Ribuan UMKM di Jerowaru Lombok Timur Terkendala Pemasaran
Lombok Timur (NTBSatu) – Sebanyak 1.660 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tersebar di 15 desa di Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Namun, pelaku usaha masih menghadapi kendala pemasaran untuk memperluas jangkauan penjualan produk lokal.
Camat Jerowaru, H. Sirah, mengatakan UMKM di wilayahnya bergerak di berbagai sektor. Selain perdagangan kebutuhan sehari-hari, masyarakat juga mengembangkan usaha olahan hasil laut dan produk khas daerah.
“Kalau UMKM kita di sini, banyaknya sembako, jualan. Kalau hasil olahan, ada rumput laut, kopi mangrove, kerupuk cangkang kepiting, dan garam,” kata Sirah, Rabu, 14 Oktober 2026.
Produk hasil laut Jerowaru bahkan telah menjangkau pasar di luar Lombok. Sejumlah komoditas, seperti udang dan kepiting, memiliki pembeli tetap yang langsung menyerap hasil produksi masyarakat.
Meski demikian, pelaku UMKM masih perlu memperluas pemasaran agar penjualan produk olahan lokal semakin berkembang.
“Kalau ada pesanan, baru dia siapkan. Kalau kita minta menyiapkan barang banyak, sementara pembelinya belum ada, nanti mereka khawatir rugi,” ujarnya.
Menurut Sirah, pelaku usaha perlu memperkuat promosi dan membangun jaringan pelanggan. Selama ini, sebagian pelaku UMKM masih mengandalkan pelanggan tetap dan menunggu pesanan sebelum meningkatkan produksi.
Belum Ada Gerai Bersama
Sirahh mengatakan, Kecamatan Jerowaru belum memiliki gerai khusus yang menghimpun berbagai produk UMKM dalam satu tempat. Para pelaku usaha masih memproduksi dan menjual barang secara mandiri.
“Kalau gerai khusus yang menjual produk UMKM kita, belum ada. Mereka masih di tempatnya masing-masing,” ungkapnya.
Padahal, gerai bersama dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan produk lokal kepada wisatawan. Terlebih, Jerowaru memiliki potensi wisata pesisir dan hasil laut yang melimpah.
Pemerintah kecamatan, kata Sirah, berperan memfasilitasi kebutuhan pelaku usaha. Sementara itu, pelatihan, pembinaan, dan bantuan teknis menjadi kewenangan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di tingkat kabupaten.
“Kalau di kecamatan, kita sebagai fasilitator. Dana dan programnya ada di dinas terkait, termasuk pelatihan dan pembinaan,” jelasnya.
Sejumlah pelaku UMKM juga telah mengikuti pelatihan dari berbagai lembaga. Namun, peningkatan keterampilan tersebut masih perlu diimbangi dengan akses pasar yang lebih luas.
Di sisi lain, pengembangan pariwisata Jerowaru menghadapi tantangan investasi. Sarih menilai, kepemilikan lahan menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi pembangunan hotel dan fasilitas pendukung wisata.
Menurutnya, sebagian pemilik lahan cenderung menunggu kenaikan harga tanah daripada langsung mengembangkannya menjadi usaha pariwisata. Kondisi ini membuat pembangunan akomodasi belum sebanding dengan potensi kawasan pesisir.
“Kalau orang mau membangun hotel, tetapi tanahnya sudah dibeli orang lain, di mana mau membangun? Itu salah satu persoalannya,” tuturnya.
Sirah menilai, pengembangan UMKM dan pariwisata membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Perluasan pemasaran produk lokal dan pengembangan fasilitas wisata diharapkan dapat membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Jerowaru. (*)




