Kasus Pembacokan di Udayana, Psikolog Ungkap Pemicu Fenomena Kriminalitas Anak
Mataram (NTBSatu) – Peristiwa pembacokan di kawasan Jalan Udayana, Kota Mataram, yang melibatkan anak di bawah umur pada Minggu, 25 Oktober 2026 menarik perhatian ahli psikologi.
Tragedi nahas ini memakan tiga korban dengan satu di antaranya meninggal dunia, sehingga memicu keprihatinan publik. Peristiwa ini sekaligus mendorong perlunya penelusuran mendalam mengenai pemicu aksi kekerasan ekstrem di kalangan remaja.
Ahli Psikolog Klinis, Pujiarohman, S.Psi., M.Psi. menilai, tindakan nekat hingga merenggut nyawa tersebut berakar dari proses tumbuh kembang emosional anak yang belum matang dan kompleks.
“Kalau kita melihat dari sisi psikologi, tindakan kekerasan ekstrem seperti pembacokan pada remaja sebenarnya tidak bisa dijelaskan. Terutama hanya karena anak tersebut pemarah atau tidak punya empati,” ujarnya kepada NTBSatu pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Ia juga menerangkan, kemampuan mengendalikan emosi pada masa anak-anak, mempertimbangkan risiko, dan memikirkan akibat dari tindakan masih terus berkembang. Sementara dorongan untuk mendapat pengakuan dan penerimaan dalam kelompok begitu dominan.
Dinamika Keluarga dan Tekanan Kelompok
Keterlibatan anak dalam lingkaran kriminalitas jalanan juga tidak bisa lepas dari pengaruh lingkungan terdekat. Termasuk pola asuh keluarga yang kurang konsisten dan dinamika rumah tangga yang penuh konflik.
Selain itu, minimnya pengawasan membuat anak rentan mengalami kegagalan dalam melatih kontrol diri.
Meski demikian, pemicu dorongan terbesar di lapangan kerap terjadi karena tekanan kelompok sebaya (peer pressure). Kebutuhan akan pengakuan dan rasa solidaritas yang keliru memicu anak nekat melakukan tindakan anarkistis yang sejatinya tidak berani mereka lakukan secara mandiri.
“Ada anak yang sebenarnya tidak punya keberanian melakukan kekerasan sendirian. Tetapi ketika bersama kelompok, dia ikut karena takut dianggap pengecut. Dia ingin menunjukkan keberanian, atau merasa harus membela temannya,” tegasnya.
Eskalasi ini sering kali semakin parah oleh aksi saling ejek di media sosial. Sehingga sering kali berujung pada bentrokan fisik menggunakan senjata tajam.
Urgen Intervensi Preventif Lintas Sektor
Guna meredam fenomena kriminalitas anak yang kian meresahkan masyarakat Mataram, langkah intervensi preventif dan pembinaan psikologis harus segera dieksekusi secara nyata.
Penanganan tidak boleh menunggu sampai timbul korban jiwa baru, melainkan harus menyasar pencegahan sejak dini. Orang tua memegang peranan kunci untuk lebih peka mendeteksi perubahan perilaku anak serta mengenali lingkaran pergaulannya.
Di sisi lain, lembaga pendidikan perlu membekali siswa dengan keterampilan mengendalikan kemarahan, memediasi konflik tanpa kekerasan, serta memperkuat pendampingan melalui guru Bimbingan Konseling (BK).
Pemerintah daerah bersama kepolisian dan dinas terkait juga harus membangun sinergi nyata dalam memetakan kelompok remaja berisiko.
Langkah kolektif ini penting demi menanamkan pemahaman bahwa keberanian sejati terletak pada kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi konflik, bukan pada tindakan menyakiti orang lain. (*)




