Selong (NTBSatu) – Petani di Lombok Timur (Lotim) mengeluhkan kelangkaan pupuk bersubsidi jenis Urea. Di mana stok pupuk bersubsidi di tingkat pengecer sudah sulit ditemukan.
Kalaupun ada, harga pupuk bersubsidi tersebut melambung melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Kelangkaan dan mahalnya harga pupuk sudah menjadi persoalan berulang saat memasuki musim tanam di Lombok Timur. Imbasnya, petani dengan terpaksa menebus pupuk dengan harga yang lebih tinggi.
Saat ini, harga pupuk subsidi di Lombok Timur mencapai Rp400.0000 hingga Rp450.000 per kuintal. Padahal HET untuk pupuk urea bersubsidi hanya Rp225.000 per kuintal.
“Pupuk selalu langka. Kalaupun ada, harganya sangat mahal, sampai Rp450.000,” kata seorang petani di Kecamatan Lenek, Nurdin, Selasa, 16 Januari 2024.
Baca Juga: Oknum Kepsek dan Pengawas yang Diduga Terlibat Jual Beli Jabatan di Bima Diperiksa
Menurut Kepala Dinas Pertanian (Distan) Lombok Timur, kelangkaan itu disebabkan oleh kuota pupuk subsidi yang menurun. Bahkan jauh dari usulan kebutuhan.
Pada 2024, Distan mengusulkan jenis Urea sebanyak 33.430 ton, dan NPK 43.225 ton. Namun, Lombok Timur hanya diberikan kuota Urea 17.648 ton dan NPK 12.700 ton.
Menyiasati kelangkaan tersebut, pihaknya menyarankan petani beralih ke pupuk non subsidi dan organik, karena jumlahnya yang tak terbatas.
“Sekarang diketahui ada namanya bio saka yaitu pemupukan dengan kembali ke alam. Cukup dengan menggunakan tanaman tujuh jenis dikumpulkan jadi satu, lalu bisa digunakan sebagai pupuk alami,” ucapnya.
Sementara itu, dengan langka dan mahalnya harga pupuk bersubsidi, membuat banyak petani mulai enggan menanam padi. Belum lagi dengan regulasi distribusi pupuk bersubsidi yang ribet. (MKR)
Baca Juga: Jaksa Bongkar Peran Tersangka Penyaluran KUR di Mataram