Bertambah, Korban Oknum Pimpinan Ponpes di Lombok Tengah Jadi 15 Orang
Mataram (NTBSatu) – Satu per satu korban dugaan pelecehan seksual oleh oknum Pimpinan Ponpes Abul Barokat Wannafahat, M. Imanuddin Sumar, terus bermunculan. Terbaru, jumlah alumni santriwati yang mengaku pernah menjadi korban pelecehan menjadi 15 orang.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi mengatakan, jumlah ini terus bertambah setelah kasus ini mencuat. Satu per satu dari mereka datang dan bercerita pernah mendapatkan perlakuan tak pantas dari oknum pimpinan ponpes tersebut.
“Kemarin kan 11 orang, sekarang sudah 15 orang yang ngaku jadi korban,” katanya, Minggu, 27 September 2026.
Dari 15 orang tersebut, sambung Joko, 12 orang di antaranya sudah memberikan keterangan di hadapan penyidik Unit PPA Sat Reskrim Polresta Lombok Tengah. Mereka hadir dengan didampingi pihak LPA Kota Mataram.
“Jadi, mereka ini sekarang statusnya sudah menjadi alumni pondok pesantren itu,” ucap akademisi Universitas Mataram (Unram) ini.
Kasat Reskrim Polresta Lombok Tengah, AKP Punguan Hutahaean sebelumnya menyebut, penyidik masih mendalami laporan yang mereka terima sejak Februari 2025 itu. Pengumpulan keterangan dan alat bukti terus berlanjut untuk menentukan langkah hukum selanjutnya.
“Yang jelas penanganan perkara ini menjadi prioritas utama kami. Termasuk mengawal hak santri yang mungkin masih takut melapor,” katanya, Rabu, 23 September 2026.
Penyidik sejauh ini telah mendatangi pondok pesantren yang menjadi lokasi kejadian. Polisi juga membuka ruang bagi korban, saksi, maupun pihak lain yang mengetahui perkara tersebut untuk memberikan keterangan dan menyerahkan barang bukti.
“Jadi sekarang baru diserahkan barang bukti maka kami akan proses cepat,” ujarnya.
Tanggapan Pimpinan Ponpes Terduga Pelaku
Sebelumnya, Pimpinan Ponpes Abul Barokat Wannafahat Bunkate, H M. Imanuddin Sumar menegaskan, seluruh tuduhan tersebut tidak benar dan tidak mendasar.
Ia juga memberikan klarifikasi terkait rekaman suara yang tayang dalam pemberitaan BBC News. Ia menegaskan, rekaman tersebut bukan merupakan pengakuan.
Menurutnya, percakapan dalam rekaman itu merupakan bagian dari upaya tabayun atau klarifikasi bersama Yusron dan sejumlah santri yang disebut dalam dokumen sebagai pihak yang diduga menjadi korban.
Ia mengklaim, melakukan langkah tersebut secara persuasif untuk menepis isu yang menurutnya berkembang dari sebuah draf teks berisi klaim sepihak.
“Langkah ini saya ambil secara persuasif untuk menepis isu miring yang tersebar dalam bentuk draf teks berisi klaim sepihak dari terduga korban. Agar tidak menjadi liar dan berkembang menjadi opini publik yang buruk,” katanya saat konferensi pers di Hotel Kautaman, Kota Mataram, Rabu 23 September 2026.
Imanuddin juga menegaskan persoalan tersebut merupakan masalah pribadi dan tidak berkaitan dengan institusi Pondok Pesantren Abul Barokat.
Ia mengaku khawatir pemberitaan yang berkembang berdampak terhadap keberlangsungan aktivitas belajar-mengajar di pesantren.
Karena itu, ia menyatakan telah mengambil keputusan untuk mundur dari seluruh jabatan yang ia embang di Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat Bunkate maupun pesantren lainnya. Posisinya kemudian digantikan oleh Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB).
“Saya mengambil keputusan besar, dengan hati yang ikhlas untuk mundur dan melepas semua jabatan saya,” ucap Imanudin. (*)




