Nasional

Kisah Pilu Mandala, Pelajar Samarinda yang Diduga Meninggal Akibat Sepatu Sempit

Mataram (NTBSatu) – Kisah pilu Mandala Rizky Syaputra, pelajar kelas XI Pemasaran 2 SMKN 4 Samarinda, menyita perhatian publik setelah kabar meninggalnya tersebar luas di media sosial.

Cerita tentang kesehariannya kemudian viral, terutama setelah muncul dugaan sepatu sempit ikut memicu kondisi kesehatannya memburuk.

Unggahan Instagram @trcppakaltim menjelaskan, kondisi Mandala yang mengalami pembengkakan pada kaki. Narasi unggahan menggambarkan sepatu yang ia gunakan sudah tidak layak pakai.

“Sepatu yang sempit dan tanpa alas bagian bawah dan di lapisi pembungkus buah berwarna pink dan tetap dipakainya walaupun kakinya bengkak,” tulis akun @trcppakaltim.

Selain kondisi sepatu, Mandala juga menjalani aktivitas magang pada salah satu pusat perbelanjaan. Aktivitas tersebut menuntutnya berdiri lama serta aktif melayani pelanggan. Situasi itu membuat tekanan pada kondisi fisiknya semakin berat.

Meski menghadapi keterbatasan, Mandala dikenal sebagai sosok yang tidak pernah mengeluh. Ia menjalani hari-harinya dengan penuh keteguhan.

“Almarhum tipe anak yang tidak pernah mengeluh karena sadar dia dan saudaranya anak yatim. Bahkan ia hanya memiliki sandal hotel yang tipis,” tambahnya.

Kondisi kesehatan Mandala terus menurun. Ia menahan rasa sakit tanpa banyak bicara hingga nafsu makan menurun drastis. Tubuhnya semakin kurus seiring waktu.

“Bengkak kakinya sempat diobati dan dipijat. Namun karena menahan nyeri dan sakit di depan orang tuanya berakibat tubuhnya semakin kurus karena tidak mau makan. Hingga hari Jumat, 24 April 2026, ia mengembuskan napas terakhirnya,” lanjutnya.

Unggahan itu juga memuat penyesalan sang ibu yang belum mampu membelikan sepatu baru untuk anaknya.

Mandala Menjadi Perhatian Sekolah

Pihak SMKN 4 Samarinda memberikan penjelasan resmi melalui akun Instagram @smkn4_samarinda pada 4 Mei 2026. Sekolah menyampaikan, kisah pilu Mandala telah menerima perhatian sejak kelas X karena kondisi ekonomi keluarga. Bantuan berupa seragam, perlengkapan belajar, hingga sembako terus mengalir secara berkala.

Memasuki awal 2026, Mandala mengikuti program Pra-PKL jurusan Pemasaran sejak 9 Februari hingga 20 Maret setelah pembekalan pada 8 Februari. Guru mengenalnya sebagai siswa yang aktif dan bersemangat selama kegiatan berlangsung.

Pada pertengahan Maret, sekolah menyalurkan zakat sebesar Rp200.000 melalui perwakilan keluarga. Setelah itu, Mandala masih mengikuti kegiatan belajar pada akhir Maret. Namun pada 1 April, ia datang ke sekolah dengan kondisi pucat sehingga guru menyarankan istirahat di rumah.

Selama April, ia beberapa kali mengajukan izin sakit. Pada 10 April, ibunya datang ke sekolah untuk meminta bantuan biaya pengobatan non-medis sebesar Rp1.100.000. Sekolah langsung menyalurkan bantuan tersebut dari kas masjid, serta menyarankan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan agar mendapat diagnosis jelas.

Permintaan bantuan kembali muncul beberapa hari kemudian. Pada 20 April, Mandala mengirim foto kondisi kakinya yang mulai membengkak kepada wali kelas.

Keesokan harinya, wali kelas bersama pihak sekolah dan teman sekelas mengunjungi rumahnya. Mereka melihat kondisi Mandala yang lemah, berbicara pelan, serta berjalan lambat.

Keluarga sebenarnya memiliki BPJS, namun statusnya tidak aktif akibat tunggakan dan kendala administrasi. Pada 22 April, Mandala sempat memberi kabar bahwa kondisinya membaik. Namun sehari setelahnya, guru dan teman kembali datang membawa bantuan uang, makanan, serta susu.

Dalam kunjungan itu, fakta tentang sepatu sempit akhirnya terungkap. Sekolah segera menyusun rencana pembelian sepatu baru serta pengobatan lanjutan ke puskesmas. Rencana tersebut belum sempat terlaksana karena Mandala meninggal dunia pada dini hari 24 April.

Setelah kabar duka muncul, sekolah mengambil peran penuh dalam proses pemakaman hingga penggalangan donasi untuk keluarga.

Pihak sekolah juga menegaskan, penyebab kematian belum dapat dipastikan secara medis. Sekolah menyebut, sepatu bukan penyebab utama serta menilai kurangnya keterbukaan informasi dari keluarga menghambat penanganan lebih cepat. (*)

Back to top button