Opini

Setelah Ajang MotoGP: Apa Manfaat Ekonomi yang Terus Bertahan?

Oleh: Sambirang Ahmadi – Ketua Komisi III DPRD NTB

Ajang MotoGP Mandalika 2026 telah usai. Sukses menghadirkan lebih dari 157 ribu penonton. Banyak yang merasakan berkahnya: hotel, restoran, transportasi, UMKM dan aneka jasa-usaha lainnya. Namun, setelah pembalap dan penonton meninggalkan Mandalika, kita patut bertanya: manfaat ekonomi apa yang terus bertahan bagi masyarakat NTB?

Saya tertarik merespon opini publik mengenai dampak ekonomi MotoGP. Salah satu tokoh NTB, Ali Bin Dachlan -mantan Bupati Lombok Timur- mempertanyakan klaim pemerintah soal dampak ekonomi yang diproyeksikan tembus Rp5 triliun, sementara penyelenggara disebut mengalami kerugian finansial. Kemudian Pemerintah Provinsi NTB, melalui jubirnya, Ahsanul Khalik, memberikan perspektif berbeda bahwa kerugian perusahaan tidak otomatis berarti kerugian ekonomi daerah.

Kedua pandangan tersebut perlu ditempatkan secara proporsional. Kerugian finansial memang membutuhkan evaluasi, tetapi manfaat ekonomi suatu kegiatan tidak dapat dinilai hanya dari neraca perusahaan penyelenggara.

MotoGP merupakan ajang olahraga internasional yang menjadi bagian dari strategi pariwisata nasional. NTB memperoleh kesempatan besar karena Mandalika dipilih sebagai lokasi penyelenggaraannya. Karena itu, perhatian kita tidak seharusnya berhenti pada perdebatan untung-rugi, tetapi bergerak menuju persoalan yang lebih strategis: bagaimana mempertahankan kepercayaan sebagai tuan rumah kegiatan dunia dan memperbesar manfaat ekonominya bagi masyarakat.

Adakah Manfaat Ekonomi yang Terus Bertahan?

Kajian Lembaga Teknologi Manajemen Industri (LETMI) ITB yang dipublikasikan ITDC memperkirakan dampak ekonomi nasional MotoGP 2025 sekitar Rp4,96 triliun. Untuk 2026, dampaknya diproyeksikan tembus Rp5 triliun. Angka tersebut menunjukkan tingkat skala aktivitas ekonomi yang jumbo. Tentu ini  bukan gambaran tambahan manfaat bersih yang sudah didapatkan.

Dalam ekonomi, kita perlu membedakan dampak sesaat (temporary impact) dengan manfaat yang bertahan (lasting economic legacy). Hotel yang penuh dan transaksi yang masif selama penyelenggararaan adalah dampak sesaat. Pertanyaannya, seberapa lama manfaat ekonominya bertahan? Jika wisatawan datang kembali berkunjung, UMKM telah  memperoleh pelanggan baru, tenaga kerja semakin meningkat keterampilannya, usaha lokal dapat mengantongi kontrak pasokan berkelanjutan, maka itulah bentuk manfaat yang dapat terus bertahan. Mestinya ke konteks inilah segala perhatian kita arahkan. 

Sebagai ilustrasi, sebuah hotel memperoleh pendapatan Rp1 milyar selama MotoGP. Sebagian pendapatan tersebut digunakan untuk membeli bahan makanan dan jasa pendukung. Jika sebagian besar kebutuhan didatangkan dari luar NTB, maka sebagian uang yang berputar tentu akan terbang lagi ke luar daerah. Kondisi inilah yang disebut dalam kajian ekonomi regional sebagai economic leakage atau kebocoran ekonomi.

Sebaliknya, ketika hotel dan restoran membeli hasil pertanian, perikanan, peternakan, serta produk industri lokal, manfaatnya akan menyebar kepada lebih banyak masyarakat. Hubungan antarsektor inilah (backward and forward linkages) yang harus terus diciptakan dan dipertahankan. Dengan demikian, keberhasilan MotoGP tidak cukup diukur dari banyaknya transaksi selama penyelenggaraan, tetapi juga dari nilai tambah yang tercipta, tertahan, dan terus berkembang dalam perekonomian NTB.

Investasi Besar Harus Semakin Produktif

Mandalika telah dibangun melalui investasi yang tidak kecil. Menurut ITDC, investasi kumulatif di kawasan tersebut hingga akhir 2025 mencapai sekitar Rp6,018 triliun, mencakup investasi berbagai pihak. Pembangunan sirkuit sendiri telah memakan biaya sekitar Rp1,1–1,2 triliun.

Besarnya investasi tersebut menuntut optimalisasi pemanfaatan kawasan. Dalam teori ekonomi dikenal konsep sunk cost, yakni biaya masa lalu yang tidak dapat dipulihkan. Artinya, ketika infrastruktur telah tersedia, keputusan ke depan perlu berorientasi pada pemanfaatan yang semakin produktif. Namun, konsep ini tidak berarti setiap kegiatan harus diselenggarakan tanpa mempertimbangkan biaya. Melalui pendekatan Cost-Benefit Analysis (CBA), setiap kegiatan perlu dievaluasi berdasarkan tambahan manfaat ekonomi dan sosial dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan.

Sirkuit yang jarang digunakan tetap membutuhkan pemeliharaan. Sebaliknya, sirkuit yang dimanfaatkan secara terencana dapat menciptakan permintaan berulang terhadap hotel, restoran, transportasi, tenaga kerja, dan berbagai jasa pendukung. Karena itu, tantangan kita bukan hanya mempertahankan MotoGP, tetapi menjadikan Mandalika sebagai aset ekonomi yang produktif sepanjang tahun.

Mandalika Harus Terus Hidup

Semua kita tentu memiliki harapan agar di kawasan Sirkuit Mandalika dapat terus diselenggarakan kegiatan olahraga secara reguler, setidaknya satu kali setiap tiga bulan, meski tidak sekelas MotoGP. Idealnya, ajang kejuaraan otomotif seperti balap motor nasional, balap motor tingkat Asia, balap mobil, kegiatan komunitas otomotif, maupun ajang olahraga lain dapat dihadirkan secara bergiliran di fasilitas sirkuit ini.

Dengan kata lain, dalam satu tahun setidaknya harus terjadi empat even olahraga yang mampu menciptakan aktivitas ekonomi secara terus menerus. Publik juga perlu mengetahui kalender kegiatan sirkuit Mandalika, bahkan harus dilibatkan dalam setiap kegiatan promosi olahraga di kawasan tersebut. Mengapa hal ini penting? Karena pariwisata membutuhkan kesinambungan permintaan. Hotel dan restoran tidak cukup hanya ramai pada satu akhir pekan tertentu, kemudian menghadapi penurunan aktivitas selama berbulan-bulan. Bayangkan jika setiap tiga bulan terdapat kegiatan yang mendatangkan peserta, kru, sponsor, dan pengunjung dari luar daerah. Kebutuhan akomodasi, transportasi, konsumsi, dan berbagai jasa lainnya akan muncul secara berulang. Inilah yang memungkinkan manfaat ekonomi tidak berhenti setelah satu kegiatan berakhir.

Untuk mewujudkannya, diperlukan kerja sama yang lebih kuat antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi NTB, pemerintah kabupaten/kota, ITDC, MGPA, federasi olahraga, serta pelaku industri pariwisata. Upaya menghadirkan lebih banyak kejuaraan nasional dan internasional membutuhkan promosi, jejaring penyelenggara, serta diplomasi olahraga yang aktif pada tingkat nasional maupun internasional.

Kita tentu berharap bahwa pemerintah dan khususnya pengelola kawasan, terus aktif memperjuangkan agar Mandalika tetap masuk dalam kalender berbagai kejuaraan olahraga yang menarik banyak pengunjung datang ke NTB. MotoGP tetap menjadi ajang utama yang memperkuat reputasi Mandalika, sementara kegiatan lainnya diperlukan untuk menjaga kesinambungan aktivitas ekonomi kawasan sepanjang tahun.

Pintu Masuk NTB Makmur Mendunia

Kegiatan internasional adalah pintu promosi NTB di dunia global. Inilah berkah bagi leading sektor pariwisata daerah. Wisatawan yang datang untuk MotoGP mestinya bisa didorong memperpanjang masa tinggalnya dengan mengunjungi Senggigi, Gili Tramena, Sembalun, maupun destinasi di Pulau Sumbawa. Jika sebagian pengunjung datang lebih awal sebelum even berlangsung dan menambah dua atau tiga malam perjalanan setelah kegiatan, permintaan terhadap akomodasi, transportasi, kuliner, dan jasa wisata pasti meningkat. Apalagi jika kebutuhan hotel dan restoran banyak dipenuhi oleh produk petani, nelayan, peternak, dan industri lokal, maka setiap kegiatan  di kawasan Mandalika dengan sendirinya memperkuat sektor-sektor produktif yang menjadi fondasi ekonomi NTB. Kabupaten/kota pasti sangat diuntungkan karena bantalan PADnya terus membaik. Begitu juga provinsi akan mendapat berkah melalui transaksi BBM dan sewa aset yang representatif.

Karena itu, pemerintah perlu segera melakukan evaluasi pascakegiatan untuk mengukur berapa lama wisatawan tinggal di NTB, nilai transaksi usaha lokal, kesempatan kerja, serta penerimaan fiskal yang dapat diatribusikan secara wajar kepada penyelenggaraan kegiatan. Evaluasi tersebut akan membantu memastikan bahwa setiap ajang internasional tidak hanya sekadar menghasilkan hore-hore keramaian sesaat, tetapi juga terbukti dapat memperkuat kapasitas ekonomi daerah dalam jangka panjang. (*)

Artikel Terkait