Kemarau Panjang Sebabkan Bunut Ngengkang Kering
Lombok Barat (NTBSatu) – Kemarau panjang mulai mengubah wajah Bunut Ngengkang, Desa Buwun Sejati, Narmada, Lombok Barat. Destinasi pemandian alami tersebut kini mengalami kekeringan setelah debit air terus menyusut.
Kepala Desa Buwun Sejati, Muhidin, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut, kondisi tersebut memang musiman.
“Ya benar, sekarang sudah kering. Karena memang kalau Bunut Ngengkang itu wisata musiman,” kata Muhidin kepada NTBSatu, Senin, 7 September 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan fenomena baru bagi Bunut Ngengkang. Destinasi tersebut memang bergantung pada aliran air bawah tanah.
“Kalau sudah musim kering ya kering sudah. Karena memang sudah sejak dulu seperti itu,” ujarnya.
Muhidin mengatakan, air Bunut Ngengkang mulai surut sekitar sebulan terakhir. Kondisi tersebut semakin parah hingga akhirnya sumber air benar-benar mengering.
“Sejak musim kemarau kemarin, sudah mulai agak surut-surut airnya. Kurang lebih sudah sebulanan lah,” katanya.
Berbeda dengan sungai atau mata air yang memiliki aliran permukaan. Bunut Ngengkang mengandalkan arus bawah tanah. Karena itu, kemunculan air di lokasi tersebut memiliki pola yang berbeda.
Muhidin mengatakan, warga biasanya mengenali tanda-tanda sebelum air kembali muncul. “Begitu mau datang air biasanya ada tandanya, kayak ada suara gemuruh dari dalam tanah gitu. Begitu kayak gitu, langsung sudah airnya keluar dari dasar bumi,” ujarnya.
Muhidin menegaskan, Bunut Ngengkang tidak memiliki aliran air dari permukaan. Kondisi tersebut membuat aktivitas wisata di Bunut Ngengkang sangat bergantung pada musim.
“Memang Bunut Ngengkang ini arus dalam tanah, gak ada aliran,” ujarnya.
Aik Nyet Mulai Kekurangan Debit
Sementara itu, kondisi berbeda terlihat di kawasan wisata Aik Nyet. Lokasi tersebut berada di bagian utara kawasan Buwun Sejati.
Muhidin mengatakan, sumber air di Aik Nyet masih mengalir meski debitnya menurun. “Kecuali yang wisata Aik Nyet yang ada di Utara itu, di induknya itu, memang air tetap mengalir, cuman debitnya agak kurang,” katanya.
Kondisi Bunut Ngengkang merupakan cerminan dari kemarau yang melanda Lombok Barat. Kekeringan di Lombok Barat diprediksi berlangsung hingga November 2026.
Dampaknya sudah meluas ke kebutuhan dasar masyarakat. Sebanyak 62 dusun di 16 desa mengalami krisis air bersih.
Kondisi tersebut tersebar di enam kecamatan di Lombok Barat. Sekitar 6.578 kepala keluarga atau 19.337 jiwa ikut terdampak.
Kekeringan juga mulai menekan sektor pertanian masyarakat. Ratusan hektare lahan pertanian terancam mengalami gagal panen akibat minimnya pasokan air. (*)




