NTB

Gaya Hidup Makin Praktis, Masyarakat NTB Diminta tak Pandang Remeh Diabetes

Mataram (NTB Satu) – Tren penyakit diabetes melitus di Indonesia diprediksi bakal meningkat hingga tahun 2045, termasuk di NTB. Penyebabnya adalah gaya hidup yang makin digital dan praktis serta lingkungan yang mulai tidak kondusif.

Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. H. Lalu Fikri Hamzi MM., MARS., mengatakan, diabetes masuk ke dalam jenis penyakit tidak menular. Mulai dari 1990 sampai 2017 bahkan hingga kini, terdapat pergeseran tren penyakit. Tingkat penyakit paling tinggi adalah stroke, jantung, dan diabetes. Tren tersebut berisiko menyebabkan manusia kehilangan tahun hidup.

Kendati tidak menular, Fikri menyarankan agar masyarakat mulai menetapkan gaya hidup sehat dan menciptakan suasana lingkungan yang kondusif.

Sampai saat ini, Dinas Kesehatan NTB menargetkan bahwa orang yang mendapatkan pelayanan diabetes mencapai 64.544 jiwa. Namun, target tersebut baru hanya terpenuhi sebesar 19.308 jiwa atau setara dengan 29,9 persen.

“Sampai akhir 2022, kami menargetkan bahwa target yang telah ditetapkan dapat terselesaikan dengan baik,” ungkap Fikri, ditemui NTB Satu di ruang kerjanya, Rabu, 20 Juli 2022.

Gaya hidup dan lingkungan disebut sangat berpengaruh dalam membuat penyakit makin berkembang.

Demi menekan perkembangan penyakit diabetes, Dinas Kesehatan NTB telah melakukan upaya sejak tingkat hulu, yakni dengan terus memperbaiki kualitas Posyandu Keluarga. Di Posyandu Keluarga, Dinas Kesehatan NTB selalu menekankan agar melakukan proses skrining berbagai penyakit tidak menular, salah satunya adalah diabetes.

Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan RI, NTB menjadi provinsi yang paling banyak melakukan proses skrining penyakit tidak menular, yakni sebesar 11,6 persen atau sekitar 456,442 jiwa pada 2021. Lalu, pada Juli 2022, Dinas Kesehatan NTB bahkan sudah menskrining penyakit tidak menular hampir sebanyak 20 persen.

“Apabila masyarakat menemukan kasus diabetes, maka hal yang segera dilakukan adalah upaya tindak lanjut dan proses edukasi secara terus-menerus,” terang Fikri.

Dinas Kesehatan NTB mengakui bahwa perilaku manusia memang tidak ada yang benar-benar ideal, dalam hal ini bebas dari gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan NTB harus tetap memberikan edukasi.

“Kami bukan ingin membuat orang jadi tidak boleh makan gula, hanya saja masyarakat harus diingatkan perihal takaran gula yang dikonsumsi,” jelas Fikri.

Strategi dalam menekan penyakit diabetes adalah melakukan pendekatan yang terintegrasi. Hal tersebut dapat menjadi cara dalam membendung laju penyakit tidak menular.

Saat ini, NTB boleh berbangga karena menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang menyediakan posyandu untuk melakukan layanan seluruh siklus hidup.

“Jika terdapat gejala banyak makan, minum, dan kencing, maka segeralah melakukan pengecekan. Hal tersebut dilakukan untuk mendeteksi keberadaan diabetes kemudian diberikan pengobatan yang sesuai,” saran Fikri.

Fikri menekankan agar data-data yang diperoleh pada proses skrining tidak dianggap sebagai beban. Temuan yang tinggi memiliki arti bahwa pihak terkait bakal makin cepat dalam mengantisipasi penyakit yang ditemukan.

Temuan yang tinggi dapat membuat Dinas Kesehatan NTB segera melakukan upaya promotif, preventif, serta kuratif.

Alur perlindungan dari penyakit adalah adanya upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Hal tersebut berlaku untuk penyakit menular, mau pun tidak menular.

Apabila membicarakan bentuk dari upaya preventif, Dinas Kesehatan NTB harus memikirkan cara supaya masyarakat bersedia melakukan aktivitas fisik atau olahraga paling tidak selama 30 menit dalam satu hari, berhenti merokok, serta dapat mengelola stres.

“Upaya preventif juga dapat berperan agar menunda kemunculan berbagai jenis penyakit tidak menular yang baru,” papar Fikri.

Terkait upaya kuratif, hal tersebut bakal berkaitan dengan tata cara pengobatan suatu penyakit. Upaya ini dilakukan agar mencegah kerusakan organ pada penderita. Pengobatan untuk penyakit tidak menular dalam konteks diabetes, sangatlah penting.

“Sebab, penderita diabetes harus berobat selama seumur hidup,” ujar Fikri.

Penderita diabetes harus memikirkan cara menjaga kualitas kesehatan agar hidup lebih panjang walaupun terpapar penyakit. Cara menjaga kualitas hidup masuk ke dalam upaya rehabilitatif. (GSR)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button