Pemerintahan

Penemuan Kasus TBC di NTB Capai 61,31 Persen

Mataram (NTBSatu) – Capaian penemuan kasus tuberkulosis (TBC) di Provinsi NTB terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Pada 2025, angka penemuan kasus mencapai 61,31 persen. Meski demikian, capaian tersebut masih berada di bawah target nasional sebesar 90 persen.

Data yang NTBSatu himpun dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB mencatat, capaian penemuan kasus TBC pada 2021 sebesar 34,93 persen. Angka itu meningkat menjadi 43,25 persen pada 2022.

Capaian tersebut kembali naik menjadi 53,83 persen pada 2023, mencapai 58,96 persen pada 2024. Kemudian, meningkat menjadi 61,31 persen pada 2025.

IKLAN

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM., MARS., mengatakan peningkatan penemuan kasus menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan TBC.

“Semakin banyak kasus TBC yang kita temukan dan obati, semakin besar peluang kita untuk mencegah penularan di masyarakat. Namun, capaian penemuan kasus masih perlu kita tingkatkan untuk mencapai target 90 persen,” ujarnya, Kamis, 11 Juni 2026.

Menurut Fikri, Pemprov NTB terus memperkuat upaya percepatan eliminasi TBC melalui implementasi Peraturan Gubernur tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan TBC 2024–2026.

IKLAN

RAD tersebut menjadi landasan untuk memperkuat penemuan kasus, investigasi kontak, serta pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) secara terintegrasi di seluruh kabupaten dan kota di NTB.

“Kita terus memperkuat kolaborasi pemerintah dan masyarakat. Termasuk meningkatkan peran kader melalui Desa Berdaya Transformatif dan Desa Siaga TBC,” katanya.

Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi NTB akan memperluas kerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD), BAZNAS, serta berbagai mitra lainnya. Dinas Kesehatan juga mendorong keterlibatan masyarakat sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO) guna memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.

Di sisi lain, capaian Terapi Pencegahan Tuberkulosis di NTB masih rendah. Pada 2025, cakupan TPT baru mencapai 4,53 persen atau jauh di bawah target sebesar 72 persen.

“Karena itu, kita akan mempercepat pemberian terapi pencegahan kepada kelompok berisiko tinggi, terutama kontak erat pasien TBC dan kelompok rentan lainnya,” katanya.

Sementara itu, angka keberhasilan pengobatan TBC di NTB mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir. Setelah melampaui target nasional pada periode 2021 hingga 2023, capaian keberhasilan pengobatan turun menjadi 88,54 persen pada 2024 dan kembali menurun menjadi 87,51 persen pada 2025.

Jumlah Kematian Meningkat

Dinas Kesehatan Provinsi NTB juga mencatat jumlah kematian selama pengobatan TBC menunjukkan tren peningkatan. Pada 2021, jumlah kematian mencapai 296 kasus, kemudian meningkat menjadi 322 kasus pada 2022.

Jumlah tersebut melonjak menjadi 709 kasus pada 2023, tercatat 708 kasus pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 803 kasus pada 2025.

Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian serius untuk memperkuat deteksi dini, meningkatkan kualitas layanan kesehatan, serta memperbaiki tata laksana pasien yang memiliki penyakit penyerta.

“Masyarakat juga perlu mengenali gejala TBC dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk selama dua minggu atau lebih,” ujarnya.

Fikri mengajak seluruh elemen masyarakat mendukung gerakan TOSS TBC (Temukan, Obati, Sampai Sembuh) sebagai langkah menuju eliminasi TBC pada 2030. (*)

Artikel Terkait