Amdal dan DED Bypass Lembar – Kayangan Belum Dibahas, Menunggu RTRW Kabupaten
Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, belum membahas terkait Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) dan Detail Engineering Design (DED) proyek jalan bypass Lembar – Kayangan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Pemukiman (PUPRPKP) NTB, Lalu Wirajaya Kusuma menyampaikan, rencananya pembahasan Amdal, DED, maupun Feasibility Study (FS) dilakukan 2026 ini. Namun, terkendala Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pemerintah kabupaten.
“RTRW-nya masih berproses di Pemerintah Kabupaten,” kata Wijaya, Jumat, 8 Mei 2026.
Saat ini, pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah terkait penyesuaian RTRW ini. “Sekarang kabupaten bersama provinsi sedang mengusulkan penyesuaian RTRW, jadi kita tidak boleh mendahului itu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kesesuaian RTRW ini menjadi acuan sebelum tahapan pembahasan Amdal dan DED. Karena lewat dokumen RTRW ini, Pemprov bisa mempertimbangkan, mana area yang boleh dan tidak boleh dilalui.
Walaupun, lanjutnya, dalam proyek ini akan lebih banyak menggunakan jalan yang sudah ada (existing) ketimbang membuka jalan baru. Hanya saja, jalan lama ini juga sudah banyak bangunan sehingga penting untuk dikaji dampaknya.
“Nanti treatment-nya (pengerjaannya) akan menggunakan pelebaran (jalan),” jelasnya.
Dari sisi kesiapan anggaran, lanjutnya, Pemprov NTB sudah menganggarkan sekitar Rp1 miliar untuk Amdal dan DED proyek tersebut. Anggarannya bersumber dari APBD.
Hanya saja, untuk mengeksekusinya harus sesuai prosedur yang ada. “Kita tidak ingin proses ini buru-buru dilakukan namun justru melanggar regulasi yang ada,” ujarnya.
Bypass Lembar – Kayangan Melintasi Wilayah Selatan Lombok
Sebelumnya, Mantan Kepala Dinas PUPR NTB, Sadimin mengatakan, ruas jalan bypass ini nantinya akan melintasi wilayah Selatan Lombok, mulai dari Lembar kemudian ke arah Sengkol, Keruak, Labuhan Haji, Korleko, Pohgading baru ke Pringgabaya.
“Jalur ini juga akan melintasi jalur existing yang sudah ada namun dengan volume yang tidak terlalu padat bangunan, karena jika melewati yang sudah banyak bangunan permanen membutuhkan anggaran yang besar,” kata Sadimin.
Secara keseluruhan, lanjut Sadimin, anggaran untuk pengerjaan proyek ini kurang lebih Rp3,5 triliun. Rinciannya, bypass satu dari Patung Sapi Gerung sampai Bundaran Bandara Internasional Lombok (BIL) dengan panjang lintasan sekitar 20,4 kilometer, anggarannya sekitar Rp700 miliar.
“Kemudian jalan Sengkol – Pringgabaya sekitar Rp2,8 triliun. Panjang jalannya nanti tergantung trasenya, antara 50-55 kilometer,” ungkapnya.
Sadimin mengatakan, khusus di Lombok Tengah akan melintasi beberapa ruas jalan kabupaten, karena di sana lahan sawahnya sudah masuk Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B). “Jadi syaratnya susah, kalau di masyarakat yang pemukiman padat mahal,” kata Sadimin. (*)




