Bupati Jarot Kawal Proyek Unggas Rp1,7 Triliun, Sebut Investor Segera Turun ke Sumbawa
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Bupati Sumbawa, H. Syarafuddin Jarot, bergerak cepat mengawal Proyek Hilirisasi Unggas Terintegrasi senilai Rp1,7 triliun agar tetap berlabuh di Sumbawa.
Langkah itu ia tempuh melalui pertemuan dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, PT Berdikari, dan Direktorat Hilirisasi saat menghadiri Pekan Nasional (Penas) XVII Petani dan Nelayan Tahun 2026 di Gorontalo.
Pertemuan tersebut menghasilkan sinyal positif. Kementerian Pertanian bersama PT Berdikari segera mengirim tim ke Sumbawa untuk mengecek kesiapan lahan yang telah Pemkab Sumbawa siapkan.
“Barusan kami membahas proyek unggas terintegrasi di Sumbawa bersama Direktorat Jenderal Peternakan, Direktur Utama Berdikari, dan Direktur Hilirisasi. Alhamdulillah, tim dari Kementerian Pertanian dan PT Berdikari akan segera turun ke Sumbawa untuk memastikan kesiapan lahan,” ujar Bupati Jarot, Sabtu, 20 Juni 2026.
Bupati Jarot hadir bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sumbawa, Hj. Ida Fitria Syarafuddin Jarot, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa beserta jajaran. Serta, Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Sumbawa.
Ia menegaskan, proyek yang masuk Program Strategis Nasional (PSN) tersebut menjadi salah satu investasi terbesar yang pernah masuk ke Kabupaten Sumbawa. Nilai investasinya mencapai Rp1,7 triliun dengan dukungan BUMN sektor pangan melalui ID FOOD, PT Berdikari, dan Danantara.
“Proyek ini bukan sekadar membangun peternakan ayam. Proyek ini akan melahirkan rantai industri yang utuh dari hulu sampai hilir,” tegasnya.
Rencana pengembangan mencakup pembibitan, pabrik pakan, budidaya ayam, rumah potong unggas, industri pengolahan hasil, hingga jaringan distribusi. Skema itu akan memperkuat posisi Pulau Sumbawa sebagai salah satu pusat peternakan unggas nasional.
Menurut Jarot, manfaat ekonomi yang lahir dari proyek tersebut jauh lebih besar daripada nilai investasinya. Kehadiran industri terintegrasi akan membuka ribuan peluang kerja sekaligus menggerakkan usaha masyarakat pada sektor pendukung.
“Proyek ini akan menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat peternak rakyat, dan memicu pertumbuhan berbagai industri turunan di daerah,” katanya.
Siapkan Opsi Lahan
Untuk mempercepat realisasi investasi, Pemkab Sumbawa telah menyiapkan sejumlah opsi lahan. Selain kawasan Serading, pemerintah juga menawarkan Teluk Santong, Bangkong, dan Kerato sebagai alternatif lokasi pengembangan.
“Kami ingin memastikan proyek strategis ini tetap berada di Sumbawa dan segera masuk tahap realisasi. Karena itu, beberapa alternatif lahan telah kami siapkan,” ujarnya.
Jarot mengungkapkan, hasil komunikasi dengan pemerintah pusat dan pelaksana proyek menunjukkan komitmen kuat pengembangan industri unggas terintegrasi tetap berlangsung di Pulau Sumbawa. Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Bima nantinya akan memegang peran sesuai kebutuhan pengembangan kawasan.
“Kami optimistis proyek ini akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di Pulau Sumbawa,” ungkapnya.
Ia menilai, keberadaan proyek tersebut akan memperkuat daya saing daerah, memperluas investasi, serta mempercepat transformasi sektor peternakan menuju industri modern berbasis hilirisasi.
“Target kami jelas, Sumbawa harus menjadi pusat pertumbuhan peternakan unggas nasional yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)




