PemerintahanSumbawa Barat

Enam Kecamatan di Sumbawa Barat Siaga Darurat Kekeringan

Sumbawa Barat (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa Barat menetapkan status siaga darurat kekeringan di enam kecamatan. Penetapan status ini menyusul peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sepanjang musim kemarau.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KSB, Abdullah menyatakan, kebijakan ini merujuk pada hasil rapat koordinasi dan Surat Keputusan (SK) Siaga Darurat yang Bupati Sumbawa Barat terbitkan.

Dari delapan kecamatan di KSB, hanya dua wilayah yang tidak masuk dalam status siaga darurat tersebut. “Kalau dilihat dari hasil rapat dan SK siaga, enam kecamatan di Sumbawa Barat masuk kategori siaga darurat kekeringan. Dua kecamatan yang tidak termasuk yakni Brang Ene dan Brang Rea,” ujarnya kepada NTBSatu, Kamis, 3 September 2026.

IKLAN

Ancaman Karhutla dan Mitigasi BPBD

Abdullah menjelaskan, ancaman kekeringan kali ini berbanding lurus dengan tingginya risiko Karhutla. Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, aktivitas pembakaran di sekitar lahan warga memicu sejumlah insiden kebakaran belakangan ini.

“Baru-baru ini ada beberapa titik yang kami identifikasi, ada di belakang Polres, rumah di Kertasari dan beberapa kebakaran lahan akibat pembakaran sampah oleh warga,” ujarnya.

Mengantisipasi dampak yang lebih luas, Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah menerbitkan Surat Edaran Nomor 300.2.3/49/BPBD/2026 tentang Kewaspadaan Kekeringan serta Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla tertanggal 24 Agustus 2026.

IKLAN

Edaran ini ditujukan kepada pemerintah kecamatan, pemdes, dunia usaha, hingga masyarakat umum sebagai acuan kesiapsiagaan.

“Memang sangat rawan melakukan pembakaran saat ini. Oleh karena itu, ada surat edaran dari Bupati,” tegas Abdullah.

Selain Karhutla, BPBD KSB juga memetakan kebutuhan air bersih di wilayah siaga. Beberapa desa tercatat sudah mengajukan permohonan bantuan distribusi air.

“Yang sudah tanggap itu Desa Seloto, ada masuk lagi permohonan dari Lamusung, Senayan, Desa Poto Tano dan Tambak Sari,” bebernya.

Meski demikian, BPBD mencatat kondisi sumber air di sebagian besar wilayah terdampak masih dalam batas aman, dengan debit air sumur warga yang relatif mencukupi.

“Rata-rata debit air sumur masih ada, tapi kita tetap melakukan mitigasi dan persiapan,” imbuhnya.

Ia pun mengimbau warga agar menahan diri dari aktivitas pembakaran sampah maupun pembersihan lahan menggunakan api selama musim kemarau.

“Mitigasi ini penting untuk menghindari kebakaran yang dapat meluas dan mengancam permukiman maupun lahan masyarakat,” pungkas Abdullah. (*)

Artikel Terkait