Ekonomi Bisnis

Perputaran Uang Hasil Usaha Ternak Kurban di NTB Tembus Setengah Triliun

Mataram (NTBSatu) – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB mencatat, perputaran uang hasil usaha ternak kurban mencapai setengah triliunan rupiah.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Muhamad Riadi mengatakan, angka ini dari berbagai sumber usaha menjelang perayaan Iduladha 2026.

Beberapa di antaranya, usaha penjualan ternak kurban. Termasuk, usaha transportasi untuk pengangkutan ternak-ternak tersebut.

IKLAN

“Perputaran uang mencapai setengah triliun rupiah. Sekitar Rp500-an miliar,” kata Riadi, Kamis, 21 Mei 2026.

Sebagai informasi, sampai akhir April 2026 kemarin, total pengiriman sapi hewan kurban dari NTB ke Jabodetabek mencapai 24.974 ekor. Kemudian, dengan tambahan untuk kebutuhan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, totalnya 27.449 ekor.

“Kita tidak hanya menyuplai untuk kebutuhan Jabodetabek, tetapi untuk keseluruhan di Kalimantan juga. Dan sebagian kecilnya di Lampung,” katanya.

IKLAN

Riadi mengungkapkan, satu ekor sapi yang dikirim ke Jabodetabek, harga jualnya sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta per ekornya. Sehingga dari total 24 ribu lebih yang dikirim tersebut, jika terjual semua, hasilnya mencapai kurang lebih Rp500 miliar.

Kemudian dari usaha transportasi, perputaran uang mencapai Rp29 juta lebih. Angka ini dari hasil mengangkut sapi-sapi tersebut. Hitungannya, satu truk mengangkut 25 ekor sapi dengan biaya sewa Rp30 juta per truk.

“Belum lagi dari yang mengawal sapinya. Satu truk itu biasanya empat orang. Itu dibayar per hari sama pemilik sapinya,” ujarnya.

“Selanjutnya, dari penyiapan pakannya. Terus, biaya sewa penangkap sapi yang dilepas liar. Per ekor sekitar Rp250.000. Itu semua perputaran ekonominya,” tambahnya.

Tren Pengiriman Sapi NTB Meningkat

Riadi menyampaikan, tren pengiriman sapi NTB ke daerah Jabodetabek dari beberapa tahun ke belakang menunjukkan peningkatan.

Pada 2023, jumlah pengiriman sebanyak 23.539 ekor. Kemudian, 2024 sebanyak 22.157. Pada 2025 sebanyak 20.492. Terakhir, 2026 sebanyak 24.974 ekor.

Khusus 2026, lanjutnya, proses pengiriman sapi ke Jabodetabek berjalan normal. Tidak ada insiden ternak mati atau zero accident.

Kesuksesan ini setelah Gubernur Iqbal membentuk satgas lalu lintas ternak. Melibatkan seluruh stakeholder terkait.

“Kalau tahun 2025 itu, satu track (jalur, red) itu diisi 30. Padahal kuotanya hanya 25 itu yang menyebabkan banyak kematian, karena kepanasan kekurangan air. Belum lagi tunggu di pelabuhan,” jelasnya. (*)

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait

Back to top button