Advertorial

Di Balik Hijaunya Tambang Batu Hijau

Mataram (NTBSatu) – Bagi Jorina Waworuntu, lingkungan bukan sekadar istilah yang hidup di dalam dokumen, regulasi, atau laporan operasional. Lingkungan adalah ruang hidup. 

Ia hadir dalam air yang kita gunakan, udara yang kita hirup, tanah tempat kita berpijak, tumbuhan di sekitar kita, hingga manusia yang menjadi bagian dari ekosistem itu sendiri. 

Dalam pandangannya, menjaga lingkungan bukan hanya tentang memenuhi kewajiban, tetapi menjaga kualitas kehidupan itu sendiri. Cara pandang tersebut terbentuk selama lebih dari dua dekade tinggal dan bekerja di Site Batu Hijau. 

IKLAN

Sebagai Head of Environment Department AMMAN, Jorina memimpin tim yang memastikan operasional perusahaan berjalan sesuai regulasi sekaligus terus meningkatkan praktik pengelolaan lingkungan. Namun baginya, keberhasilan itu tidak pernah lahir dari satu orang. 

“Lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Yang membuat sebuah sistem berjalan adalah orang-orang yang memiliki komitmen dan konsistensi.

IKLAN

Pesan itu terasa semakin relevan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengangkat tema ‘Urgent Climate Action and Ecosystem Restoration’. 

Menurut Jorina, perubahan iklim kini bukan lagi isu yang terasa jauh. Dampaknya sudah terlihat melalui cuaca yang semakin sulit diprediksi, curah hujan ekstrem, hingga musim kemarau yang lebih panjang. 

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa setiap sektor, termasuk industri pertambangan, memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Di AMMAN, komitmen tersebut dimulai dari prinsip yang paling mendasar: kepatuhan. Kepatuhan bukan sekadar memenuhi persyaratan regulasi, melainkan fondasi untuk membangun operasional yang bertanggung jawab. 

“Karena itu, pengelolaan lingkungan didukung oleh sistem yang menyeluruh, mulai dari perencanaan, infrastruktur, pelatihan, hingga penguatan kompetensi karyawan,” katanya.

Salah satu wujud nyata komitmen tersebut adalah reklamasi lahan. Hingga akhir 2025, AMMAN telah mereklamasi 859,61 hektare lahan, termasuk capaian reklamasi tahunan terbesar dalam sejarah Batu Hijau pada 2025 seluas 92,67 hektare. 

Reklamasi ini bukan hanya tentang menanam kembali lahan, tetapi mencakup proses panjang mulai dari penyelamatan tanah, penataan lahan, pengendalian erosi, penebaran tanaman penutup tanah, penanaman, hingga pemeliharaan. 

“Komitmen tersebut juga meluas ke luar area operasional,” ujarnya. 

AMMAN menjalankan rehabilitasi daerah aliran sungai seluas sekitar 3.600 hektare, mendukung program perhutanan sosial, konservasi laut di Gili Balu melalui Transformasea, hingga konservasi penyu di pesisir selatan Sumbawa. Berbagai inisiatif ini menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat.

Dalam upaya menekan emisi, AMMAN juga terus memperkuat transisi menuju energi yang lebih bersih. Sejak 2022, PLTS berkapasitas 26,8 MWp telah beroperasi dan sepanjang 2025 membantu menghindari emisi sekitar 34.794 ton CO₂e. 

Di saat yang sama, perusahaan juga mengembangkan Combined Cycle Power Plant (CCPP) berkapasitas 450 MW yang menggunakan tenaga gas sebagai bagian dari transisi menuju profil operasi yang lebih rendah karbon. 

Selain energi, pengelolaan air menjadi perhatian penting. Untuk memperkuat ketahanan terhadap musim kemarau, AMMAN membangun fasilitas desalinasi di Benete dan Sejorong serta mengoptimalkan pemanfaatan kembali air dalam operasional. 

Sementara itu, pemanfaatan citra satelit membantu perusahaan memantau perubahan kondisi lahan secara lebih cepat sehingga pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara lebih akurat dan berbasis data.

Namun, di balik seluruh infrastruktur, teknologi, dan program besar tersebut, Jorina percaya bahwa faktor penentunya tetaplah manusia. 

Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan dibangun melalui kebiasaan sehari-hari: menggunakan energi dan air secara bijak, mengurangi limbah, menjaga area kerja, serta mematuhi setiap prosedur lingkungan. Ia sendiri secara rutin mengikuti kegiatan penanaman pohon setiap tahun sebagai bentuk komitmen yang sederhana namun konsisten.

Bagi Jorina, aksi iklim tidak selalu dimulai dari langkah besar. Justru kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten menjadi fondasi lahirnya perubahan yang lebih luas. Filosofi itulah yang terus ia bawa selama memimpin pengelolaan lingkungan di AMMAN.

Dari Batu Hijau, kisah Jorina mengingatkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar target atau program perusahaan. Ia adalah perjalanan panjang yang dibangun melalui disiplin, kolaborasi, dan kepedulian. Sebab pada akhirnya, menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan, hari ini, esok, dan bagi generasi yang akan datang. (*)

Artikel Terkait