Rupiah Tertekan, Harga Bawang di Pasar Tradisional Mataram Naik Signifikan
Mataram (NTBSatu) – Harga komoditas bawang pada sejumlah pasar tradisional Kota Mataram mengalami kenaikan signifikan dalam sepekan terakhir.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan harga, terutama bawang putih yang masih bergantung pada pasokan impor.
Berdasarkan kurs pasar, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa, 9 Juni 2026 berada pada kisaran Rp18.140 hingga Rp18.170 per dolar AS.
Kondisi tersebut membuat biaya impor berbagai komoditas semakin mahal, termasuk bawang putih yang sebagian besar kebutuhan nasionalnya masih bergantung dari luar negeri.
Harga bawang putih pada Pasar Kebon Roek, Ampenan, kini mencapai Rp50.000 per kilogram. Angka tersebut naik dari harga normal yang biasanya berkisar Rp40.000 per kilogram. Sementara itu, harga bawang merah mengalami kenaikan menjadi Rp60.000 per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp48.000 hingga Rp50.000 per kilogram.
Salah satu pedagang Pasar Kebon Roek, Nurmansyah mengatakan, kenaikan harga mulai terjadi sekitar sepekan terakhir. Menurutnya, harga yang diterima pedagang dari distributor terus mengalami penyesuaian sehingga berdampak pada harga jual kepada konsumen.
“Sudah sekitar satu minggu ini harga bawang terus naik. Modal kami juga ikut naik dari distributor, jadi harga jual ke pembeli terpaksa naik juga,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa, 9 Juni 2026.
Pasokan Bergantung Luar
Ia menjelaskan, kebutuhan bawang putih Kota Mataram masih banyak bergantung pada pasokan luar daerah dan impor. Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya yang harus dikeluarkan importir untuk mendatangkan barang dari negara asal menjadi lebih tinggi. Kondisi tersebut kemudian berimbas pada kenaikan harga pada tingkat distributor hingga pedagang eceran.
Selain faktor impor, meningkatnya biaya produksi dan distribusi kenaikan harga bawang merah. Sejumlah kebutuhan pertanian seperti pupuk nonsubsidi, pestisida, dan obat-obatan tanaman mengalami kenaikan harga yang turut dipengaruhi pergerakan kurs. Sementara biaya transportasi dari sentra produksi menuju berbagai daerah pemasaran ikut meningkat seiring tingginya biaya operasional.
“Kenaikan bukan hanya bawang putih, bawang merah juga naik. Sekarang sudah Rp60 ribu per kilo, padahal biasanya sekitar Rp48 ribu sampai Rp50 ribu,” kata Nurmansyah.
Kenaikan harga komoditas bawang tersebut mulai berdampak terhadap daya beli masyarakat. Sejumlah konsumen memilih mengurangi jumlah pembelian dan hanya membeli sesuai kebutuhan harian, karena harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga dengan kebutuhan pokok lainnya.
“Pembeli memang ada yang tetap beli, tapi jumlahnya berkurang. Banyak yang sekarang membeli secukupnya saja karena kebutuhan lain juga banyak,” ungkapnya.
Menurut Nurmansyah, kondisi tersebut membuat pedagang berada pada posisi yang tidak mudah. Pada satu sisi mereka harus mengikuti kenaikan harga dari distributor, sementara pada sisi lain penurunan daya beli masyarakat menyebabkan omzet penjualan ikut terdampak.
“Pembeli sekarang lebih banyak yang ngirit. Biasanya beli satu kilo, sekarang ada yang setengah kilo atau seperempat saja. Mudah-mudahan harga cepat turun supaya jualan kembali ramai,” tutup Nurmansyah. (*)




