Disbud NTB Dorong Budaya Lokal Masuk Kurikulum Sekolah
Mataram (NTBSatu) – Dinas Kebudayaan (Disbud) NTB, mendorong dan memperkuat muatan budaya lokal dalam kurikulum sekolah. Rencananya penerapannya akan mulai tahun 2027 mendatang.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan mengatakan, langkah ini sebagai upaya menghadapi gempuran budaya luar dan derasnya perkembangan tren digital di kalangan pelajar.
Hal tersebut bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan upaya nyata untuk menyelamatkan karakter generasi muda agar tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus modernisasi.
Ihwan menjelaskan, pihak pemerintah sama sekali tidak anti terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, fenomena para pelajar di kawasan perkotaan yang saat ini lebih akrab dengan tarian modern (modern dance) merupakan hal wajar karena kebudayaan pada dasarnya bersifat dinamis.
“Tarian modern itu merupakan bagian dari budaya masyarakat saat ini. Kita tidak bisa menolak hal tersebut dan harus menerimanya sebagai kenyataan bahwa budaya terus berkembang sesuai zaman. Namun, tugas utama kita adalah memastikan mereka tidak melupakan akar budayanya. Pada 2027 mendatang, budaya lokal harus mengakar kuat di lingkungan sekolah,” ujarnya, Rabu, 19 Agustus 2026.
Sasar SD-SLB
Pemprov NTB telah menyiapkan skema kebijakan menyeluruh yang menyasar jenjang SD, SMP, hingga Sekolah Luar Biasa (SLB) di seluruh wilayah NTB. Pembelajaran Muatan Lokal (Mulok) akan dikembalikan ke fungsi dasarnya. Yaitu, penguasaan bahasa ibu seperti Bahasa Sasak, Samawa, dan Bima, serta pengenalan seni tari daerah.
“Nanti muatan lokalnya berupa bahasa daerah, seperti Bahasa Sasak, Bahasa Bima, dan Bahasa Samawa. Kita ajarkan yang umum terlebih dahulu di tingkat kabupaten, termasuk konten tarian wajib,” tambahnya.
Selain teori di dalam kelas, pihaknya akan memperkuat program ini melalui kegiatan ekstrakurikuler tradisi. Seperti seni Gendang Beleq, Peresean, hingga pembiasaan mengenakan pakaian adat.
Ihwan menjelaskan, Dinas Kebudayaan berperan menyusun regulasi. Sementara eksekusinya akan berkolaborasi erat dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga NTB.
Dinas Kebudayaan NTB menegaskan, pelaksanaan program ini tidak memboroskan anggaran daerah, tetapi tetap memberikan dampak positif secara langsung kepada siswa.
Ia optimistis Pemprov NTB dapat melahirkan Generasi Z yang adaptif terhadap teknologi modern. Namun tetap berakar kuat pada kearifan lokal. (Japriani)




