Sampah Organik Diolah Jadi Cuan
Mataram (NTBSatu) – Warga Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kota Mataram, kini punya peluang baru menghasilkan pendapatan melalui pengolahan sampah organik berbasis maggot.
Lurah Tanjung Karang Permai, Nani Nurkomala mengatakan, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram menghadirkan pusat pengolahan sampah organik berbasis maggot melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).
Fasilitas tersebut resmi beroperasi Kamis, 10 September 2026. Kehadirannya menjadi salah satu upaya mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Nani mengatakan, pertumbuhan penduduk dan konsumsi masyarakat terus meningkatkan volume sampah. Kondisi itu membuat pemerintah perlu mendorong pola pengelolaan sampah yang lebih efektif.
Kapasitas TPA Kebon Kongok yang terbatas juga mendorong perubahan pola pengelolaan sampah. Pemerintah kini mengajak masyarakat meninggalkan pola “ambil dan buang” menuju pemilahan serta pengolahan sampah agar menghasilkan nilai ekonomi.
“Persoalan sampah tidak bisa lagi dengan pola lama, ambil kemudian buang. Sekarang kita dorong menjadi komoditas yang memiliki produktivitas,” katanya, Minggu, 13 September 2026.
Saat ini, sekitar 43 warung mulai memilah sampah organik dan anorganik. Warga kemudian mengumpulkan sampah organik yang sesuai untuk pakan maggot dan membawanya ke pusat pengolahan.
Pengelola juga menerima sampah dari lingkungan sekitar, termasuk sekolah serta kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG). Sampah organik tersebut selanjutnya masuk proses pengolahan menggunakan maggot.
Menurut Nani, sekitar 10 pekerja kini terlibat dalam pengelolaan sampah tersebut. Mereka memperoleh penghasilan dari aktivitas pengolahan sampah.
Sebelum menjalankan kegiatan, masyarakat mengikuti pelatihan pengolahan sampah dari PLN EPI. Pelatihan tersebut membekali warga dengan pengetahuan dan keterampilan mengelola sampah sekaligus mengembangkan potensi ekonominya.
“Nilai ekonominya sangat luar biasa. Sudah ada mata pencaharian baru bagi warga, khususnya di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Pengelolaan sampah berbasis maggot tersebut diharapkan terus berkembang sehingga mampu mengurangi volume sampah menuju TPA Kebon Kongok sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. (*)




