Atap Ilalang Sekotong Tembus Pasar Dunia, Tapi Lombok Barat Belum Nikmati Status Daerah Eksportir
Lombok Barat (NTBSatu) – Ribuan lembar atap ilalang dari Desa Cendimanik, Kecamatan Sekotong, rutin berlayar ke pasar internasional. Produk kerajinan warga ini bahkan telah sejumlah negara gunakan, mulai dari Spanyol hingga Malaysia.
Namun ada ironi di balik keberhasilan tersebut. Lombok Barat belum tercatat sebagai daerah eksportir produk yang lahir dari tangan warganya sendiri.
Selama ini, pengiriman ke luar negeri masih melalui pengusaha di Bali dan Jawa. Akibatnya, nilai tambah ekspor lebih banyak tercatat dan mengatasnamakan daerah lain.
Salah satu pelaku usaha atap ilalang di Sekotong, Sahwan, mengatakan usahanya telah berjalan selama sekitar 30 tahun. Ia mengaku permintaan datang dari berbagai daerah dan luar negeri.
“Hasil kerajinan ini kami kirim ke Bali, hotel-hotel di Lombok, dan kadang ke luar negeri,” ujarnya, Minggu, 21 Juni 2026.
Dalam kondisi normal, usahanya mampu memproduksi 400 hingga 500 lembar atap setiap hari. Saat pesanan besar datang, produksi bisa melonjak hingga 1.000 lembar per hari. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, jumlah pekerja ikut bertambah.
“Kami bisa mempekerjakan sampai 50 atau 60 orang kalau pesanan sedang banyak,” sebutnya.
Menurut Sahwan, negara tujuan pengiriman antara lain Spanyol, Malaysia, hingga Israel. Dalam satu kali pengiriman, pesanan bisa mencapai 10 ribu lembar atap. “Kalau ekspor besar bisa sampai tiga truk Fuso,” ujarnya.
Sumber Penghidupan Puluhan Harga
Usaha ini menjadi sumber penghidupan bagi puluhan keluarga di Desa Cendimanik. Namun Sahwan menilai keuntungan yang ia peroleh masih belum maksimal.
Sebab, pengusaha lokal belum dapat mengekspor produknya secara langsung. Barang harus akan ia jual lebih dulu kepada pengusaha di Bali atau Jawa sebelum akhirnya terkirim ke luar negeri. Padahal harga jual ekspor ia nilai jauh lebih menguntungkan.
“Lebih bagus kalau kami bisa ekspor langsung dari Lombok ke luar negeri,” katanya.
Ia berharap pemerintah membantu membuka akses ekspor bagi pelaku usaha lokal. Dengan begitu, nilai ekonomi produk tidak berhenti di daerah perantara.
Belum Mampu Dikelola Desa Sendiri
Kepala Desa Cendimanik, Mahdi mengatakan, industri atap ilalang telah menjadi salah satu penopang ekonomi warga. Menurutnya, hampir 500 warga terlibat dalam rantai produksi kerajinan tersebut.
Mulai dari pencari ilalang, penyedia bambu, pengrajin, hingga tenaga pemasangan. “Ekonomi masyarakat banyak terbantu dari usaha atap ilalang ini,” ujarnya.
Tidak hanya produknya yang menembus pasar internasional. Sejumlah warga juga mendapat pekerjaan memasang atap ilalang di berbagai daerah dan luar negeri.
Meski demikian, Mahdi menilai potensi ekonomi tersebut belum sepenuhnya memberi keuntungan optimal bagi Lombok Barat. Selama jalur ekspor masih bergantung pada daerah lain, posisi pelaku usaha lokal tetap berada di rantai nilai paling bawah.
Padahal produk yang mereka hasilkan sudah membuktikan daya saingnya di pasar dunia. Persoalannya kini bukan lagi soal kualitas produk.
Tantangannya adalah bagaimana pemerintah membantu membuka akses ekspor langsung agar Lombok Barat tidak hanya menjadi produsen. Tetapi juga pemain utama dalam perdagangan global. (*)




