HiburanKulinerLombok Timur

20 Tahun Menjaga Rasa Temerodok

Lombok Timur (NTBSatu) – Gubuk sederhana itu berdiri rapuh di pinggir jalan Sakra. Kayu-kayunya tampak menua, tetapi dari tempat itulah Qamariyah masih menjaga salah satu jejak kuliner tradisional Sakra, Temerodok.

Usianya tak lagi muda. Namun, tangannya masih telaten mengolah tepung ketan, telur, gula, dan minyak menjadi Temerodok. Satu per satu ia kerjakan dengan sabar, meski pembeli tak seramai dulu.

Lebih dari 20 tahun Qamariyah menjalani pekerjaan itu. Ia mulai berjualan sejak awal 2000-an, tak lama setelah menikah dan menetap di Sakra.

IKLAN

Waktu mengubah banyak hal. Harga bahan baku terus bergerak naik, sementara peminat Temerodok justru semakin berkurang.

“Sekarang dua tahun ini ramai pas haji saja. Setelah itu sepi,” cerita Qamariyah kepada NTBSatu, Kamis, 10 September 2026.

Musim haji menjadi salah satu sedikit momentum ketika dagangannya kembali ramai. Dalam sehari, penjualannya bahkan bisa mencapai sekitar Rp500 ribu.

IKLAN

Di luar momentum itu, Qamariyah harus menerima hari-hari panjang dengan pembeli yang datang satu per satu. Tak jarang, dagangannya hanya menghasilkan uang receh.

“Kadang satu hari seribu rupiahpun saya tidak dapat. Tapi sampai empat hari saya tetap jualan,” ujarnya.

Ia tidak berhenti. Bukan karena keuntungan yang besar. Justru sebaliknya, Qamariyah mengaku keuntungan dari Temerodok kini semakin tipis.

Tepung ketan, salah satu bahan utama, menjadi beban tersendiri. Harganya yang dulu sekitar Rp140 ribu kini bisa mencapai Rp300 ribu untuk kemasan yang biasa ia beli.

Kenaikan bahan membuat ruang keuntungan semakin sempit. Namun, menaikkan harga jual juga bukan pilihan mudah karena ia memahami kemampuan pembelinya.

“Untung sedikit saja kita ini. Makin sepi, harganya makin mahal. Tapi kita ikhlas,” katanya.

Bukan Sekadar Jajanan

Di tangan Qamariyah, Temerodok bukan sekadar makanan yang berpindah dari dapur ke tangan pembeli.

Ada pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan ingatan masyarakat Sakra yang ikut melekat di dalamnya.

Temerodok menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat Sakra. Pemerintah bahkan menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB).

Status itu membuat Temerodok tidak cukup hanya dikenang sebagai jajanan tradisional. Masyarakat juga perlu menjaga pengetahuan dan keterampilan membuatnya agar tidak berhenti pada satu generasi.

Qamariyah mungkin tidak berbicara dengan istilah pelestarian budaya. Ia hanya tahu satu hal: selama masih ada yang membeli, ia akan terus membuatnya.

Setiap kali tepung ketan ia olah dan Temerodok ia jajakan, ada tradisi yang terus bergerak di tengah perubahan zaman. “Pokoknya ada, tidak ada, tetap. Kita mikir bagus saja,” tuturnya.

Bagi Qamariyah, bertahan selama puluhan tahun bukan perkara mudah. Ia pernah menghadapi sepinya pembeli, mahalnya bahan baku, hingga keuntungan yang nyaris tak tersisa. Tetapi ia memilih tetap sabar.

“Sambil kita ini sedekah. Biar lancar. Kita kerjakan saja, niat karena Allah,” ucapnya.

Dari gubuk kecil di pinggir jalan Sakra itu, Temerodok terus menemukan jalannya untuk bertahan.

Mungkin tidak lagi seramai dahulu. Mungkin keuntungan yang Qamariyah dapat hanya cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Namun, selama tangan Qamariyah masih mengolahnya, selama ada pembeli yang datang, dan selama pengetahuan itu masih berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, Temerodok belum benar-benar kehilangan rumahnya.

Di balik jajanan kecil itu, ada perempuan yang memilih bertahan. Dan di balik keteguhan perempuan itu, ada warisan budaya yang sedang berusaha tetap hidup. (*)

Artikel Terkait