Lombok Barat

Kondisi TWA Suranadi Lombok Barat Lampaui Masa Keemasan, Fasilitas Mulai Lapuk

Mataram (NTBSatu) – Taman Wisata Alam (TWA) Suranadi di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, NTB, mengalami penurunan kondisi fasilitas dan kebersihan kawasan.

Pihak pengelola mengonfirmasi keterbatasan anggaran serta faktor kelembapan hutan menjadi penyebab utama pelapukan sejumlah infrastruktur di dalam kawasan konservasi tersebut.

​Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BKSDAE) NTB, Tri Endang Wahyuni, membenarkan kondisi fisik fasilitas di lokasi yang mulai memprihatinkan tersebut.

IKLAN

​”Ya, bangunan di hutan yang super lembab akan cepat berlumut. Dan memang tidak setiap tahun ada biaya perawatan,” ujarnya kepada NTBSatu pada Jumat, 28 Agustus 2026.

​Rincian Kerusakan Fasilitas dan Kerindangan Hutan

​Pantauan dari video yang beredar memperlihatkan kondisi infrastruktur pendukung yang terbengkalai di beberapa titik. Di area permainan anak, rangka jungkitan besi tampak berkarat dan kusam akibat terpapar cuaca.

Bangunan gazebo bertatap genting serta pos pemantauan kayu di sekitarnya juga mengalami pelapukan dinding dan atap yang cukup parah. ​Selain kerusakan sarana, tumpukan dedaunan kering memadati hampir seluruh area pejalan kaki, tapak beton meliuk, hingga pelataran bangku taman berbahan besi.

IKLAN

Di area tengah, kolam alami yang berada di bawah naungan pepohonan rimbun tampak tenang. Namun, bagian pinggirannya dipenuhi runtuhan ranting dan sampah organik.

​Sebuah jembatan beton dengan pilar batu alam masih berdiri menyeberangi kawasan. Tetapi suasana di sekitarnya tampak sepi tanpa aktivitas pemeliharaan maupun wisatawan.

Pada area luar, pintu gerbang bercat kuning khas TWA Suranadi juga terlihat lengang, hanya dihuni beberapa ekor anjing liar yang berkeliaran di tepi jalan raya.

​TWA Suranadi dengan Segala Kenangan

​Kondisi terkini TWA Suranadi memicu perhatian publik yang mengenang masa kejayaan kawasan ini sebagai destinasi rekreasi unggulan keluarga di Lombok. Narasi perubahan kondisi lokasi beredar di media sosial melalui unggahan video berdurasi pendek.

​”TWA Suranadi dengan Segala Kenangan,” tulis warganet, mengutip akun Instagram @lombokhype_ pada Jumat, 28 Agustus 2026.

​Kutipan visual tersebut memperlihatkan kontras antara popularitas TWA Suranadi di masa lalu dengan realita kondisinya saat ini. Penurunan jumlah pengunjung serta tidak tersedianya alokasi anggaran pemeliharaan rutin secara langsung memengaruhi kenyamanan dan daya tarik kawasan konservasi berbasis wisata alam ini. (*)

Artikel Terkait