangan Bencana.

Seluruh pemaparan diberikan langsung oleh para Fasilitator dari Arbeiter-Samariter-Bund South and South-East Asia (ASB), Pusdiklat BNPB, dan Forum Inklusi Disabilitas Kabupaten Magelang (FIDAKAMA). Tujuannya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota ULD agar menjadi bagian dari pool of facilitator yang diakui dalam berbagai kegiatan penanggulangan bencana (PB).

IKLAN

“Saya dapat merasakan suasananya seru. Kita berharap pelatihan seperti ini dapat ditingkatkan agar teman-teman disabilitas bisa menjadi fasilitator,’’ kata Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Provinsi NTB ini.

Dalam pelatihan ini, peserta bukan semata mendengarkan pemaparan materi dari fasilitator. Selama tiga hari mereka juga aktif dalam diskusi kelompok, praktik atau uji coba menjadi fasilitator, dan refleksi pembelajaran. Siklus ini memungkinkan pengalaman-pengalaman awal peserta bisa tergali kemudian disandingkan dengan teori yang ada. Hasilnya adalah sebuah presentasi yang partisipatif dan teknik fasilitasi yang inklusif.

Pelatihan Fasilitator Pertama Libatkan Penyandang Disabilitas

Hal ini bisa terlihat selama tiga hari kegiatan, seluruh peserta aktif. Bagi peserta dari ULD BPBD NTB (baik itu penyandang disabilitas, staf BPBD, maupun mitra pembangunan), ini juga menjadi pengalaman pertama mengikuti pelatihan fasilitator yang melibatkan para penyandang disabilitas.

Hambatan penglihatan, hambatan pendengaran, hambatan mobilitas dari peserta menjadikan pelatihan ini juga sebagai ruang saling memahami satu sama lain. Seperti presentasi Andri yang membutuhkan penerjemah bahasa isyarat agar peserta memahami, atau pengalaman Topan yang butuh seorang pendamping untuk memvisualisasikan kondisi sekitar termasuk materi yang ia tampilkan.

Ketika proses praktik menjadi fasilitator, berbagai hambatan itu menjadikan pelatihan menjadi ruang tumbuh bersama bagi semua peserta.

Sima, peserta dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) NTB menyampaikan, pelatihan ini fasilitator dapat berperan sebagai fasilitator, instruktur, pelatih, dan pembelajar sekaligus.

Dengan pelatihan ini dia tahu hal-hal yang harus dipersiapkan saat akan menjadi fasilitator, seperti menyiapkan tujuan/tema materi yang akan dibahas. Lalu, menentukan tujuan yang ingin dicapai, memilih media/alat pembelajaran yang aksesibel, dan rencana sesi yang dapat ditentukan berdasarkan penyesuain dengan waktu pelaksanaan.

“Dalam pemilihan metode, dapat ditentukan melalui pemilihan materi mana yang harus ada, sebaiknya ada, dan bisa ada/bisa tidak dan merujuk pada konsep SMART,’’ kata Sima menjelaskan dengan lancar.

Inklusivitas Penanggulangan Bencana

Perwakilan BPBD NTB, Hidayaturrohman yang menjadi peserta dalam kegiatan ini mengapresiasi kegiatan ULD BPBD dengan dukungan Program SIAP SIAGA.

Menurtunya, kegiatan ini membuka ruang perkenalan antara pengurus ULD dengan staf BPBD. Sehingga ketika dalam upaya PB, staf BPBD bisa mendapatkan masukan bermakna untuk memastikan inklusivitas dalam penyelenggaraan PB.

“Sekarang sudah saling kenal, bisa saling melibatkan,’’ kata Hidayat.

Sejak terbentuk pada Desember 2024, ULD BPBD NTB telah terlibat dalam kegiatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) 2025, Jambore Relawan Disabilitas, serta studi banding Australia Awards Indonesia.

Saat ini, pengurus ULD BPBD NTB sedang melakukan pengolahan data terpilah untuk penyandang disabilitas di daerah rawan bencana di tiga kabupaten. Yakni Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kabupaten Lombok Utara.

“Dengan data terpilah itu, upaya penanggulangan bencana yang inklusif bisa terukur dan memiliki basis data yang jelas. Yang membanggakan pengelolaan data terpilah ini dilakukan langsung oleh teman-teman disabilitas yang menjadi pengurus ULD,’’ tutup Hidayaturrohman. (*)

Berita Terkait

Back to top button