Dewan Minta Dana Insentif Rp3 Miliar Jadi Modal Bangkitkan PAD Kota Mataram
Mataram (NTBSatu) – Kota Mataram meraih penghargaan Creative Financing Award 2026 Apresiasi Pemerintah Daerah 2026 Regional Nusa Tenggara dan Maluku.
Atas penghargaan tersebut, Pemerintah Kota Mataram memperoleh dana insentif sekitar Rp3 miliar.
DPRD Kota Mataram meminta Pemkot memanfaatkan tambahan anggaran itu untuk membangkitkan sektor-sektor penghasil Pendapatan Asli Daerah (PAD). Terutama pasar dan parkir yang masih belum tergarap maksimal.
Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram, Irawan Aprianto, mengatakan penghargaan tersebut patut mendapat apresiasi. Namun menurutnya, yang paling penting adalah bagaimana dana insentif itu dapat memberikan dampak nyata terhadap penguatan ekonomi daerah.
“Pertama tentu kami mengapresiasi penghargaan ini. Tapi kami mendorong agar penghargaan ini jangan hanya stagnan pada administratif. Pemkot harus mengarahkan tambahan dana ini untuk program-program yang menyentuh masyarakat dan mampu meningkatkan PAD,” ujar Irawan, Minggu, 24 Mei 2026.
Ia menilai, kondisi fiskal daerah saat ini menuntut pemerintah daerah lebih kreatif dalam mencari sumber pembiayaan pembangunan. Pasalnya, Kota Mataram masih sangat bergantung terhadap dana transfer pemerintah pusat yang kini terus mengalami pengurangan.
“Tidak menutup kemungkinan besar efisiensi ini akan terus berlanjut. Dana transfer kita berkurang sekitar Rp300 miliar atau hampir 25 persen. Mau tidak mau kita harus kreatif, bahkan lebih dari kreatif,” katanya.
Menurut Irawan, Pemkot sebaiknya memfokuskan dana insentif Rp3 miliar tersebut untuk memperkuat sektor-sektor yang memiliki potensi besar mendongkrak PAD. Salah satunya melalui revitalisasi pasar tradisional yang selama ini belum maksimal.
“Pasar-pasar kita masih banyak yang kumuh. Padahal pasar merupakan pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Revitalisasi pasar seperti Pasar ACC dan Pasar Kebon Roek harus menjadi perhatian serius,” tegasnya.
Sejumlah Sumber PAD Belum Tergarap Maksimal
Ia juga menyoroti anggaran revitalisasi pasar yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah. Namun ia menilai, Pemkot belum menggerakkan secara optimal. Dampaknya, kondisi pedagang dan fasilitas pasar belum mengalami perubahan signifikan.
Selain pasar, sektor parkir juga dinilai memiliki potensi PAD besar yang selama ini belum tergarap maksimal. Irawan meminta pemerintah daerah segera melakukan uji petik parkir untuk mengetahui potensi riil pendapatan dari sektor tersebut.
“Kenapa PAD parkir selalu merosot? Harus ada uji petik parkir supaya kita tahu sebenarnya potensi riilnya berapa. Tapi sampai sekarang belum terlihat keseriusan pemerintah menganggarkan sektor itu,” ujarnya.
Ia berharap penghargaan Creative Financing Award 2026 tidak hanya menjadi simbol prestasi semata, tetapi juga menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Mataram untuk memperkuat kemandirian fiskal daerah di tengah tekanan pengurangan dana transfer pusat. (*)




