Cerita Sukses Ryan: Petani Muda di Mandalika, Panen Rupiah dari Selada Hidroponik

Mataram (NTBSatu) — Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, identik dengan sirkuit MotoGP, deretan hotel berbintang, dan pantai berpasir putih.
Namun di sela hiruk pikuk pariwisata itu, ada denyut lain yang perlahan ikut membentuk wajah masa depan kawasan ini.
Di Dusun Lenser, Desa Kuta Mandalika, berdiri sebuah rumah kaca sederhana yang menjadi pusat aktivitas kelompok tani yang beranggotakan 10 pemuda setempat.
Di dalamnya, ribuan lubang tanam hidroponik berisi selada segar tanpa sentuhan pestisida berjajar rapi.
Ketua kelompoknya adalah Ryan Pratama (25), petani muda sekaligus mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB.
Ia punya mimpi besar menjadikan pertanian sebagai mitra strategis industri wisata.
Baginya, pariwisata Mandalika tak cukup hanya hidup dari atraksi dan akomodasi.
Bermodal lahan milik keluarga seluas 52 are, Rian membangun dua greenhouse berukuran 7×10 meter dan 10×10 meter.
Di sinilah selada hidroponik varietas Batavia impor tumbuh subur dengan sistem NFT (Nutrient Film Technique).
Pupuk berasal dari kotoran kambing yang ia ternakkan sendiri, sehingga produk benar-benar organik.
“Hasilnya, selada hidroponik dengan rasa lebih manis dibanding selada tanah, tekstur renyah, warna daun cerah, dan tetap segar hingga sepekan tanpa kulkas jika akarnya tidak dipotong,” ujarnya sambil memeriksa satu per satu daun selada di bawah naungan plastik rumah kaca.
Ryan memulai usaha pada Agustus 2024 dengan modal Rp10 juta untuk membangun greenhouse pertama.
Awal tahun berikutnya, cuaca buruk merusak konstruksi tersebut. Untung lah, bantuan dari ITDC senilai Rp26 juta menjadi penopang untuk membangun greenhouse kedua.
Kini, ia mengelola 1.000 lubang tanam dengan panen rata-rata setiap 45 hari mencapai 216 kilogram.
“Harga jual normal Rp35 ribu per kilogram atau Rp6 ribu per batang, dan bisa melonjak menjadi Rp60–80 ribu per kilogram saat permintaan tinggi, seperti musim liburan,” ujarnya pada NTBSatu.
Pasar yang Menunggu
Fakta di lapangan menunjukkan, kebutuhan sayuran segar untuk hotel dan restoran premium di Mandalika sangat besar, tetapi pasokan lokal masih minim.
Untuk sayuran saja, sebagian besar suplai harus didatangkan dari luar daerah.
Di Kuta, Rian adalah satu-satunya petani hidroponik yang masih aktif berproduksi.
“Dulu pernah ada, tapi sayang kayaknya lahannya terbengkalai,” katanya.

Restoran-restoran populer di Kuta Mandalika seperti Boom Burger, Asthari, dan Keker sudah menjadi pelanggan tetap Rian.
Permintaan juga berdatangan dari luar daerah seperti Mataram dan Bima.
Pasar hotel berbintang di Mandalika pun terbuka lebar. Hotel Pullman pernah menawarinya kontrak untuk berkerja sama.
Tetapi ada tantangan perihal standar kualitas ketat yang harus ia penuhi dari segi bentuk daun, ukuran, hingga konsistensi pasokan.
“Hotel itu tidak hanya butuh sayur segar, tapi juga konsistensi kualitas. Itu yang sedang kami kejar,” katanya
Tantangan dari Musim
Meski potensi besar, Rian mengungkapkan, bertani di Kuta punya tantangan tersendiri. Lokasinya yang dekat pantai membuat sumber air mengandung kadar garam cukup tinggi dan cenderung basa, sehingga pH larutan nutrisi cepat naik.
“Kalau pH air terlalu tinggi, tanaman susah menyerap nutrisi. Solusinya kita rutin pakai pH down untuk menetralkan, supaya tanaman tetap sehat,” jelasnya.
Selain itu, musim hujan membawa risiko serangan hama dan penyakit seperti mata kodok yang menular lewat udara.
Produksi bisa turun drastis, sementara biaya operasional mencakup bibit, pupuk, listrik, dan bahan penurun pH mencapai Rp2 juta per bulan.
“Omset normalnya perbulan kita bisa Rp5-6 juta, tapi kalau anjlok hanya Rp3 juta,” ungkapnya.
Meski demikian, Rian tetap optimis. Ia memiliki target untuk mengembangkan kapasitas hingga 5.000 lubang tanam dengan investasi sekitar Rp200 juta.
Dengan kapasitas ini, ia yakin bisa memenuhi permintaan hotel dan restoran besar, sekaligus membuka lapangan kerja bagi pemuda desa.

Selain itu, peluang untuk menanam sayuran khusus seperti romaine, basil, dan arugula yang selama ini masih bergantung pada pasokan dari Bali pun terbuka lebar.
“Ada pengusaha dari Jakarta yang mau kerja sama. Lahannya dia punya, nanti kita yang garap. Semoga bisa terwujud dalam waktu dekat,” harapannya.
Pelatihan Hidroponik dan Pariwisata Berkelanjutan
Upaya ini juga didukung lewat sinergi antara kelompok tani lokal dan berbagai pihak.
Kelompok tani Hydroku, yang dijalankan Ryan terus belajar dan mendapat pelatihan melalui program kolaborasi ITDC bersama Universitas Mataram yang berlangsung sekali di bulan November 2024 dan dia kali pada Mei 2025.
Program ini bertujuan membentuk kelompok tani hidroponik yang terorganisir, memperkuat struktur organisasi, sistem keuangan, serta strategi produksi dan pemasaran.
Pelatihan dan bimbingan telah dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan, meliputi teknik budidaya, manajemen usaha, hingga strategi pemasaran produk.
Ir. Nurahman, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Mataram, yang melatih kelompok tani Ryan menekankan dua hal penting agar hidroponik berkembang di Kuta.
Pertama, mengubah mindset masyarakat bahwa pertanian, menjanjikan keuntungan dengan kepastian pasar.
“Ini perlu penyuluhan dan contoh nyata, bukan hanya wacana,” tegasnya.
Kedua, pembinaan yang konsisten dari proses budidaya hingga analisis kebutuhan pasar.
Apalagi, lahan pertanian di NTB semakin sempit. Kebutuhan selada di Kuta Mandalika dan daerah wisata masih jauh dari cukup, sehingga peningkatan produktivitas menjadi keharusan.

Menurutnya, jika kebutuhan hortikultura untuk pariwisata dapat dipenuhi oleh petani lokal Kuta, dampaknya akan luar biasa bagi ekonomi masyarakat.
“Dengan begitu, pariwisata tidak hanya dinikmati oleh mereka yang terjun langsung di sektor wisata, tetapi juga oleh masyarakat umum. Efek domino ekonomi ini akan terasa luas,” pungkas Nurrahman. (*)