Pasar Karbon Buka Peluang Ekonomi Baru bagi Pembudidaya Rumput Laut Lombok Timur

Lombok Timur (NTBSatu) – Rumput laut dari perairan Lombok Timur berpeluang masuk ke pasar perdagangan karbon. Sebuah perusahaan berencana membeli rumput laut dengan harga di atas pasar, lalu menenggelamkannya ke laut dalam untuk menyimpan karbon yang terserap selama proses budidaya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lombok Timur, Muhammad Tasywiruddin mengatakan, rencana tersebut masih dalam tahap penjajakan. Namun, perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran karbon itu telah mengantongi izin dari pemerintah pusat, termasuk izin lokasi penenggelaman rumput laut.
“Konsepnya, rumput laut menyerap karbon. Setelah itu, perusahaan membeli rumput laut dan menenggelamkannya di laut dalam agar karbon yang sudah terserap tidak kembali ke lingkungan,” ujarnya, Senin, 14 September 2026.
Rumput Laut untuk Simpan Karbon
Tasywiruddin menjelaskan, perusahaan tersebut berencana menenggelamkan rumput laut di kedalaman hingga 1.000 meter. Pemerintah juga telah menetapkan lokasi penenggelaman di kawasan laut selatan Lombok-Sumbawa dengan luas sekitar tiga hektare.
Menurutnya, perusahaan akan membeli rumput laut yang memenuhi kriteria tertentu, termasuk hasil budidaya yang menerapkan proses rendah emisi.
Petani yang menggunakan dayung, bukan mesin, untuk menuju lokasi budidaya berpotensi memperoleh harga pembelian lebih tinggi.
Begitu pula dengan pembudidaya yang mengurangi penggunaan plastik dalam proses produksi. Perusahaan akan memperhitungkan praktik budidaya tersebut dalam penentuan harga.
“Kalau proses budidayanya tidak banyak mengeluarkan karbon, harganya bisa lebih tinggi. Misalnya, petani menggunakan dayung dan tidak memakai plastik,” ujarnya.
Tasywiruddin menyebut, perusahaan itu berencana membeli rumput laut basah berdasarkan jumlah karbon yang terserap. Sebagai ilustrasi, pembelian 50 ton karbon akan dikonversi menjadi sekitar 50 ton rumput laut basah.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa rencana tersebut belum berjalan. Pemerintah masih menunggu pelaksanaan teknis dan perkembangan kerja sama dengan perusahaan.
Ekas dan Seriwe Punya Potensi
Selain peluang perdagangan karbon, DKP Lombok Timur juga berupaya meningkatkan nilai ekonomi rumput laut yang tumbuh alami di perairan daerah tersebut.
Tasywiruddin menyebut, rumput laut jenis Sargassum di Teluk Ekas sebagai salah satu komoditas yang berpotensi dikembangkan.
Masyarakat biasanya memanen rumput laut tersebut ketika ada permintaan, tetapi harga jualnya masih rendah, sekitar Rp1.000 per kilogram.
Padahal, menurut Tasywiruddin, Sargassum mengandung sitokinin, yakni hormon yang dapat dimanfaatkan sebagai zat pemacu tumbuh pada tanaman.
“Kami sedang berkomunikasi dengan pemerintah pusat agar memperoleh fasilitas dan teknologi untuk mengekstrak sitokinin dari Sargassum. Dengan begitu, rumput laut ini bisa memiliki nilai tambah,” katanya.
DKP juga berharap pembangunan laboratorium rumput laut Universitas Mataram di Ekas dapat mendukung pengembangan komoditas tersebut.
Di sisi lain, budidaya rumput laut di Seriwe masih berjalan. Sementara itu, sebagian besar masyarakat Ekas mulai beralih ke budidaya lobster karena melihat peluang ekonomi yang lebih besar.
“Ada sekitar dua atau tiga kelompok yang memang masih eksis dalam budidaya rumput laut,” kata Tasywiruddin.
Pemerintah juga menjajaki pasar baru ke Sumba Timur. Menurutnya, BUMD di daerah tersebut memiliki fasilitas pengolahan rumput laut dan tertarik membeli rumput laut dari Lombok Timur karena harganya relatif lebih murah.
Selain itu, DKP menghadapi kendala keterbatasan anggaran untuk membantu pembudidaya. Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah tidak memperoleh Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk program bantuan masyarakat kelautan dan perikanan.
“Kami berharap pemerintah pusat bisa memberikan bantuan yang dibutuhkan masyarakat, termasuk dukungan untuk pengembangan rumput laut,” pungkasnya. (*)




