Pariwisata

Mounjet Sembalun Dongkrak Harga Stroberi Petani

Lombok Timur (NTBSatu) – Kehadiran Mounjet Sembalun membawa perubahan bagi petani stroberi di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur.

Destinasi wisata itu tidak hanya menawarkan pemandangan alam. Mounjet juga mengembangkan wisata petik stroberi yang melibatkan puluhan petani setempat.

Pengunjung cukup menyiapkan budget Rp25 ribu untuk menikmati wisata petik stroberi. Dengan biaya tersebut, pengunjung bisa masuk ke lahan dan memetik stroberi sepuasnya sesuai ketentuan yang berlaku di lokasi.

IKLAN

Konsep itu sekaligus membuka pasar baru bagi hasil pertanian warga.

Fahmi Ahmad Hayaza, salah satu pengelola Mounjet Sembalun, mengatakan kehadiran destinasi tersebut ikut meningkatkan nilai jual stroberi milik petani.

Perubahan itu terlihat dari harga yang petani dapatkan. Sebelum bergabung dengan Mounjet, petani menjual stroberi langsung di lapangan. Harganya hanya sekitar Rp5.000 per kilogram.

IKLAN

Kini harga di tingkat petani bisa mencapai Rp30.000 per kilogram. Sementara wisatawan yang membeli atau memetik langsung bisa mendapatkan harga sekitar Rp60.000 hingga Rp65.000 per kilogram.

“Dulu kita petik sendiri. Kita jual di lapangan. Harganya sampai Rp5.000. Sekarang sampai Rp30.000,” kata Fahmi kepada NTBSatu, Minggu, 13 September 2026.

Menurut Fahmi, kenaikan nilai jual itu tidak lepas dari konsep wisata yang Mounjet kembangkan.

Pengunjung tidak sekadar membeli buah. Mereka datang langsung ke lahan, menikmati suasana perkebunan, kemudian memetik stroberi sendiri.

Dengan membayar Rp25 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati pengalaman petik stroberi sepuasnya. Konsep tersebut membuat aktivitas pertanian sekaligus menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Mounjet juga menerapkan sistem giliran lahan. Satu lahan tidak menerima wisatawan setiap hari. Jika wisatawan masuk ke satu lahan hari ini, pengelola mengalihkan kunjungan ke lahan lain pada hari berikutnya.

Petani mendapat waktu untuk merawat tanaman dan menunggu buah kembali siap petik.

“Kita ada jadwalnya. Misalkan hari ini sawah ini dimasukkan tamu. Besoknya diliburkan. Dipindah lagi ke sawah yang lain,”

70 Petani dan 100 Lahan

Saat ini, sekitar 70 petani bergabung dalam pengelolaan lahan Mounjet. Mereka mengelola sekitar 100 petak lahan di Desa Sembalun Bumbung.

Jumlah tersebut meningkat jauh dibanding awal Mounjet berjalan sekitar dua tahun lalu. Saat itu, hanya dua petani yang bergabung.

Perkembangan jumlah petani tersebut menunjukkan semakin banyak warga yang melihat peluang dari wisata petik stroberi.

Fahmi mengatakan masih banyak petani yang ingin bergabung. Namun, pengelola memilih menutup pendaftaran sementara.

Mereka harus menjaga keseimbangan antara jumlah petani, produksi stroberi, dan jumlah kunjungan wisatawan.

Pengelola juga memperhatikan kondisi buah sebelum menerima petani baru. Jika produksi stroberi terbatas, pengelola khawatir petani tidak mendapat giliran kunjungan.

“Sekarang lagi musim-musimnya. Kita takut petaninya enggak dapat giliran. Makanya kita tolak dulu,” ujarnya.

Sistem giliran juga membantu menjaga kualitas stroberi.

Fahmi menyebut, ukuran buah di lahan Mounjet cenderung lebih besar. Petani tidak terus-menerus memasukkan wisatawan ke satu lahan.

Petani mendapat kesempatan untuk merawat tanaman dan mengolah kembali lahannya.

Menurut Fahmi, pola tersebut berbeda dengan sebagian lahan stroberi di pinggir jalan. Petani di lokasi tersebut cenderung menanam stroberi secara terus-menerus di lahan yang sama.

“Kalau stroberi itu ditanam sekarang, besok ditanam lagi di sini, kurang hasilnya. Harus gilir-giliran,” katanya.

Berdayakan Masyarakat Sekitar

Selain stroberi, Mounjet juga ikut membantu menyerap hasil pertanian lain milik warga. Pengelola membeli sayuran petani yang tidak laku di pasar. Sayuran tersebut kemudian mereka manfaatkan untuk kebutuhan di lokasi.

Langkah itu sekaligus menjadi bentuk kontribusi Mounjet kepada masyarakat sekitar. “Kalau ada petani yang tidak laku sayurnya, kita beli. Kita manfaatkan di sana,” kata Fahmi.

Kehadiran Mounjet juga mengubah aktivitas wisata di kawasan Sembalun Bumbung. Sebelum Mounjet hadir, wisatawan lebih banyak mencari lokasi petik stroberi di sepanjang jalur utama.

Kini wisatawan mulai masuk ke kawasan lahan petani. Terutama pada akhir pekan. Fahmi mengatakan, dampak tersebut terasa langsung bagi masyarakat.

“Memang luar biasa. Sebelumnya jauh beda,” ujarnya.

Bagi petani, Mounjet Sembalun kini tidak sekadar menjadi tempat wisata. Destinasi tersebut ikut membuka akses pasar baru bagi hasil pertanian warga.

Petani tidak hanya mengandalkan penjualan stroberi di lapangan. Mereka juga mendapat manfaat dari kedatangan wisatawan yang ingin merasakan langsung pengalaman memetik buah dari lahan.

Dari hanya dua petani saat awal berdiri, kini Mounjet melibatkan sekitar 70 petani.

Perkembangan itu menunjukkan wisata petik stroberi mulai menjadi salah satu peluang ekonomi baru bagi masyarakat Sembalun Bumbung. (*)

Artikel Terkait