Pemerintahan

Memasuki Musim Kemarau, BMKG NTB Imbau Masyarakat Antisipasi Kekeringan dan Jaga Aliran Air

Mataram (NTBSatu) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat (NTB), memberikan peringatan dini terhadap dampak fenomena iklim El Nino dan transisi musim kemarau. BMKG memprediksi bakal memicu penurunan pasokan air secara berkala akibat berkurangnya intensitas hujan di berbagai wilayah NTB.

Forecaster on duty BMKG Stasiun Klimatologi NTB, Nindya Kirana menyebut, iklim El Nino sudah resmi memasuki fase moderat dan akan terus menguat. Sehingga, bisa memicu penurunan drastis intensitas curah hujan di NTB.

“Dampak dari El Nino adalah mengurangi curah hujan di Indonesia. Sehingga, intensitas curah hujan di Indonesia berkurang,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa, 26 Mei 2026.

IKLAN

Tren Penguatan El Nino dan Karakteristik Dampaknya di NTB

Berdasarkan data pantauan Anomali Suhu Muka Laut (SST) Dasarian II Mei 2026 BMKG, ada pemanasan suhu yang signifikan di wilayah Samudera Pasifik bagian tengah.

Nilai Sea Surface Temperature Anomaly (SSTA) pada zona Nino3.4 saat ini, telah menyentuh angka 1.00°C. Angka ini menunjukkan intensitas El Nino sudah bergeser dari fase lemah menuju moderat.

​”Saat ini El Nino berada pada fase lemah menuju moderat,” lanjutnya.

IKLAN

Sedangkan pada grafik monitoring dan prediksi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) berbasis model BMKG-SSA serta pemutakhiran data spasial (ECMWF) Mei 2026, anomali suhu ini akan terus menanjak sepanjang Juni hingga November 2026 dengan ambang batas 1,5 derajat celcius.

Artinya, fenomena ini berpeluang berkembang hingga mencapai El Nino fase Kuat saat NTB berada di puncak musim kemarau. Secara nasional, penguatan El Nino sering kali berkaitan dengan lonjakan titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Namun bagi wilayah NTB, dampak yang muncul diprediksi akan berbeda. Dengan struktur vegetasi dominan dan pola kerentanan lahan yang spesifik, ancaman bagi NTB bukan karhutla. Tetapi, kekeringan yang kronis dan krisis air bersih.

Kenaikan intensitas El Nino ke fase moderat dipastikan akan mempercepat penurunan debit air permukaan di NTB. Cadangan air di berbagai embung desa, waduk utama seperti Bendungan Batujai dan Pandanduri, hingga sumur bor produksi milik petani, terancam menyusut lebih cepat dari siklus kemarau normal.

Pemetaan Wilayah Rentan dan Langkah Mitigasi di NTB

Dampak pengurangan curah hujan ini diproyeksikan tidak merata, namun beberapa wilayah tadah hujan kronis di NTB wajib melakukan persiapan ekstra.

Sektor pertanian lahan kering di kawasan Lombok Tengah bagian Selatan, Lombok Timur bagian Selatan, dan hamparan savana pesisir di Pulau Sumbawa merupakan wilayah paling rentan terdampak krisis air bersih dan ancaman gagal panen.

Menyikapi perkembangan data iklim yang menunjukkan percepatan fase kering ini, BMKG mendesak pemerintah NTB dan masyarakat untuk melakukan langkah mitigasi konkret. Terlebih, saat ini hujan lokal masih turun.

“Masyarakat dapat memanfaatkan hujan yang masih terjadi guna mengantisipasi kekeringan yang umumnya terjadi pada musim kemarau. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan, khususnya pada saluran dan aliran air. Serta, memperhatikan kondisi debit air di wilayah sekitar,” tegasnya.

Selain itu, upaya pembersihan saluran irigasi dan manajemen pemanenan air hujan di tingkat desa merupakan langkah krusial. Agar sisa air bisa tertampung secara optimal.

BMKG berharap, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB bersama pemerintah daerah lain segera mengaktifkan Satuan Tugas (Satgas) siaga darurat kekeringan. Tujuannya, untuk memetakan jalur distribusi logistik bantuan air bersih ke titik kritis pada kuartal ketiga. (Inda)

Artikel Terkait

Back to top button