Sosiolog: Praktik Politik Uang Bisa Bikin Generasi Muda Apatis
Mataram (NTBSatu) – Praktik politik uang yang terjadi di Pemilu 2024 terasa terang-terangan. Meski sulit dibuktikan, tetapi praktik ini diduga benar-benar terjadi di sekitar kita.
Bahkan, yang seharusnya para Calon Anggota Legislatif (Caleg) menonjolkan kapasitasnya agar dipilih masyarakat. Malah, terkesan mengumbar ‘isi tasnya’.
Alhasil, praktik politik uang ini membuat generasi muda, terutama generasi Y (milenial) dan generasi Z dapat menjadi apatis ke depan dalam penyelenggaraan kegiatan politik.
“Dengan kondisi politik uang yang semakin hari menjadi kebiasaan dan bila terus berulang sehingga dijadikan sebuah kebenaran, maka bisa aja generasi muda Indonesia ke depannya apatis terhadap dunia politik,” ungkap Sosiolog Universitas Mataram (Unram), Azhar Evendi, S.Sos., M.A., kepada NTBSatu, Selasa, 27 Februari 2024.
Berita Terkini:
- Kerja Sama Sunda Kecil NTB, Bali, dan NTT Resmi Dimulai
- Jelang Ramadan, Harga Sembako di Sumbawa Masih Stabil
- Bupati LAZ Lantik 2.997 PPPK Paruh Waktu Pemkab Lombok Barat
- 5.578 Bayi Baru Lahir di Sumbawa Terancam Dinonaktifkan dari BPJS Kesehatan
Bila generasi muda ke depannya menjadi apatis akibat maraknya praktik politik uang, jelasnya, akan menjadi bahaya besar bagi masa depan Indonesia. Sebab, identitas anak muda yang identik dengan idealismenya akan hilang.
“Begitu idealisme hilang, maka muncul materialisme. Memilih berdasarkan apa yang ia dapatkan. Kalau itu terjadi, negara harus secara serius memikirkan ini,” kata Azhar.
Dosen pengampu mata kuliah Sosiologi Politik ini memaparkan, sebenarnya dalam politik semua tindakan adalah sebuah hal yang pragmatis. Seperti, bila ingin yang mencalonkan diri maka tujuannya sebuah kekuasaan.



