Lombok Barat

Bentrokan Sesela-Jatisela Bukan Kali Pertama, Camat Soroti Pergaulan Pemuda dan Miras

Lombok Barat (NTBSatu) – Bentrok pemuda antara Dusun Kebon Lauq, Desa Sesela, dan Dusun Johar Pelita, Desa Jatisela, ternyata bukan kejadian pertama.

Camat Gunungsari, Zulkifli menyebut, konflik serupa terjadi secara berulang hingga empat atau lima kali. Bentrok terbaru terjadi saat perayaan Maulid, Sabtu, 12 September kemarin.

“Jadi ini adalah permasalahan klasik, bisa saya katakan begitu,” ujar Zulkifli kepada NTBSatu, Senin, 14 September 2026.

IKLAN

Zulkifli menjelaskan, posisi Sesela dan Jatisela yang berbatasan sering memicu gesekan antar warga. Persoalan biasanya bermula ketika warga melintasi dusun perbatasan saat kegiatan masyarakat berlangsung.

Warga kemudian menegur tindakan yang mereka anggap tidak etis. Namun, teguran tersebut sering mendapat respons keras dari pemuda yang bersangkutan.

“Ketika di Dusun Perbatasan dua Desa ini ada acara, kemudian ada warga yang melintasi salah satu Dusun Perbatasan tersebut. Kemudian melakukan sesuatu yang menurut warga desa, tempat warga dusun itu kurang etis, maka dilakukan teguran,” lanjutnya.

IKLAN

Menurut Zulkifli, respons keras terhadap teguran kemudian berkembang menjadi saling tersinggung. Situasi tersebut akhirnya memicu perkelahian antar kelompok pemuda.

Damai Belum Hentikan Konflik

Zulkifli mengatakan, pemerintah desa dan aparat sebelumnya sudah beberapa kali menyelesaikan konflik melalui perdamaian dan awig-awig. Awig-awig tersebut bahkan memuat larangan mengulangi bentrokan. Namun, kesepakatan lama belum sepenuhnya mencegah konflik baru.

“Karena kejadian ini pernah terjadi bahkan berulang-ulang, ini mungkin yang keempat ke lima kali setiap tahun pernah terjadi,” ujarnya.

Ia menilai, persoalan tersebut bukan konflik personal antarindividu. Pelaku yang terlibat juga berbeda dari bentrokan sebelumnya. Namun, kelompok pemuda dari kedua wilayah tetap menjadi pihak yang paling sering terlibat.

“Pelakunya tidak sama, tapi kelompok-kelompoknya ya kelompok pemuda,” katanya.

Minuman Keras Jadi Pemicu

Selain persoalan teguran, Zulkifli menyebut konsumsi Minuman Keras (miras) turut memicu bentrokan terbaru. Ia mengatakan sebagian pemuda membawa minuman saat kegiatan hiburan berlangsung.

“Yang kemudian para pemuda ini karena tidak sadar karena pengaruh tadi itu, dia kemudian melakukan tindakan yang tidak etis,” katanya.

Menurutnya, kebiasaan tersebut muncul dalam kegiatan hiburan yang mengiringi perayaan Maulid. Kegiatan itu biasanya berupa musik, nyanyian, atau hiburan sederhana yang digelar pemuda secara swadaya.

“Budaya masyarakat di sana itu kalau maulidan itu identik kemudian dengan hiburan, nyanyi-nyanyi bersama,” ujar Zulkifli.

Zulkifli berharap, aparat melakukan pencegahan langsung selama kegiatan masyarakat berlangsung. Menurutnya, patroli dapat membantu mencegah konsumsi minuman keras dan potensi provokasi.

“Kalau bisa sebenarnya itu yang kita lakukan pada hari pelaksanaan itu, patroli jangan sampai ada yang minum miras itu,” ujarnya.

Sebagai informasi, kedua pihak pemuda kemudian sepakat berdamai di Mapolresta Mataram, Senin, 14 September 2026. Pemerintah desa juga menyanggupi perbaikan sepeda motor yang rusak. Sementara itu, warga yang mengalami luka mendapat penanganan medis. (*)

Khazani Darunnafis

Khazani atau Zani adalah Jurnalis NTBSatu yang fokus menulis di isu Daerah Lombok Barat, Politik, Kebencanaan dan Human Interest. Ia merupakan lulusan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram dengan Konsentrasi Jurnalistik.

Artikel Terkait